Vincent mengelus rambut Rara pelan.
Sekarang kira-kira sudah jam setengah dua belas malam, dan Rara nginep gara-gara males pulang. Tadi mereka movie marathon lagi, tapi Rara ketiduran.
Mereka berdua masih berada di ranjang tadi.
Tenang aja.. Gak ada apa-apa kok! Tenang. Jangan mikir macem-macem dulu.
Vincent tersenyum memandang Rara yang meluk badannya manja. Ia memperhatikan wajah gadis itu. Matanya yang tertutup, hidungnya yang mancung, dan bibirnya yang merah.
Walaupun tertidur, wajah Rara tetap mirip malaikat.
Vincent melepas tangan Rara dari tubuhnya agar gadis itu tidak bangun. Setelah memastikan Rara tidak memeluknya lagi, Vincent segera bangkit berdiri.
Vincent mengambil baju gantinya dan pergi ke kamar mandi. Biasanya sih Vincent langsung tuker baju di kamar. Tapi berhubung ada Rara di kamarnya, ya gitu. Ribet urusannya kalo Rara bangun terus ngeliat Vincent tuker baju.
Malunya itu loh.
Vincent membuka pakaiannya dan masuk ke bilik kamar mandi. Vincent memutar keran air menjadi paling dingin. Demi apapun tubuhnya panas. Deket-deket Rara itu.... something.
Vincent membiarkan air mengalir dari keran menuju ke kepalanya, tubuhnya, dan seterusnya. Vincent menggerakan tangannya untuk mengambil sabun.
Tiba-tiba kepalanya terasa pusing. Bukan pusing biasa, melainkan sakit seperti kepalanya dipukul berkali-kali. Vincent jatuh di lantai kamar mandi sambil memegang kepalanya yang sakit.
Pandangannya tiba-tiba menggelap, lalu terang lagi karena cahaya. Gelap lagi, lalu kembali terang. Begitu seterusnya sampai hanya ada sedikit cahaya yang masuk ke dalam matanya.
"Tolong," bisik Vincent sebelum semuanya menjadi gelap.
*
Rara terbangun dari tidurnya. Entahlah. Setelah mimpi buruk tentang Vincent yang dibawa pergi oleh entah siapapun dan dirinya dibunuh, Rara langsung bangun. Taulah. Perasaan lo mau jatoh tapi lo masih di ranjang.
Percayalah.. Semua orang pasti pernah ngerasain itu.
Rara melihat ke kiri dan ke kanan. Tidak ada Vincent. Tidak ada siapapun. Ia menjadi semakin was-was setelah mimpi tadi. Walaupun sedikit bingung, Rara langsung melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Panggilan alam bro. Panggilan alam itu gak bisa ditahan!
Rara membuka pintu kamar mandi dengan pelan. Matanya seketika membulat saat melihat Vincent tergeletak di lantai kamar mandi dengan darah mengalir dari hidungnya. "Astaga," satu kata itu bukan karena Rara melihat Vincent pingsan, melainkan tubuhnya yang tidak tertutupi sehelai benangpun.
Rara buru-buru mengambil handphonenya dan langsung menelfon rumah sakit. Setelah memberitahu keadaan yang terjadi, ia mengambil sebuah handuk yang tergantung di pintu kamar mandi dan membungkus tubuh Vincent dengan handuk itu.
Gak dibungkus kayak lemper juga sih, ditutupin doang.
"Gue gak liat, gue gak liat..." Rara mengulang kata itu berkali-kali.
Sekarang yang Rara bisa lakukan hanya satu, menunggu. For your information, Rara benci menunggu.
Ia menghapus darah yang keluar dari hidung Vincent dengan tangannya. Rasa panik dan takutpun akhirnya menyelimutinya. Pendarahan.
"Please, jangan tinggalin gue. Lo gak boleh mati sekarang! Kita belom piknik bareng, kita belom have fun bareng. Banyak yang belom kita lakuin, Vince! Please, jangan pergi!" Rara menangis sambil mengelus pipi Vincent.
KAMU SEDANG MEMBACA
ask.me
Teen FictionSemua berawal dari segmen yang dibuat Rara di Radiouth, ask.me! dimana semua orang boleh bertanya, curhat, atau menyampaikan pesan melalui ask.fm. Disaat semua orang berburu untuk bertanya pada sang ratu kampus itu, Vincent hanya diam menden...
