"Ra, makan gih. Pesen apa aja, nanti gue yang bayar. Sebulan ini makan lo gak teratur," pinta Yuna yang khawatir melihat perubahan Rara yang drastis. Rara masih terlihat cantik, seperti biasa, tapi berat badannya menurun 2 kg karena banyak pikiran dan suka melewatkan jam makannya.
Sudah sebulan sejak kecelakaan Vincent, dan sekarang mereka lagi duduk-duduk di Vintage Cafe. Mereka duduk di pojok cafe, paling pojok. Mereka nyaris tidak terlihat, tapi mereka bisa melihat ke segala sudut di ruangan itu.
"Na, salah gak sih kalo gue nyerah?" tanya Rara tiba-tiba. "Gue kayaknya gak kuat buat bikin Vincent inget gue."
"Lo mau nyerah?"
Rara mengangguk. "Suatu hubungan butuh dua sisi, Yun. Tapi di hubungan ini, cuman gue doang yang berusaha. Buat apa gue berjuang kalau ujungnya juga sia-sia?"
"Gak salah sih. Semua orang juga punya batas kesabaran..." jawab Yuna lalu meminum macchiato-nya.
"Tapi gue berasa ada yang aneh sama Vincent, Yun."
"Aneh gimana?"
"Dia kayak berusaha ngejauh dari gue. Harusnya kita jalan berdua hari ini, terus dinner di Vintage Cafe, sekalian malem minggu. Tapi dia nolak. Kemaren-kemaren dia juga kayak gitu.."
"Loh? Kenapa nolak coba?"
"Kalo gue tau, gue juga kasih tau, Yun," jawab Rara kesal. "Gue capek. Capek diginiin terus. Capek gak dianggep. Gue nyerah deh, Yun. Terserah deh Vincent mau inget gue atau engga..." kata Rara sambil menghapus air matanya.
"Jadi lo mau apa? Putus?"
Rara hanya mengangkat bahunya, lalu memandang kosong ke arah pintu masuk yang baru terbuka. Seketika tubuh Rara membeku. Di depan pintu ada Vincent.
Bersama Charisma.
*
"Lo yakin mau ngelakuin ini?" tanya Charisma saat mereka sampai di depan Vintage Cafe.
"Yakin, Ris. Gue mau bikin Rara benci sama gue, biar dia mutusin gue. Lo mau, kan?" tanya Vincent.
Charisma mengangguk pelan. Semalam Vincent meminta bantuannya, berhubung Charisma masih di Jakarta. Vincent meminta Charisma untuk menjadi pacar pura-puranya lagi.
Keira mengajak Vincent ke Vintage Cafe, makanya dia tau Rara lagi ada di Vintage Cafe.
"Ya udah. Ayo," ajak Vincent lalu menarik Charisma keluar dari mobil. Kaki Vincent sudah sembuh, ya walaupun masih harus hati-hati sih.
Mereka berdua memasuki Vintage Cafe sambil tertawa, seperti pasangan romantis dan bahagia.
"Arah jam 1," bisik Charisma di telinga Vincent sambil tersenyum lalu mengecup pipinya pelan, membuat wajah Vincent memerah. "Biar mendalami peran," begitu alasan Charisma.
Vincent mengajak Charisma duduk di tempat yang kosong. Entah beruntung atau sial, mejanya hanya beda 2 meja sama Rara. Posisi mereka menyamping, sehingga dapat terlihat jelas oleh Rara.
Vincent melirik ke arah Rara yang mulai terlihat kesal dan bete.
Mission one, complete.
"What should we do next?" tanya Charisma.
"Dia sih udah marah. Mau bikin dia tambah marah?" tawar Vincent. Sebenarnya dia tidak tega. Bohong kalau hatinya tidak teriris saat melihat Rara menitikkan air mata. Bohong kalau ia tidak ingin memeluk Rara dan berkata 'jangan menangis'. Tapi mau gimana lagi? Semuanya demi kebaikan mereka berdua.
KAMU SEDANG MEMBACA
ask.me
Novela JuvenilSemua berawal dari segmen yang dibuat Rara di Radiouth, ask.me! dimana semua orang boleh bertanya, curhat, atau menyampaikan pesan melalui ask.fm. Disaat semua orang berburu untuk bertanya pada sang ratu kampus itu, Vincent hanya diam menden...
