Sudah dua tahun berlalu ketika kami bertiga menjemputnya dirumah sakit setelah acara pemakaman mom. Kini bayi itu sudah bisa berjalan walaupun masih sedikit sedikit jatuh. Sam lah yang selalu mengajarinya. Membaca. Menulis. Berjalan. Menaik sepeda. Dan hal apapun. Dad tidak punya waktu untuk mengajarinya. Semenjak mom meninggal, ia selalu pergi pagi buta dan pulang tengah malam. Padahal dulu, dad selalu berangkat pukul tujuh pagi dan pulang pukul tujuh malam. Sekarang, ketika kami bangun, dad sudah pergi dan ketika kami sudah tidur dad baru pulang. Entah apa yang ia lakukan di kantor sampai selarut itu.
Pernah suatu ketika. Aku bangun pukul satu malam dan dad baru pulang.
“ Dad baru pulang? ” tanyaku sambil menguap. Iya mengangguk lesu.
“ Kenapa akhir akhir ini dad selalu pulang malam? Biasanya dad pulang jam tujuh malam ” kataku lagi.
“ Dad banyak kerjaan di kantor. Jadi pulangnya agak malam ” jawabnya cepat.
“ Yah, ini bukan agak malam. Tapi sangat malam. Bahkan pagi ” aku mengatakan itu cukup keras. Dad tersentak mendengarnya.
“ Sejak kapan kamu mengatur hidupku?! ” ucap dad dengan suara keras. Aku menunduk.
“ Apa yang aku lakukan tidak ada hubungannya dengan kamu! Kamu hanya perlu sekolah dan belajar. Tidak perlu mencampuri urusanku! ” ucapnya kemudian langsung beranjak pergi menuju kamarnya. Aku terdiam di tempat. Sejak kapan dad menjadi pemarah seperti itu? Dulu, dad tidak pernah memarahi kami. Dia hanya tegas. Bukan dalam artian marah. Entah kenapa sekarang beliau berubah?
Paginya, aku terkejut dad belum pergi bekerja. Padahal sudah jam enam pagi. Biasanya paling lambat ia berangkat pukul empat pagi. Aku, Sam, dan dad makan bersama sama. Tapi seperti makan malam resmi, tidak ada sama sekali suara. Hanya sesekali piring berdenting.
“ Dad belum berangkat? ” Sam memulai pembicaraan. Dad mengangguk cepat.
“ Hari ini dad berangkat siang. Bos ayah masuk rumah sakit dan ia membebaskan jadwal datang semua karyawan ” katanya cepat. Aku mengangguk. Tiba tiba aku mendengar Lou menangis. Kami semua menoleh kearah kamar Lou.
“ Kamu urusin dulu adik kamu ” kata dad kepadaku. Aku terlonjak.
“ Aku lagi sarapan, dad ” aku membela diriku sendiri. Lalu menoleh kearah Sam.
“ Sam, tolong urus adikmu ” dad membelaku. Sekarang ia menyuruh Sam untuk mengurus Lou. Aku tersenyum senang.
“ Dad, apakah kau tidak mau mengurus Lou? Selama ini dad tidak pernah mengurus Lou. Menggendongnya saja tidak pernah ” terang Sam. Dad menoleh kearah Sam. Ia terlihat terkejut.
“ Dad sekarang sibuk. Tidak seperti dulu dad bisa merawat kalian. Tapi sekarang sedang banyak kerjaaan. Jadi ku serahkan tugas ini kepada kalian berdua ” jawab dad tegas.
“Tidak bisakah kau memberikan sedikit perhatian kepadanya. Mungkin, sampai sekarang Lou belum kenal siapa ayahnya! ” ucap Sam lagi.
Dad membanting sendok dan garpunya.
“ Kamu tidak bisa seenaknya mengaturku! Mau dad merawat dia atau tidak itu bukan urusanmu! ” katanya marah sambil berdiri.
“ Itu urusanku, dad! Lou dan aku adalah anakmu. Kita masing masing ingin mendapat perhatianmu! ” Sam juga membanting garpunya dan beranjak pergi menuju kamar Lou. Dad masih diam di tempat. Matanya masih menyulutkan kemarahan.
“ Sudah! Dad mau pergi! ” dad mengambil tasnya dan beranjak keluar rumah. Aku masih terdiam di meja makan. Dad benar benar tidak pernah marah seperti itu. Apa semua gara gara Lou? Anak itu memang pembuat masalah. Hubungan keluarga kami berantakan hanya gara gara anak itu.
Aku menaruh sendok dan garpu kemudian beranjak pergi ke kamar Lou. Disana terlihat Sam sedang memberikan botol susu kepada anak itu.
“ Kau tau dad sudah pergi? ” aku bersandar di pintu.
“ Ya aku tau ” ucapnya tidak peduli. Pandangannya tetap kepada Lou.
“ Keluarga kita hancur kau tau? Hanya karena anak itu! ” ucapku sedikit keras. Sam membalikkan badan dan menatapku tajam.
“ Apa maksudmu? ” tanyanya menghampiriku.
“ Kau lihat? Sejak kapan dad berubah menjadi pemarah seperti itu? Dan mom. Kalau saja ia tidak ada, mom masih ada disini! Bersama kita! ” kataku setengah berteriak. Aku melihat tangan Sam sudah bersiap untuk memukulku.
“ APA BEDANYA PEREMPUAN DAN LAKI LAKI ALEX?! ” tanyanya sambil memelototiku. Aku tidak akan takut kalau hanya begini. Aku terdiam.
“ Semua keluarga kita mengingikan anak laki laki, Sam. Bahkan mom sangat setuju jika yang lahir adalah anak laki laki ” aku membela diri.
“ Apa kau tau mom akan kecewa jika ternyata yang lahir adalah anak perempuan? ”
“ Tentu saja! ” kataku tidak peduli.
“ Jangan sok tau kamu! Aku yakin mom tidak akan kecewa jika yang lahir adalah anak perempuan! ” Sam sedikit berteriak dan membuat Lou menangis. Aku membuang wajah kembali.
“ Adik KESAYANGAN mu menangis lagi tuh ” kataku acuh tak acuh “Mungkin dia mengerti apa yang kita bicarakan ”
Aku tidak peduli apa yang akan Sam katakan lagi dan aku segera meninggalkan kamar Sam menuju kamarku.
Aku memandang album foto keluargaku. Di foto itu tertera wajah mom, dad, Sam dan tentunya aku. kami masih bersuka ria dan tertawa bahagia. Dad yang saat itu belum berkumis masih terlihat sangat muda. Dan mom. Mom sangat cantik di album foto ini. rambut mom yang terurai panjang. Sedikit bergelombang dan berwarna hitam sedikit kecoklat coklatan. Wajahnya juga sangat bersinar bagiku. Sam yang saat itu masih berusia sekitar 11 tahun berdiri tegak disamping ibu. Dengan wajah yang tidak senyum sama sekali seakan akan menunjukkan kejantanannya. Dan aku. terlihat dulu aku gemuk. Dan aku diingat sebagai ‘anak pemakan segalanya’ karena semua makanan yang ada dirumah kulahap habis dan menyisakan bungkusan bekas makanan tersebut. Dan anehnya, mom sama sekali tidak pernah marah dan hanya menyisakan senyuman kecil ketika aku kembali menghabiskan makanan yang ada dikulkas.
“ Tidak apa apa Alex... Saat ini kamu sedang ada di masa pertumbuhan. Jadi makanlah yang banyak ” aku hanya bisa nyengir mendengar kata itu. Dan kembali memakan makanan yang tersedia diahadapanku.
Seiring berjalannya waktu, aku tidak lagi segemuk dulu dan pertumbuhanku menjadi keatas, bukan kesamping. Tinggiku saat umur 13 tahun adalah 165 cm. Mom terkejut karena pertumbuhanku yang sangat cepat. Namun, ketika ditawari untuk mengemil kembali, aku menolak dengan alasan aku tidak mau segendut dulu. Dan kali ini aku sedang melihat foto perbandingan diriku yang dulu dengan diriku yang sekarang. Foto di sebelah kiri menunjukkan saat aku masih terlalu gemuk. Dan foto disebelah kanan menunjukkan saat aku sudah berusia 13 tahun. Benar benar perbandingan yang mengejutkan.
Aku hampir sampai dihalaman terakhir ketika aku melihat foto kami berempat sedang duduk diatas kursi bercat coklat dengan latar belakang air mancur besar. Foto itu diambil tiga hari sebelum mom melahirkan kemudian meninggal. Saat itu ibu diperbolehkan keluar kamar untuk menghirup udara segar dihalaman rumah sakit. Aku meminta seorang perawat yang sedang lewat didepan kita dan ia bersedia untuk memfoto kami bersama. Dihalaman selanjutnya, ada foto dad dan mom sedang memegang perut ibu. Dan foto selanjutnya adalah fotoku, Sam, dan mom.
Saat membuka halaman terakhir, ada foto Lou. Tiba tiba aku kembali teringat peristiwa dua tahun lalu. Kami sekeluarga sangat menginginkan anak laki laki. Tapi kenapa harus Lou perempuan yang lahir. Kami mengharapkan Lou laki laki. Bukan perempuan. Dan bayi ini yang menyebabkan mom meninggal! Dan bayi ini yang telah membuat dad menjadi pemarah! Dan yang paling penting adalah bayi ini telah menghancurkan keluarga Madison berantakan hanya dengan satu tangisan.
Tak tanggung tanggung aku mengambil sebuah spidol berwarna merah besar dan mencorat coret foto itu dengan tulisan tulisan kekesalanku tentang dirinya. Setelah itu aku juga mengambil cat cair warna warni dan kembali mencorat coret foto itu sampai benar benar hancur. Aku tertawa puas dengan apa yang baru saja aku lakukan.
YOU ARE READING
Without Happy
Teen FictionSeseorang yang tidak pernah bahagia dan menjalani sisa hidupnya dengan seorang kakak yang sangat membencinya ditambah dengan penyakit yang secara perlahan menggerogoti tubuhnya.
