LOU
Aku terbangun dengan keadaan berantakan. Kotak obat yang ada disebelahku mengeluarkan seluruh isinya. aku juga melihat genangan air yang berada tidak jauh dari tanganku. Sesaat aku terdiam sambil berusaha mengumpulkan semua nyawaku dan beberapa kali mengerjap. Saat melihat keluar jendela, aku melihat langit sudah membiru dan mulai menghitam. Tandanya bahwa tertidur cukup lama.
Dan aku pun teringat peristiwa tadi siang ketika Alex memaksaku untuk memakan sup udangnya. Dan sikap manisnya itu ternyata adalah sebuh tipuan agar ia bisa membuatku untuk memakan supnya. Dengan artian ia sengaja menyuapiku agar alergi udangku kambuh.
Tentu saja ia tau kalau aku alergi udang. Sam mengatakannya saat kami baru kembali sepulang dari rumah sakit. Aku tidak percaya sebesar itukah ia membenciku? Sampai sampai dia tega akan membunuhku?! Aku ini adiknya dan dia adalah kakakku.
Kenapa hanya aku yang diperlakukan seperti ini oleh kakak kandungku sendiri? Semua temanku mempunyai kakak dan mereka saling menyayangi. Mereka saling bantu membantu jika ada urusan sekolah atau yang lainnya. Tapi kenapa berbeda denganku?!
Apa salah yang kuperbuat sampai Alex begitu bencinya kepadaku?! Aku tidak mengerti. Dia pernah membicarakan tentang kepergian dad dan meninggalnya mom. Tapi apa hubungannya denganku?! Aku tidak pernah bertemu mereka. Bahkan berbicara dengan mereka saja aku tidak pernah. Lalu apa salah yang ku perbuat kepada mom dan dad? Kepada kedua orang tuaku?!
Dengan perlahan aku membereskan kotak obat yang terdampar persis di sebelah tubuhku. Semua obat yang sebelumnya ada didalam berceceran dimana mana. aku membereskannya satu persatu dan menaruh kotak itu diatas lemari. aku juga mengambil lap dari atas lemari es dan mengelap lantai yang tergenang air.
Setelah dapur sudah terlihat bersih, aku kembali kedalam kamar dan duduk diatas tempat tidurku. Dalam keadaan seperti ini, aku tidak bisa konsentrasi dan terus memikirkan perbuatan Alex beberapa jam yang lalu.
" LOU!! " teriakan Alex terdengar dari dalam kamarku. Aku pun menghampirinya dengan cepat dan aku melihat dia sedang duduk diatas sofa sambil menonton televisi dengan santai.
" Bisakah kau buatkan aku susu coklat hangat? " tanyanya lagi seolah tidak pernah terjadi apa apa hari ini. Aku hanya mengangguk dan berbalik.
" Tunggu.... "
Aku pun memutar badanku lagi dan menunduk. Aku tidak berani untuk melihat wajahnya lagi.
" Lebih baik bersihkan dirimu dahulu. Aku tidak nafsu jika melihat susu coklatku dibawakan oleh orang yang masih kotor " Lanjutnya sambil mengganti channel tv. Aku mengangguk kemudian kembali kekamar.
" Aku mau coklat hangatku datang lima belas menit lagi! "
-------------------
ALEX
Sebenarnya aku masih bingung untuk balas dendamku yang kedua. Untuk Sam. Sam meninggal karena kecelakaan. Dan aku tidak tau hukuman yang setimpal untuknya, namun jangan sampai membuatnya juga meninggal. Hanya untuk melihatnya menderita sepertiku sekarang ini. Mungkinkah ia takut gelap? Aku tidak tau. Dan aku tau jika ia tidur, dia selalu mematikan lampu.
" Sam, apa yang aku harus lakukan?! " aku memukul mukulkan remote tv kearah keningku. Sesaat kemudian menghela nafas.
Apa aku harus membatalkan niatku untuk balas dendam kepadanya? Tidak! Tidak bisa! Selama ini dia selalu menghantui mimpi mimpiku dengan suara tawanya yang terlihat seperti senang akan penderitaanku ini.
Aku menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari ide apa yang akan kulakukan padanya kali ini. Tidak ada benda yang dapat memberikanku ide. Aku menggaruk garuk rambutku.
" AAAARGGH!! " Aku sulit berfikir. Kepalaku pusing.
Aku lelah! Kapan aku bisa hidup tenang seperti dulu lagi? Seperti saat aku masih bersama kedua orang tuaku dan juga Sam. Kehidupanku yang sekarang sangat jauh berbeda saat keluargaku masih lengkap. Semuanya masih ada. Sam. Mom. dan Dad. Semuanya masih ada bersamaku. Tidak seperti saat ini. Semuanya sudah menghilang.
Aku menghampiri kaca yang ada dihadapanku kini. Sudah mulai tumbuh janggut dan kumis tipis. Aku menyentuhnya dengan tanganku. kemudian menyadari bahwa sekarang aku sudah bukan remaja lagi. Kini aku sudah tumbuh menjadi seseorang yang berbeda.
Aku mundur beberapa langkah dan mendapati seseorang disana dengan tubuh tegap dan postur badan yang tinggi. Sesaat kemudian aku melihat kearah foto yang terpajang diatas meja disampingku. Fotoku dengan Sam beberapa tahun yang lalu. Aku terlihat sangat berbeda. Sangat sangat sangat berbeda. Aku tidak memperhatikan perubahan fisik yang terjadi denganku beberapa tahun ini.
Semuanya berubah. Termaksud wajahku. Aku kembali menatap foto tersebut dan mendapati wajahku yang masih ceria dengan senyum yang memperlihatkan gigi gigiku. Senyum yang menggambarkan kebahagiaan. Kebahagiaan yang dulu aku dapatkan dari keluargaku. Kebahagiaan yang tidak akan pernah aku dapatkan lagi saat ini. Kebahagiaan yang hanya kudapat jika seluruh keluargaku masih ada disini. Bersamaku.
Aku menggeleng gelengkan kepalaku. Mengusir semua kenangan manis yang datang menyerbu otakku. kemudian aku beralih ke wastafel yang tidak jauh dari ruang duduk dan membasuh wajah disana. aku pun menatap cermin yang kini berada tepat dihadapanku. Terdapat bayang bayang wajah Sam disana. Wajahnya terlihat serius dan menatap tajam kearah diriku seperti berkata ' kau harus membalaskan dendamku pada anak itu " kemudian bayangan itu hilang. aku kembali tersenyum.
" Tenang, Sam. Hanya tinggal menunggu waktu sampai kau melihat anak itu menderita "
------------------------------------------
Halo halo Haloooo!!! Wuaah.. berusaha buat cepet selesai ceritanya. Soalnya empat minggu lagi mau Ujian Nasional.. hehehe siapapun yang baca ini minta doanya ya supaya lancar dan sukses amin! Ohiya kalau bisa dalam 3 minggu ini ceritanya selesaaaaaaaiii!!!! \m/ Doain lagi yah supaya bisa cepet selesai... Keep Reading:)
YOU ARE READING
Without Happy
Teen FictionSeseorang yang tidak pernah bahagia dan menjalani sisa hidupnya dengan seorang kakak yang sangat membencinya ditambah dengan penyakit yang secara perlahan menggerogoti tubuhnya.
