Hai... Maaf ya kalo aku ngeuploadnya lama... lagi jarang banget ada waktu buat nerusin ceritanya. tapi pasti kalo ada waktu buat nerusin lagi, pasti dimanfaatin. hehehe.. oke chapter 11 akhirnya aku upload juga dan sori kalo kurang bagus atau kurang berkesan gitudeh.. okedeh. selamat membaca:D
ALEX
Rasanya baru kemarin aku datang ke upacara pemakaman keluargaku. Sekarang, aku kembali datang ke upacara pemakaman. Kali ini berbeda. Dulu aku melihat mom terbaring disana. Sekarang Sam. Aku masih tidak percaya dia pergi. Kemarin aku masih melihat dia dalam keadaan sehat bugar. Ia bilang akan pergi bekerja kembali. Namun kenyataannya ia tidak pergi bekerja.
“ Kau berbohong, Sam ” ucapku duduk disebelah makam Sam. “ Kau bilang kau akan pergi bekerja... tapi mana buktinya? ”
Aku bukan orang yang lemah. Aku juga tidak cengeng. Tapi untuk kali ini, aku merasa seperti ada yang hilang. Aku kehilangan saudara laki lakiku yang paling aku sayangi. Walaupun dihadapannya aku bersikap tidak peduli, tapi didalam hatiku aku sangat menyayangi dia. Dari kecil aku hidup dengannya. Aku selalu bersamanya.
Di depan semua orang, aku selalu berkata aku tidak peduli dengan kakakku itu. Aku tidak pernah mengkhawatirkannya. Itu semua bohong. Aku selalu peduli kepada Sam.
“ Sam, Kemana janjimu saat kecil? Kau bilang kau akan terus menjagaku. Mana buktinya? ” aku menggaruk garuk gondokan tanah dihadapanku. air mataku mulai keluar. Cepat cepat aku menghapusnya.
“ Dulu mom yang pergi, kemudian dad yang tiba tiba menghilang. Sekarang kau Sam yang pergi? Kalian memang berencana untuk membuat aku sendiri ya? “ Sindirku kepada gondokan tanah dihadapanku. kemudian tertawa sedih.
“ Baik baik ya kau disana Sam. Jaga mom. Jangan sampai dia sedih disana ” aku menaburkan bunga yang ada di genggaman terakhirku kemudian berdiri. Aku melihat Lou masih terlihat berjongkok didepanku.
“ Sudahlah Lou. Ayo kita pergi dari sini ” kataku cepat tanpa menoleh sedikitpun kepadanya.
Dia bergeming. Tidak bergerak sedikit pun.
------------------------
LOU
Aku tertawa menatap gundukan didepanku.
“ Kau bilang aku tidak boleh menangis Sam. Dan kau lihat sekarang? Aku tidak menangis. Aku tertawa ”bahuku berguncang karena tawa yang kupaksakan.
“ Ya.. sebenarnya aku tidak mau tertawa. Karena tertawa bukan ekspresi yang pas dengan situasi ini. tapi.... kau yang memintanya. Aku harus bagaimana lagi ”
Aku meremas remas tanah yang ada dihadapanku dengan perasaan yang bercampur aduk.
“ Sebenarnya aku punya banyak pertanyaan untukmu, Sam. Tapi aku tidak tau apakah kamu bisa menjawab semua pertanyaan dariku?!” Ucapku pedih. Aku kembali menaburkan bunga yang kupegang.
“ Kenapa kamu pergi secepat ini Sam? Kemarin kamu baru pulang.... sekarang kamu pergi lagi? Kamu itu aneh ”
“ Kau tau Sam... ” aku mengambil segengam tanah yang masih baru itu dan menggenggamnya kuat kuat “aku telah membaca suratmu. Dan disurat itu secara tidak langsung kau sudah tau kau akan pergi ”
“Kenapa kau tidak memberitahuku?! Kalau kau memberitahuku... aku pasti akan mencegahnya. Aku tidak akan membiarkanmu pergi menaiki taksi itu. Sehingga kamu masih ada disini sekarang ”
Aku kembali menatap papan nama yang tertancap kuat diatas tanah. Kemudian tersenyum.
“ Sudah kau biarkan kakakku itu pergi? ” aku mendengar suara berat dibelakangku. Ketika menoleh aku melihat tubuh tinggi dan tegap di belakangku. Alex.
Aku mengangguk pelan kemudian memalingkan wajah lagi.
“ Kalau sudah kita pulang sekarang. Aku lelah dan ingin cepat tidur ” ujar Alex kemudian pergi dari tempatnya berdiri tadi. aku bisa mendengar suara Alex yang sedikit bergetar. Aku tau dia sangat terpukul dengan peristiwa ini. dan mau bagaimanapun sifat dinginnya tidak bisa menutupi rasa sedihnya sekarang.
Aku bangkit dan menghapus air mata yang sudah terlanjur mengalir di pipiku. Aku berjalan menyusul Alex yang sudah lebih dulu berjalan menuju mobil. Aku menoleh kearah makam Sam kembali dan tersenyum.
“ Aku pulang dulu Sam. Besok aku akan datang lagi ”
---------------------------------------------------
ALEX
Setelah beberapa kali aku membujuknya untuk segera meninggalkan makam Sam, dia mengalah dan akhirnya beranjak dari makam Sam. Untuk saat ini, aku tidak mau sifat cuek atau angkuhku muncul. Sebab jika saat ini aku masih bersikap seperti itu, beban fikiranku akan semakin banyak.
Untuk yang kedua kalinya, aku mengizinkan Lou untuk menumpang mobilku sampai kerumah. Diperjalanan menuju rumah, berkali kali dia menghela nafas panjang. Tangannya yang memegang botol air mineral juga bergetar. Aku tau dia belum merelakan kakaknya itu pergi.
“ Sudahlah. Kau terlalu cengeng ” seruku tiba tiba. Dia langsung menoleh kearahku dengan muka masam.
“ Maaf kalau aku tidak bisa menahannya ” jawabnya lirih kemudian memalingkan wajahnya ke luar jendela.
“ Yasudahlah. Mau diapakan lagi. Kau mau menangis berhari berhari Sam juga tidak akan kembali ” jawabku cepat sambil terus memperhatikan jalan.
Dia diam saja ketika aku bilang begitu. beberapa menit kemudian dia mengangguk.
“ kau benar ”
Aku mendengus. Sudah bagus aku mengajaknya mengobrol tapi dia hanya menjawab seadanya. Yasudahlah. Aku juga tidak mempermasalahkan hal itu.
Sesampainya dirumah, aku memarkirkan mobil dengan mulus dan langsung berlari kedalam. Banyak tamu yang datang untuk menyatakan bela sungkawa kepadaku dan Lou. Sebenarnya hanya kepadaku. Sebagian orang tidak mengetahui bahwa Lou merupakan keluarga kami. Dan mereka mengetahui bahwa Lou hanya sebagai pembantu disini.
Kebanyakan dari mereka adalah rekan kantor Sam. Dan beberapa teman sekolahnya. Sementara tidak banyak keluarga yang datang. Hanya dua sampai tiga keluarga saja yang datang. Semenjak dad menghilang, banyak keluarga yang enggan datang kerumah. Entah apa alasan mereka sampai hubungan keluargaku dengan keluarga besarku sedikit merenggang.
Setelah sampai dirumah, Lou juga langsung masuk kekamarnya dan tidak keluar setelah beberapa lama. Aku sebagai tuan rumah wajib menyambut tamu tamu yang datang kerumah. Yaa sekedar untuk berbincang atau meladeni ucapan bela sungkawanya. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
YOU ARE READING
Without Happy
Teen FictionSeseorang yang tidak pernah bahagia dan menjalani sisa hidupnya dengan seorang kakak yang sangat membencinya ditambah dengan penyakit yang secara perlahan menggerogoti tubuhnya.
