Embrace The Wind Part 18

7.7K 987 30
                                        

"Untuk apa kita ke sini?" tanya Ashton tak mengerti saat Shania membawanya ke sebuah studio foto. Studio dengan poster iklan yang kebanyakan menampilkan foto pre-wedding di depannya.

"Aku ingin berfoto denganmu," jawab Shania.

Satu kalimat itu berhasil membuat Ashton terdiam dan membiarkan dirinya yang sejak tadi ditarik oleh Shania untuk masuk ke dalam. Beberapa pelayan studio tampak langsung menyambut Ashton. Siapa yang tak kenal Ashton di kota ini? Dia sudah menjadi selebriti bisnis. Tak ada yang tak tahu tentangnya. Itulah kenapa banyak pegawai yang menyambutnya setelah mendengar salah satu pelanggan hari ini adalah pria bernama Ashton Rivers.

"Walaupun kita berfoto, kau tahu bukan wajahmu yang akan keluar bersamaku, kan?" Ashton berbisik memberi pengertian pada Shania yang terus menariknya ke ruang pakaian. Dia berusaha menyadarkan Shania bahwa sekarang Shania tak sedang berada di tubuhnya sendiri. Sehingga berfoto-foto hanyalah hal yang sia-sia

Shania tersenyum. Ada rasa aneh saat Shania kembali mengingat itu. Seribu kali pun ia berfoto dengan Ashton, hasilnya akan tetap menjadi wajah Hannah. Bukan wajahnya sendiri. "Aku tahu."

"Baiklah kalau itu maumu. Aku tak pernah bisa membantahmu," Ashton kemudian mengambil beberapa pasangan setelan dan baju kasual yang ada di gantungan yang dipenuhi model baju. "Aku akan ganti baju dan menunggu di luar."

Sejak awal, ia memang tahu hasil foto itu akan menampakkan wajah Hannah serta fisik Hannah karena memang itulah yang Shania inginkan. Ia ingin Ashton mempunyai foto dengan Hannah yang tersenyum bahagia. Seakan perempuan itu memang bahagia menjadi kekasih Ashton.Shania sadar, saat Hannah bangun nanti, Ashton tak akan bisa melihat senyuman raga ini lagi. Ia ingin membuat memori indah untuk Ashton walau Ashton tahu dirinya bukan Hannah.

Ashton melangkah pergi. Menganti bajunya juga di ruang lain. Begitu juga dengan Shania.Proses pemotretan sesi pertama itu berlangsung tak sebentar dan tak juga lama. Shania sengaja memesan tempat itu atas nama Ashton. Dia ingin membuat banyak foto Ashton bersamanya. Selain itu dia juga tak punya uang, sehingga ia memakai nama Ashton.

Tujuan utamanya adalah membuat Ashton bahagia. Mengingat tak ada foto Ashton di rumah Hannah serta foto—yang di mana Ashton terlihat begitu bahagia di samping tunangannya yang tersenyum pahit—yang ada di kamar Ashton mengiris hatinya, membuatnya memikirkan ide berfoto ini.

Sekarang Shania akan membuat Ashton bahagia. Shania akan terus tersenyum bahagia sambil bergaya seromantis mungkin pada Ashton di setiap kilatan cahaya itu. Ashton sudah cukup membantunya dan sekarang giliran Shania membantu Ashton. Membuatnya sedikit bahagia.

Beberapa saat berlalu, Shania yang telah memakai baju pengantin yang indah berjalan ragu dan malu ke hadapan Ashton yang sudah memakai setelannya. Ia bahkan tak tahu untuk apa ia malu. Ashton sediri sedikit tertegun melihat Shania. Hannah memang cantik, sudah pasti dia terpesona. Pikir kecut Shania. Kilatan demi kilatan, suara demi suara bermunculan. Suara jepretan foto terus berbunyi seiring dengan kilatan cahaya itu.

Shania sengaja memilih tema pernikahan. Setiap pasangan kekasih yang berbahagia pasti berharap hubungan mereka berakhir di pernikahan. Itulah kenapa Shania juga memilih tema itu. Dia tak ingin Ashton sedih jika mengetahui bahwa dirinya dan Hannah tak akan pernah bersama, apalagi hingga ke jenjang pernikahan. Jadilah ia memberikan foto pernikahan semu untuk Ashton. Biarlah pria itu bahagia untuk sementara ini sebelum menghadapi kenyataan pahit yang sebenarnya.

Dia tahu cepat atau lambat, Ashton pasti mengetahui hal itu. Tak ada rahasia yang akan abadi, suatu saat semua rahasia akan terungkap. Shania hanya berharap bahwa kebenaran itu akan terungkap setelah sekian lama, agar tak cepat menyakiti Ashton.

"Silahkan kalian berciuman." Keduanya seketika bergeming mendengar perintah pemotret itu.

Berciuman? Shania bahkan merasa ia tak pernah melakukan itu sebelumnya di raganya sendiri. Walau tubuh yang ia tempati sekarang bukanlah raganya, tetap saja Shania merasa sedikit aneh saat diminta berciuman dengan seorang pria. Namun, walau begitu, Shania memikirkan perintah itu sekali lagi. Dia hanya bisa diam, pikiran dan akal sehatnya sepertinya bertentanganya. Tak tahu harus berbuat apa.

Embrace The WindTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang