Epilog

17K 1.3K 164
                                        

Angin berhembus lembut di pagi hari yang cerah. Walau hembusannya terasa pelan dan menyegarkan, angin di pagi hari itu tetaplah terasa dingin. Sehingga beberapa orang memilih memakai pakaian tambahan agar sedikit menghangatkan dirinya. Daun-daun yang mengering pun berjatuhan dengan lembut dari pohonnya saat tertiup oleh angin pagi.

Shania pun merapatkan sweaternya sembari menatap. Ia hanya berdiri diam lama di sana. Tanpa bergerak maupun tak berbicara sedikit pun. Ia hanya tersenyum lembut seiring lembutnya angin pagi menyentuh pipinya. Matanya pun berair seiring ia terus diam. Air mata yang menggenang tanpa jatuh itu menyimpan banyak emosi di dalamnya.

Setelah lama mereka menampung air mata yang tidak banyak itu, Shania mengedipkan lama dan rapat matanya. Berharap sisi emosionalnya yang muncul tiba-tiba saat melihat itu hilang. Ia datang bukan untuk bersedih berlebihan. Ia datang menyapa.

Akhirnya setelah lama berdiri hanya memegang sebuket besar bunga yang ada di tangannya, Shania akhirnya berjongkok. Meletakkan bunga itu di atas gundukan tanah tersebut lalu kemudian kembali berdiri dan tersenyum seceria mungkin. Menatap nisan yang menuliskan nama Hannah.

Saat mendapatkan ingatannya, Shania juga tentang mengingat Hannah, bukan hanya Ashton. Walau ia tak pernah berkenalan dan bertemu dengan Hannah sebelumnya. Shania tetap merasa bahwa ia terikat dengan perempuan itu. Tanpa harus berkenalan secara langsung, ia sudah merasa begitu dekat serta menyayangi Hannah. Ia masih yakin bahwa Hannah sendirilah yang mengijinkan Shania memasuki tubuh Hannah sebelumnya.

Shania cukup sedih Hannah memiliki kehidupan yang kurang bahagia bahkan hingga akhir hidup perempuan itu. Jika diberi kesempatan, Shania berharap ia bisa bertemu langsung dan berteman dengan Hannah. Membantu perempuan itu setidaknya menghadapi kesedihan serta rasa depresinya. Membantu Hannah bangkit walau mungkin itu sulit.

"Hai, Hannah," ucap Shania yang akhirnya membuka mulutnya setelah lama hanya tersenyum. "Kau mungkin tak mengenalku tapi aku tetaplah mengenalmu dengan baik. Atau mungkin bisa dibilang aku bahkan lebih mengenalmu melebihi Ashton. Beberapa bulan berada di dalam tubuhmu membuatku merasa secara tidak langsung berbagi emosi dan pemikiran denganmu. Berkatmu juga aku seolah menjadi orang yang berbeda. Setidaknya aku merasa lebih baik dalam sisi emosionalku berkat kau yang sedikit membagi rasa kesedihanmu."

Shania kemudian mengingat terkadang hatinya sakit dan kesepian saat sendirian di rumah Hannah saat mereka masih dalam satu raga yang sama. Dan di situ barulah Shania sadar bahwa itu adalah perasaan Hannah. Perasaan sedih dan kesepian Hannah. Bahkan saat ia merasa hatinya merindukan sesuatu, Shania akhirnya menyadari bahwa itu perasaan Hannah yang sesungguhnya merindukan kekasihnya. Walau kecil perasaan itu bagi Shania, tapi ia tahu perasaan itu bagi Hannah cukup menyiksa.

"Pokoknya aku cuma datang untuk menyapamu untuk pertama kalinya. Sekaligus berterima kasih sudah meminjamkan tubuhmu selama beberapa bulan." Shania kemudian menggeram kecil. "Ah, seandainya aku tahu kau akan pergi secepat ini, aku akan memanjakan tubuhmu lebih dengan uang Ashton hingga pria sombong itu bangkrut. Sayang sekali kau pergi secepat ini. Aku benar-benar berharap kita bisa mengobrol secara langsung. Hannah, aku berharap setidaknya kau bisa bahagia. Kuharap kau selalu bahagia. Karena bagiku, wanita baik sepertimu harus selalu bahagia."

Shania kembali tersenyum. Banyak yang ingin ia bagi bersama Hannah tetapi sayangnya waktu seolah tak pernah mengijinkan. Walau begitu, Shania tak apa-apa. Ia bisa mengunjungi Hannah di lain waktu nantinya. Ia benar-benar sudah merasa nyaman dengan sosok Hannah. Seperti saudara yang tak pernah dia miliki.

Setelah memberikan senyuman cerianya yang terakhir, Shania akhirnya berbalik. Hendak berjalan pergi sebelum kemudian hembusan angin kencang dari belakang tubuhnya membuat langkahnya berhenti. Seketika ia merasa tertegun merasakan bulu tengkuknya sedikit merinding.

Embrace The WindTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang