Maaf, updatenya telat haha. Baru ngisi ulang kouta. Jangan lupa vomment yah❤
***
"Shania juga minum yogurt dengan cara itu. Menurutnya minum lewat sedotan terlalu berlebihan dan memakan waktu sehingga dia selalu melepaskan penutup mulut botol yogurt dan lebih memilih meneguknya langsung dari pada harus menyedotnya sedikit demi sedikit. Dia juga suka mengigit pinggir botol kecil itu. Dia sangat berjiwa bebas dan caramu meminumnya, mengingatkanku pada putriku itu."
"Maaf. "
Shania menatap penuh bersalah. Sepertinya dia memang tak pandai bersandiwara dan malah membuat Anna semakin meradang karena merindukan putrinya.
"Kenapa kau meminta maaf?" Anna mulai terkekeh. "Itu malah membuatku merasa bahwa Shania benar-benar terasa hidup dan meyakinkanku bahwa Shania-ku pasti akan bangun."
Shania tersenyum simpul penuh kesyukuran. Bersyukur mempunyai ibu yang begitu menyayanginya.
"Shania adalah perempuan yang ceria dan cantik. Banyak pria di luar sana yang berlomba-lomba menarik perhatian putriku. Namun, putriku hanya tertarik dan jatuh cinta pada seorang pria. Semenjak itu, dia semakin menjadi perempuan yang penuh tawa bahagia. Tapi siapa sangka, pria itu pula yang membawa Shania ke dalam keadaan ini." Mata ibu Shania mulai berkaca-kaca. Menularkannya pada Shania yang tak tega melihat hal itu.
"Kau pasti sangat kaget mendengar tentang kecelakaan dan sebab kecelakaannya ini, kan?" lanjutnya.
"Tante, ini hanya ujian kecil bagi Shania. Setidaknya sekarang Shania telah belajar untuk melihat seseorang dari hatinya bukan dari matanya. Tante hanya perlu berdoa agar Shania segera sadar. Shania pasti akan sangat sedih jika melihat Tante juga bersedih. Jadi jangan bersedih, Tante. Itu hanya akan menambah penderitaan Shania karena membuat Tante sedih." Shania jujur akan kata-katanya.
Dia sangat sedih sekarang. Hatinya serasa diremas melihat ibunya larut dalam kesedihan itu. Shania langsung berpikir, bagaimana jika ia sampai meninggal nantinya. Ibunya hanya memilikinya. Tak ada putri lainnya. Apa ibunya akan lebih menyedihkan dari saat ini?
Merasa bahwa semua kata-kata perempuan—yang diketahuinya sebagai Hannah—itu ada benarnya, Anna langsung berkedip berkali-kali. Membuat bakal air mata itu hilang dari matanya agar ia terlihat lebih tegar.
"Terima kasih, orang tuamu pasti bangga dan sangat menyayangimu karena memiliki putri yang begitu baik hati dan berpikir positif sepertimu."
"Jika itu yang mereka rasakan, aku akan sangat bahagia."
"Tentu saja, tanpa perlu menebak, mereka pasti sangat bangga padamu." Anna mengusap kedua punggung tangan Shania dengan hangat dan membuat Shania nyaman. Shania hanya tersenyum miris mendengarnya.
"Tapi aku tak terlalu baik. aku sering membantah mereka karena mereka selalu mengaturku dan membuatku jauh dari impianku. Aku bahkan menjalankan perintah mereka dengan berat hati walau jujur aku mulai terbiasa. Aku berpikir, mungkin mereka akan kecewa padaku."
Shania ingat dia memang dulu terkenal sebagai anak yang sedikit ceroboh dan berjiwa bebas. Ia selalu terobsesi ingin menjadi penari dan penyanyi tapi ibu dan ayahnya melarangnya.
Shania sebagai anak tunggal dulunya diberi kewajiban untuk suatu saat nanti meneruskan perusahaan keluarganya sebelum menemukan suami yang tepat. Shania saat ini di tempatkan sebagai Direktur Keuangan mengingat Shania sangat mahir dalam hal mengatur keuangan.
Dia menjalani kewajibannya dengan berat hati dan terpaksa walau lambat laun dia mulai terbiasa karena menurutnya itu tak sesulit yang ia bayangkan. Shania selalu memperlihatkan keterpakasaannya itu secara terang-terangan di depan orang tuanya yang hanya bisa mendesah pasrah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Embrace The Wind
Romance[COMPLETE & DITERBITKAN SEBAGAI FF OH SEHUN] Sinopis: Shania Mitchell, gadis cantik yang seperti hantu yang tak terlihat, tetapi memiliki jiwa yang hidup. Gadis itu seperti manusia, tetapi tidak ada yang menyadari kehadirannya. Demi mencari tahu ap...
