11. Thank You

6.3K 1K 12
                                        

PoV 'aku' untuk Na Hee

Aku mengeratkan cengkeramanku di lengan kemeja Jungkook. Ya Tuhan, aku sungguh takut. Suara-suara itu sangat mengerikan.

"Tenanglah, Nona. Hadapi rasa takut itu! Ini sudah dua minggu dan kau sama sekali tidak ada perubahan! Lawan rasa takutmu!" Jungkook berkata dengan nada yang lebih tinggi dari biasanya.

Aku merasakan Eun Hye eonni terus mengusap-usap punggungku. Oke, aku harus bisa. Aku harus bisa lakukan ini. Tinggal beberapa menit lagi dan semuanya akan selesai. Tidak apa-apa.

"Semangatlah, Nona!" sekarang Taehyung oppa yang berseru.

Setelah kata 'tamat' itu keluar, aku segera mendesah berat. Nafasku putus-putus seperti habis berlari maraton keliling Korea.

"Ini hanya film, Ya Tuhan. Dia tidak akan benar-benar menembakmu!" Jungkook mengoceh frustasi.

"Itu bagimu, Jeon. Jangan terlalu memaksa Nona!" Bibi Han menjawab tidak suka.

"Tapi, bibi. Ini sudah dua minggu dan tidak ada kemajuan!"

"Ada. Buktinya Nona sudah berhasil menyelesaikan film konyolmu yang berisi tembak-tembakan itu."

"Ck, bibi. Jangan menghina selera filmku, ini juga untuk kebaikan Nona!" ujar Jungkook membela diri.

Aku hanya mencoba mengatur napasku. Keringat masih bercucuran dari dahiku. Sial, dua jam menonton film yang hanya berisi peperangan, peluru, dan tembakan itu seperti neraka bagiku.

"Kau bisa istirahat sekarang," ujar Eun Hye eonni yang sekarang tengah mendekapku erat.

Aku mengangguk. "Terima kasih," kataku lirih.

"Ayo kita semua keluar. Biarkan Nona beristirahat!"

Setelah mendengar perintah dari eonni, semua yang sedari tadi berkumpul di kamarku pun satu persatu keluar.

Aku mendesah lega. Kembali menyentuh dada kiriku yang masih terasa berdebar. Beberapa minggu ini Jungkook sungguh terobsesi menyembuhkanku. Dia seperti orang tidak waras.

Aku sepertinya harus pergi ke balkon untuk sekedar mencari angin segar. Kepalaku seperti terbakar.

"Masih berdebar, Nona?"

Aku hampir saja berteriak kaget saat mendengar suara itu. "Kau mengagetkanku, Jeon!"

Jungkook terkekeh. "Maaf."

Aku mengelus dadaku. Kembali, mataku menatap lurus ke arah langit malam yang penuh bintang. Oh, ternyata sekarang sedang bulan purnama!

"Bulannya cantik," gumamku.

"Benar, kan? Cantik sekali memang, persis sepertimu," jawab Jungkook.

Aku merasakan pipiku memanas. "Jangan menggodaku!"

"Ck, kau jadi semakin berani membentak, ya? Dan hei, mana janjimu yang akan memanggilku oppa?"

"Setelah kupikir lagi, sepertinya kau tidak cocok kupanggil oppa."

"Oi, gadis kecil! Aku ini tujuh tahun lebih tua darimu!"

"Lalu?"

Kulihat Jungkook mengeratkan bibirnya, ia menghela napas, seolah menahan amarahnya. "Kau memang gadis menyebalkan! Huh, tahu begini aku tidak akan menyembuhkanmu."

"Apa maksudmu?" Aku mengernyit.

"Kau dulu pendiam. Sekalinya bicara hanya marah-marah. Tukang menangis. Tukang menyalahkan kehendak Tuhan. Sekarang? Cerewet bukan main, tidak sopan. Ya Tuhan, kembalikan Nonaku yang dulu. Aku merindukan Shin Na Hee yang dulu!"

Jungkook mengangkat tangan seakan sedang berdoa. Raut wajahnya ia buat semenyedihkan mungkin. Rasanya aku ingin sekali menampar wajahnya.

"Ck, dasar aneh. Gila, kau, Jeon!"

Jungkook terkekeh. "Iya, iya, maaf."

Keheningan menyapa kami beberapa menit. Aku sebenarnya mempunyai satu pertanyaan yang telah ku pendam sejak lama. Namun aku sungguh takut jika harus menanyakannya pada Jungkook.

"Jeon," panggilku lirih.

Jungkook bergumam dan menoleh. "Kenapa?"

Aku menggigit bibir bawahku. "Eumm, begini … aku ingin bertanya sesuatu--tapi janji jangan marah!"

"Iya, iya, memangnya apa, sih?"

"Kau--bagaimana kau bisa masuk penjara dulu? Maksudku--aku tahu alasan penangkapanmu. Tapi menurutku, kau bukan bajingan yang akan melakukan pelecehan terhadap seorang gadis,"

Aku mencoba memilih kata-kata yang tidak menyakitinya. Aku tahu jika aku telah mengangkat luka lamanya, tapi aku sungguh penasaran.

"Eumm, bagaimana, ya? Kau benar-benar ingin tahu? Ini bukan sesuatu yang pantas untuk di dengar sebenarnya," ujar Jungkook.

Sejenak, aku merasa ragu. Namun rasa penasaran mengalahkanku. "Tak apa, aku ingin dengarkan."

"Jadi sebenarnya, aku bertemu dengan putri keluarga Kang saat di klub malam. Saat itu, aku dan temanku tengah membantu membetulkan alat DJ yang rusak. Kami mengobrol, dan yah … seperti itu,"

"Seperti itu bagaimana?" Aku memicing. "Kau dan dia melakukan itu?" tanyaku sambil membuat tanda petik dengan kedua tanganku.

"Tidak! Tentu saja tidak. Aku ini telah di didik oleh mendiang ibuku untuk tidak meniduri sembarang wanita, sekalipun itu kekasihku sendiri. Karena wanita lah yang paling menderita jika ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi," jawab Jungkook mantap.

Aku mengangguk. "Ternyata kau pria yang baik. Lalu? Apa yang terjadi?"

"Suatu hari, dia mengajakku ke sebuah apartemen. Aku tahu saat itu Eun Mi memang sedikit mabuk. Ia memaksaku melakukan hal itu. Saat itu aku merasa hampir saja diperkosa oleh seorang perempuan," Jungkook terkekeh kecil. "Aku menolak, dan tanpa sadar, aku sedikit menyakitinya. Ia terantuk ujung meja saat aku mencoba melepaskan cengkeramannya. Dia pingsan. Aku langsung pergi dari tempat itu."

"Lalu?"

"Setelah itu, entah bagaimana kisahnya, polisi datang ke rumahku dan menangkapku atas tuduhan percobaan pemerkosaan," Jungkook berdecih. "Setelah itu aku mendengar jika yang melaporkanku adalah Eun Mi. Wanita itu pasti tidak ingin namanya tercemar karena terbukti menggoda seorang pria berandal. Bahkan mereka memanipulasi bukti. Wow, uang memang luar biasa."

"Pasti sulit bagimu," ujarku.

"Memang sulit pada awalnya. Rasanya aku ingin menghabisi mereka yang telah bekerja sama untuk menjebloskanku ke penjara. Tapi aku tetap yakin jika di balik semua yang terjadi, pasti ada Tuhan mempunyai alasan yang lebih baik," Jungkook tersenyum.

Aku menjadi merasa malu pada diriku sendiri. Aku masih mempunyai orang-orang yang mencintaiku. Tapi apa yang selama ini ku lakukan? Hanya mengeluh, memaki, dan membenci Tuhan. Begitu hinanya aku.

"Jungkook,"

Jungkook menoleh.

"Terima kasih."

Ku lihat dia mengernyit. "Untuk apa?"

"Untuk membantuku dan memperlihatkan padaku apa arti kehidupan. Aku sungguh berterima kasih padamu."

Jungkook tersenyum. Senyumnya begitu hangat. "Aku juga berterima kasih padamu karena membuatku bisa membuka mata atas kesedihan orang lain, sehingga aku tidak menjadi egois lagi. Terima kasih." []

'Karena menurutku, dua penderitaan yang disatukan bukan akan menjadi penderitaan yang lebih besar. Namun akan menjadi sebuah kebahagiaan, karena dua orang itu akan saling menyemangati dan mengerti satu sama lain.'

***
Masyaallah, lamanya book ini apdet. Maaf manteman :))

Terima kasih sudah membaca, maaf kalau nggak sesuai keinginan. Gue masih amatir :""

Serendipity ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang