2. Swag MYG

1K 141 14
                                        

Vote dulu dong, gaes…

Hari telah berlalu begitu cepat tanpa kusadari karena pekerjaanku yang banyaknya minta ampun. Jika saja aku tak ingat tugasku disini, mungkin aku sudah membakar buku-buku dengan berbagai bahasa yang akan kuubah menjadi huruf Korea itu.

Naasnya, aku tak dapat melakukan hal itu jika tak ingin riwayat mimpi dan hidupku berakhir.

Tapi tenang. Beruntungnya aku ini adalah hari Minggu. Bahagianya, terlebih kala Mark ingin mengajakku ke suatu tempat, sebuah cafe es krim didekat gedung agensi, BigHit!

OH MAN HOLY SHIT!

SUAMIKU! SUAMIKU ADA DISANA!

Sudah lama aku tak bertatap langsung dengannya, 4 bulan itu lama.

"Tambahlah jika masih kurang" ujar Mark yang duduk di hadapanku. Sedari tadi ia hanya memainkan ponselnya sembari sedikit bercengkrama denganku yang sibuk bersama es krim ini, es krim ukuran jumbo.

"Tak perlu, nanti uangmu habis. Lagipula, aku bisa gendut" sahutku dengan bahasa Korea, kami selalu berbicara dengan bahasa negeri Gingseng ini sekarang, menyesuaikan lokasi.

Sesaat setelah ucapanku tersebut, terdengar kekehan pelan sosok baik hati itu, ia kemudian meletakkan ponselnya dan mulai memusatkan atensi padaku sembari tersenyum manis.

"Ya, Tuhan! Nikmat mana lagi yang kudustakan?! Ia begitu tampan! Jika Taehyung bukan jodohku, maka jodohkanlah aku dengan Mark"

"Makan saja kau belepotan seperti itu" tuturnya lalu menggerakkan lengannya secepat kilat menyeka sudut bibirku dengan telaten.

Seketika itu juga, wajahku rasanya panas sekali, seperti cafe ini sedang kebakaran. Sialan, aku ketahuan oleh Mark dan malah dinistakan dengan tawa jenakanya.

Ini terlalu klasik, tapi hatiku memang suka yang klasik walaupun tidak terlalu aesthetic.

Meanwhile…

Di seberang sana tampaklah seorang pria dengan kaus, ripped jeans, hoodie, topi, dan masker serba hitam baru saja menyebrang jalan. Sepatu sneakers nya yang menapaki jalanan itu dengan tergesa menimbulkan perpaduan yang khas bersama suara derapan kaki pejalan lainnya.

Tibalah manusia tersebut didepan sebuah bangunan sederhana namun terkesan klasik dan damai. Buru-buru ia ke kasir kemudian menyebutkan pesanannya, sebuah es krim rasa vanilla yang semenjak kejadian asmara menyedihkan nan tragis (baginya) es krim rasa itu menjadi pujaan keduanya setelah mengenal sosok yang bahkan tak mengenal dirinya lagi.

"Berhenti menertawakanku!," seruku penuh dendam kepada Mark yang dengan sengaja tak memberitaukan letak noda es krim lainnya di wajahku. Andai aku membawa dompet makeup ku, pasti aku dapat melihat pantulan diriku di cermin bundar tercintaku itu.

"Mark! Aku bersumpah akan melupakanmu sebagai temanku lagi!" ancaman murahan ini diikuti dengan tubuhku yang menegak, bersiap untuk pergi bersama tisu yang sengaja kugunakan untuk menutupi parasku yang dibawah standar begini.

Halah! Persetan, toh disini hanya ada aku dan Mark bersama 1 pelayan kasir dan 1 makhluk astral disana.

"Haha! Baiklah… baik! Kemarilah," lengan pria itu kemudian menarik pergelangan tanganku dan mengangkatnya, mengarahkannya kearah sudut kiri atas bibirku hingga kesamping mataku. Separah ini? Sungguhkah?

"Kau lucu" pujinya pelan dengan jarak kami yang sudah terbilang sangat dekat. Apakah ini yang namanya berdebar?

SRET!

Sequel: Dream✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang