Vote dulu, gaes…
Hari-hari telah berlalu, tak terasa ini sudah mendekati akhir pekan, tepatnya hari Sabtu. Pekerjaanku sedikit berkurang, setidaknya aku telah menyelesaikan 5 novel untuk diterjemahkan, dan akhirnya aku dapat sedikit istirahat. Berhubung, aku memiliki waktu luang, tak salah bukan aku pergi ke suatu tempat guna menetralisir pikiranku?
Tahukah? Sejak awal tiba di Korea, aku selalu ingin mengunjungi Sungai Han untuk pertama kalinya, namun itu selalu tertunda. Pernah Mark berjanji mengajakku pergi kesanaㅡ tepat sebelum kami masuk ke mobilnya, si bos sialan itu mulai memerintah Mark seenak jidat; aku membenci pemimpin yang semacam itu.
"Hhh…" helaan nafas ringan terlontarkan dari bibirku bersama mataku yang terpejam kala menikmati semilir angin yang berhembus. Rasanya cukup dingin, karena memang sudah mulai memasuki musim gugur. Wajah lah, ya? Untung aku punya topi dan syal, bahkan masker sekalipun di dalam tasku yang ibarat toserba.
"Ah! Video call!" monologku bahagia dan tentunya bicara sendiri. Kukeluarkan ponselku dari saku jaketku dan mulai menekan salah satu kontak spesial dalam aplikasi SNS.
"Kak Yen! Sari pakai oleh-oleh dari kakak loh. Sari juga pakai masker supaya kelihatan di Korea kata Bibi Jean," celoteh anak gadis riang itu padaku dengan menampilkan buah tangan yang sebenarnya bukan dariku. Ayolah! Mana mungkin aku bisa membeli busana merk Gucci itu? Ekhem! Itu pemberian Yoongi. Baiklah aku berbohong demi kebaikanku sendiri.
"Kakak dimana? Kenapa ada Sungai Bengawan Solo di Korea?" sontak aku tertawa mendengar pertanyaan adikku yang rada gila itu.
"Ini Sungai Han, Sari. Kalau bicara itu pakai otak jangan dengkul, ya?"
"Hilih, kinthil! Kakak nggak pernah sekolah atau apa sih? Orang bicara itu pakai mulut" sahutnya santai sementara aku disini tersentak dan terdiam beberapa saat guna memikirkan kalimatnya yang benar adanya.
"Ck! Kakak salah bicara! Bibi Jean mana?" ubahku akan topik yang tak jelas dan mungkin takkan pernah ada ujungnya jika kuteruskan.
"Ini yang pegang handphone untuk Sari, kan Bibi Jean. Memang Sari boleh pegang handphone? Kakak kurang vitamin ya? IQ kakak kelihatannya turun" seakan tak punya moral kehidupan, bocah diseberang sana terus berceloteh dengan lancarnya bak seorang pasien rumah sakit jiwa yang hyperactive.
Kutuk tidak ya?
Kutuk tidak ya?
"T-tau, ah! Kakak jadi malas bicara sama kamu!"
~•~
Hembusan nafas terengah sambung-menyambung menjadi satu, memenuhi ruangan latihan di salah satu agensi. Hal ini tentunya menjadi rahasia tersendiri bagi para pemilik deruan nafas tersebut, bayangkan saja jika suara itu tersebar di media. Wah… catatan kematian akibat mimisan akan bertambah disetiap rumah sakit dengan dominasi kaum hawa.
Ketujuh makhluk dengan kulit mengkilap serta lengket akibat cairan asin yang mungkin saja penuh daki itu tampak saling mengambil handuk kecil dan air mineral. Begitu menyedihkan bagi siapapun yang melewatkan bagian mereka menyeka peluh itu dan meminum air dengan entengnya, tanpa sadar ada kesan lain yang terpancar. Sungguhkah kita membicarakan hal ini?
"Yoongi Hyung, boleh aku minta nomor atau id SNS fans ku itu?" tanya Taehyung bersama wajah tanpa ekspresinya; ia memang begitu, kadang ia bisa memasang wajah yang bahkan membuat manusia berbentuk bayi sampai uzhur sekalipun jatuh cinta padanya. Kadang ia juga bisa memasang ekspresi yang membuat simpanse dengan senang hati memberikan saliva ke wajahnya itu. 4D lah ya, bebas, terserah ia saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sequel: Dream✔
Fanfiction𝑺𝒆𝒒𝒖𝒆𝒍: 𝑫𝒓𝒆𝒂𝒎 note: disarankan membaca cerita sebelumnya yang bertajuk 'DREAM'. Hanya sekedar goresan tentang bagaimana kisah asmara yang pernah terjalin antara aku dan dirinya. Apakah akan berlanjut dan membawaku pada akhir yang didambak...
