16. Stubbornness

544 71 11
                                        

Vote dulu, gaes...

2 minggu ke depan adalah waktu kepulanganku ke Indonesia. Aku sudah sembuh total dan diperbolehkan pulang beberapa hari yang lalu. Akhirnya aku bisa lepas dari selang dan jarum infus itu. Ah... seandainya saja waktu 2 mingguku ini dihabiskan untuk bekerja, mungkin aku akan merasa lebih bersyukur.

Sebenarnya, tugas dan segala apapun sudah kuselesaikan tempo hari ketika perusahaan meminta beberapa laporan juga sisa pekerjaanku, untung ada Angel yang membantu saat itu. Aku tak tau apa aku harus bersyukur atau tidak ketika diberi waktu libur selama beberapa hari untuk lebih menikmati detik-detik terakhirku di Korea.

Seharusnya aku senang, bukan? Tapi, dengan libur dan tak adanya pekerjaan, hariku menjadi membosankan dan monoton. Tak ada gunanya aku punya kekasih, lebih baik aku punya sahabat yang banyak.
Hei! Si kanebo itu bahkan tak menghubungiku selama ini. Apa ia tak merindukanku? Jujur saja, aku merindukannyaㅡ sangat, sampai rasanya aku hampir gila. Orang tampan, sayang untuk tidak dirindukan.

Persetanlah apa kata film Dilan itu, rindu memang berat tapi aku sanggup memikulnya. Toh, dulu aku saja pernah bekerja sebagai tukang angkat beras di toko Bpk. Batok.

"Mau kemana?" tanya Angel yang saat ini juga bersiap menuju kampusnya dengan tergesa.

"Jalan-jalan" jawabku pelan seraya memasang mantel, syal, dan topi. Aku sudah siap sekarang bersama sepatu boots ku.

"Kuantar?" tanya Angel lagi yang hanya kubalas lambaian tangan sebelum pergi menuju pintu dan keluar dari sana. Memang dari mana lagi? Jendela?

Kutapaki jalanan kota yang dipenuhi serpihan putih salju indah ini. Rasanya udara semakin dingin saja, bagaimana bisa para manusia disini tahan dengan hal seperti ini?

Ekor mataku tak sengaja melirik kearah sebuah mall di seberang sana yang begitu ramai akan antrian apalah itu juga beberapa poster besar tertempel di setiap sisi pintu masuk.

Aku tak tau apa yang membawa langkahku berakhir di depan gedung itu, yang pasti aku hanya diam mematung disana seraya melihat antrian panjang yang didominasi oleh anak muda juga gadis-gadis seumuran denganku.

"Wah... ada fansign rupanya," gumamku dengan raut yang mencoba terlihat biasa saja ketika menengok poster yang terpajang disana dengan tulisan '방탄소년단'. Berarti BTS ada disana, sedang menyapa para fansnya dengan senyum.

Tunggu, kenapa aku memikirkan itu? Sebaiknya aku pergi menuju kedai teh yang ada Wi-fi nya saja.

"Cih! Senyuman yang menyebalkan," gerutuku sebal sendiri saat melihat sosok itu tersenyum dengan manis pada fansnya. Jadi ini rasanya cemburu?

"Semoga bibirnyaㅡ Astaga!," seruju kaget dengan lenganku menepuk bibirku sendiri. Kenapa kami harus bertemu pandang? Dari sekian ratus fans disini, manusia disini, kenapa ia harus melihat kearah sini?!

Buru-buru aku memasang raut biasa saja lalu berbalik dengan enteng padahal ekspresiku berubah panik saat itu juga. Kakiku melangkah menjauhi pusat perbelanjaan itu dengan terburu, layaknya aku adalah pencuri yang begitu gugup sekarang karena takut ketahuan.

Setelah sudah cukup jauh, aku mulai melangkah dengan santai kembali, lebih tepatnya berat. Wajahku sendu begitu saja, pikiranku berkecamuk. Aku sungguh ingin berbicara padanya sekarang, tapi aku gengsi. Aku yang mengusirnya saat itu, masa aku yang memohon? Itu sama saja dengan aku buang air besar lalu aku memakannya lagiㅡ Eh, benarkah?

"Ah... sial! Kenapa aku jadi kemari?," heranku sendiri saat mendapati langkahku berhenti didepan sebuah gedung apartement.

"... aku kan hanya ingin lihat-lihat sebelum pulang ke Indonesia," kini aku meyakinkan diriku yang teramat bodoh. Sungguh, ini seperti bukan diriku saja. Apa aku terkesan tak konsisten? Tak tau malu? Atau ceplas-ceplos? Siapa peduli itu, hah?!

Sequel: Dream✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang