Fajar pagi yang hangat tampak bersemangat menyinari permukaan bumi belahan Asia Timur, tepatnya di Seoul.
Negeri Ginseng dengan sejuta aktivitas yang dilakukan penduduknya ini tampak sangat ramai, seluk beluk trotoar kota tak luput dari kepadatan para pejalan kaki. Pada detik, jam, tanggal, bulan, dan tahun ini; aku pergi menuju sebuah agensi yang sedang melambung bersama artisnya.
Sebenarnya aku malas kerja lapangan begini, tapi apa boleh buat jika atasan menyuruh. Hhh! Baiklah, ini sebenarnya pekerjaan Mark, berhubung ia mengajakku ikut untuk membantunya mengurus beberapa hal dengan iming-iming es krim gratis dan jalan-jalan ke salah satu taman hiburan.
Aku sih, yes.
Namun, keceriaan yang terbentuk untuk menyambut dan menjalani hari kandas sudah ketika aku mengetahui agensi mana yang akan kami kunjungi.
Cinta dan musuhku berada di dalam gedung itu. Yap, Taehyung yang sempurna dan merupakan salah satu bagian dari hatiku (cintaku), ia ada disana. Tapi, sisanya si kanebo kering yang kaku dan menyebalkan itu juga berada didalam gedung itu. Heh! Mengingat hal tak terpuji tadi malam membuatku seakan ingin buang air di wajahnya, sayangnya aku terlalu waras jika melakukan hal itu. Selama ini, aku memang dikatakan tidak waras.
"Aku tunggu di mobil saja" ujarku cepat ketika kami sudah tiba di parkiran depan gedung bertingkat itu.
"Eo? Wae?"
(Oh? Kenapa?)
"Aniyo. Geunyang, ng… naneun, hm… dutong!" sahutku dengan akting ala-ala pemula. Rasanya, aku akan berhasil menipu Mark
(Tidak. Hanya saja, ng… aku, hm… sakit kepala!)
"Benarkah? Kubeli obat?" sambarnya khawatir membuat benakku serasa melonjak bahagia seperti baru saja memenangkan lomba memasukkan benang dalam botol saat TK dulu.
"Tidak, tidak perlu. Aku akan baik-baik saja jika duduk dan istirahat disini. Lagipula, ini hanya sakit kepala biasa" dustaku lagi dengan gaya lesu sementara jauh dalam lubuk diriku sana sedang berpesta karena aku merasa hebat dalam hal ini.
"Oh, baiklah. Kalau ada apa-apa, kau telepon saja aku" ujarnya memastikan keadaanku sembari memberikan sebotol air minum yang kuyakini miliknya, dilihat dari gambar Cinderella disini.
Ya… Mark kan sangat menyukai sesuatu dengan warna biru seperti gaun putri tertindas itu.
Setelah kepergian Mark, tinggalah aku didalam mobil ini sendiri bersama lagu-lagu Disney yang mengalun membuatku sungguh merasa bosan. Jika Sari ada disini, ia pasti akan langsung menghancurkan pemutar musiknya, anak gadis itu lebih suka mendengar lagu India.
Bermenit-menit sudah kulalui dengan bermalas-malasan didalam benda transportasi yang tak bergerak ini. Akhirnya, kuputuskan kakiku untuk melangkah keluar, sekedar menghirup udara segar dan menikmati pemandangan di area sini. Toh, aku bukanlah artis atau idol yang harus sembunyi-sembunyi melakukan pengamatan lingkungan.
"HAH?! Dimana earphone ku?" sebuah suara terdengar memecah konsentrasiku pada seekor ulat kaki seribu yang tubuhnya berwarna merah. Sontak, kepalaku menoleh dengan mata yang tertuju pada 4 manusia yang baru saja keluar dari sebuah mobil hitam disana.
"Apa itu trainee BigHit? Atau artis disini?" gumamku sendiri bersama ulat yang sedang menggulung tubuhnya bak pusar Patrick Star berada diatas telapak tanganku.
"Hyung mungkin meninggalkannya" sahut sosok yang memiliki kontur wajah luar biasa ketika ia menurunkan maskernya dan menampakkan ekspresi kosong pada lawan bicaranya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sequel: Dream✔
Fanfiction𝑺𝒆𝒒𝒖𝒆𝒍: 𝑫𝒓𝒆𝒂𝒎 note: disarankan membaca cerita sebelumnya yang bertajuk 'DREAM'. Hanya sekedar goresan tentang bagaimana kisah asmara yang pernah terjalin antara aku dan dirinya. Apakah akan berlanjut dan membawaku pada akhir yang didambak...
