Hari telah bergulir dan sekarang aku lupa bulan berapa ini. Yang pasti sudah hampir akhir tahun, artinya aku akan segera kembali ke Indonesia. Jika dipikir-pikir aku jadi jarang menghubungi keluargaku disana, itulah sebabnya aku merasa merindukan mereka. Sari pasti bersiap untuk ulangan kenaikan kelasnya sekarang, sementara Bibi Jean bersiap untuk menerima hasil arisan tahunan nya bersama ibu-ibu yang entah dari mana, sejagat raya mungkin.
Ngomong-ngomong, hari ini aku baru saja menghadiri sebuah acara besar dengan tiket mahal sebagai ARMY beruntung.
Nikmat mana yang kudustakan?
Inikah rasanya memiliki kekasih seorang idol?
Tak dapat terjelaskan perasaanku begitu melangkah keluar dari gedung itu setelah melihat idolaku dance dengan lincahnya diatas panggung bersama suara mereka yang membuat siapapun meleleh. Oh! Astaga! Mimisan aku dibuatnya.
"V sungguh luar biasa! Bagaimana bisa ia sekeren itu?!" racauku begitu berada di parkiran bersama rekanku yang senantiasa memasang raut melayang ketika melihat Jimin.
"Jimin lebih keren!" tuturnya membuatku menoleh seketika kearahnya dengan wajah gahar.
"Hei!," bentakku disusul tolehannya lalu kami beradu tatapan selama beberapa detik sebelum berseru seperti menusia kesetanan.
"MEREKA SEMUA KEREN! ULULULU!," kami meracau dan menari-naribtak jelas. Baiklah, kami memang gila dan terlihat layaknya putri kepala suku di upacara adat zaman dulu.
"Tunggu. Dimana kunci mobilku?" panik Angel yang sedang kelayapan mencari satu-satunya barang untuk membuka pintu mobilnya.
"Jangan-jangan… kau menjatuhkannya saat loncat-loncat tadi?!," itu dugaan paling meyakinkan bagiku yang kini berusaha membantunya menjelejahi setiap saku yang ia miliki saat ini. Angel tidak membawa tas tadi dan ia memilih meletakkan kunci mobil di saku belakang celananya. Sialnya, sekarang tidak ada.
"Ayo cari didalam," saranku yang segera dibalasnya anggukan. Kini kepala kami mulai menunduk, menelusuri lantai parkiran ini sampai tiba didepan pintu masuk khusus para penggemar.
"Ah… ini konyol. Kita seperti mencari jerami di tumpukan jarum. Melelahkan dan menyakitkan. Leherku jadi kaku begini" keluhan akhirnya terlontar olehku setelah bermenit-menit sibuk sendiri bersama Angel sampai akhirnya tibalah seorang pria gagah berani menghampiri kami.
"Apa yang kalian lakukan disini? Acara sudah selesai! Kalian sasaeng fans, kan? PERGI SANA!" usiran jahat itu terlontar dengan indahnya oleh sang makhluk berdada bidang dihadapan kami.
"A-anu… maaf tapi sebenarnya kaㅡ" perkataanku terpotong karena bentakannya lagi, ia membuatku ingin pipis dicelana.
"Apa?! Sebenarnya apa? Kalian istri dari para idol disini? Hhh… Agassi, aku hanya ingin memperingatkan kalian bahwa itu sungguh tak baik. Mereka adalah idol dan kalian hanyalah penggemarㅡ"
"HEI, SIALAN! Dengar ini! Kunci mobilku hilang dan aku sedang mencarinya sekarang!" Angel geram. Aku tau itu ketika melirik raut wajah dan gerak-geriknya yang baru saja menodorong petugas keamanan didepan kami hingga mundur beberapa langkah.
"Angel, sudahlah" bisikku memperingatinya yang benar-benar diluar kendali. Oh! Ayolah, aku paham ia sedang bad mood karena lelah mencari kunci mobilnya.
"Diam kau belatung!" tegasnya cepat sampai aku tersentak dan perlahan mundur selangkah demi selangkah untuk mengamankan diriku.
Hei, tahukah? Angel adalah mantan atlet bela diri terbaik di pulau Jawa, ia bahkan punya pelatih asal Jepang dulu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sequel: Dream✔
Fanfiction𝑺𝒆𝒒𝒖𝒆𝒍: 𝑫𝒓𝒆𝒂𝒎 note: disarankan membaca cerita sebelumnya yang bertajuk 'DREAM'. Hanya sekedar goresan tentang bagaimana kisah asmara yang pernah terjalin antara aku dan dirinya. Apakah akan berlanjut dan membawaku pada akhir yang didambak...
