Satu tahun setelah sang ayah meninggal dunia, keadaan rumah semakin tidak terkendali. Emosi Angga semakin tidak bisa ditebak, terkadang ia marah-marah tanpa sebab, terkadang murung. Hal itu membuat Karin khawatir akan keadaan kakaknya.
Seperti hari ini, Angga yang tadi pagi biasa-biasa saja tiba-tiba terlihat murung.
"Kak Angga ada masalah?" tanya Karin. Namun Angga tidak merespon sama sekali. "Kak Angga kenapa? Dari tadi kok..."
"DIAM!!! Lo nggak usah ganggu gue, gue lagi pengen sendiri. Dan asal lo tahu masalah gue apa? Masalah gue itu lo sama adek lo!" seperti itulah, emosi Angga tidak terduga.
"Ma..ma..maksud kakak apa?" Karin sangat terkejut dengan respon Angga yang demikian. Dadanya sesak. Ia berusaha sekuat tenaga agar air matanya tidak jatuh di depan Angga. Ia berusaha untuk tetap tegar.
"Maksud gue? Lo pikir aja sendiri!" jawab Angga sambil berlalu meninggalkan Karin.
Setelah Angga pergi air mata Karin mengalir dengan sendirinya. Ia nggak sanggup menghadapi sikap Angga yang seperti ini. Ia curiga ada yang salah dari Angga. Ia berniat mencari tahu sesuatu yang menjadi penyebab dari perubahan sikap Angga.
Ketika Angga sedang tidak di rumah, Karin segera masuk ke kamar Angga yang tidak di kunci. Ia menggeledah kamar Angga. Dan ternyata dugaannya benar, Angga menyembunyikan sesuatu dari keluarganya. Angga menyembunyikan beberapa butir obat yang Karin yakini sebagai obat penenang di bawah bantalnya.
"Sejak kapan kak Angga pake ini?" Karin sangat terkejut, ia tidak menyangka kakaknya akan senekat itu.
***
Lain cerita dengan Angga, kini Dira hampir setiap hari pulang malam. Bahkan beberapa kali Karin melihat Dira pulang sambil berjalan sempoyongan menuju kamarnya. Namun Karin hanya memperhatikannya dari jauh, ia tidak ingin situasi rumah menjadi semakin panas.
Sampai suatu ketika Karin sudah tidak tahan dengan kelakuan Dira. Bahkan banyak isu miring yang Karin dengar dari tetangganya tentang Dira.
Malam ini Karin rela begadang untuk menunggu kepulangan Dira. Sudah pukul 00.30 dini hari Dira belum kunjung pulang. Ketika Karin hampir terlelap katena matanya sudah tidak bisa diajak kompromi, ia mendengar suara pintu dibuka. Dan benar, itu Dira. Ia berjalan sempoyongan tanpa memperhatikan keberadaan Karin.
"Dira, dari mana kamu?" tanya Karin mencoba berkata sehalus mungkin agar tidak menyulut kemarahan Dira, apalagi saat ini tengah malam. Karin merasa tidak enak kalo harus bertengkar dengan Dira dan tentunya akan membuat tetangganya terganggu.
"Bukan urusan kakak." jawab Dira sekenanya.
"Kamu mabuk?"
"Kalo iya kenapa? Dira cuma ingin senang-senang kak, Dira bosen kayak gini terus."
"Kalo kamu bosan nggak harus kayak gini juga, Dira. Banyak kegiatan-kegiatan positif yang dapat kamu lakukan untuk menghibur diri kamu." nasehat Karin.
"Halaah.. Dira ngantuk, ceramahnya besok aja ya."
Ketika Dira telah bersiap untuk melangkah pergi, dengan sigap Karin menarik tangan Dira. "Dira, udah cukup kamu kayak gini. Kalo kamu seperti ini bukannya seneng tapi kamu malah sengsara. Tetangga-tetangga banyak ngomongin yang nggak-nggak soal kamu, Ra. Kakak mohon, ini yang terakhir. Tolong jaga harga diri kamu dan harga diri keluarga kita, Ra."
"Kakak nggak usah ngatur-ngatur hidup Dira. Ini hidup Dira, Dira juga yang jalanin, kakak nggak usah repot-repot ngatur hidup Dira!" setelah itu Dira segera berjalan meninggalkan Karin dengan langkah yang tidak seimbang.
Karin hanya bisa mengelus dada menghadapi sikap kedua saudaranya kini. "Ayah. Bunda. Karin rindu kalian. Bunda, kapan bunda pulang, Karin nggak sanggup kalo seperti ini terus." gumam Karin.
#tobecontinue
KAMU SEDANG MEMBACA
Broken Home ✔
Teen FictionKeluarga adalah tempat di mana seseorang mendapatkan perlindungan, kenyamanan, serta kasih sayang. Keluarga juga merupakan tempat di mana seseorang berbagi suka dan duka. Namun bagaimana jika salah seorang anggota berusaha memecah belah keluarganya...
