Setelah selesai minum aku dan kak Aldo pun beranjak melangkahkan kaki secara kompak menuju tempat ternyaman disekolah ini yaitu Sanggar pramuka. Kami pun masuk ke sanggar aku dan kak Aldo mengambil peralatan untuk membersihkan tempat ini. Aku dan kak Aldo mengambil air untuk mempermudah kegiatan berpahala ini.
Ketika aku dan kak Aldo kembali lagi ke sanggar betapa terkejutnya aku ketika mendapati seorang laki-laki yang membuatku naik darah hari ini sedang mengobrak-abrik sebuah kardus yang berisi kain- kain.
"Hey si Crazy man ngapain lo berantakin nih sanggar? Emang lo kira bersih-bersih itu gak pake tenaga apa? Hah?" kataku judes.
" Lo lebay banget sih, Kek banci Jalanan. Biasa aja kali ngomongnya! cuman bersih-bersih doang mudah kali, ni sanggar 5menit doang bisa bersih. Bahkan jauh lebih bersih dari Akhlak lo." kata si crazy Man dengan nada nyolot sambil menunjuk-nunjuk diriku.
Wajahku merah padam menahan marah akan perkatannya, dan kak Aldo yang sedari tadi ada disampingku melongo mendengar perkataan si Crazy Man alay sok dermawan ini.
"Dito kalo kamu marah tolonglah, kata katanya dikondisikan. Masak kamu bawa- bawa Akhlak? Ini cewek,loh? Jagalah perasannya." kata kak Aldo menceramahinya secara halus.
"Maaf,kak. Emang Akhlak ni anak gak bagus,kurang ajar,gak tau sopan santun, emosian dan selalu ngerasa tinggi atau sok karena jabatan Pradana yang disandangnya." katanya agak santai namun tegas.
"Arghh lo ini apasih maunya? Loh udah berantakin sanggar! Ngehina gua, ngomentarin akhlak dan perilaku gua. Disini siapa yang kurang ajar dan gak tau sopan santun? Lo inget yah disini lo itu Bukan siapa siapa, lo itu cuman dimanfaatin buat nutupin regu. Jdi tolong bersikap sewajarnya jangan sok berkuasa! Tahu diri lah istilah halusnya." Balasku tegas sambil melotot.
"And than gua itu paling benci sama orang yang lebih besar
Teori dari pada prakteknya atau gede omongan doang.
" Nin..." kata kak Aldo memotong pembicaraanku dengan ekspresi Ketakutan.
"Apaan sih kak? Jangan ganggu! Aku mau ni anak ngerasain apa yang aku rasain yaitu turunnya harga diri " kataku rada membentak kak Aldo tanpa memikirkan perasaanya karena aku sudah sangat kesal.
" Tapi Nin,Anu?" kata kak Aldo makin ketakutan.
" Ssttt, Kak Aldo diem. Dan sekarang lo si cowok komentator akhlak orang, lo buktiin kalo dalam waktu 5menit lo bisa bershin ni sanggar sebersih bersihnya" kataku dengan nada bicara seperti bos yang hendak memecat karyawannya.
"Ohh.... Jadi gini? Bagus yah Pradana putri sifat dan akhlak nya kek preman pasar. Ngomong gak ada etika dan sopan santun, bagus banget. Kakak nyesel milih kamu jadi Pradana kalo kek gini caranya." kata seseorang perempuan yang lebih tua dariku (senior). Dialah seseorang yang telah memilihku jadi Pradana putri dulu yaitu Kak Dian.
"Eh,kak Dian. Apa kabar kak?" kataku sambil tersenyum garing berusaha mencairkan suasana.
Aku terkejut bukan main aku merasa tak enak hati dengan Kak Dian yang telah memilihku sebagai pradana apalagi terucap kata menyesal aku sungguh sungguh tak enak hati.
"Tidak usah mengalihkan pembicaraan,Nina." katanya yang mengetahui maksudku.
Aku hanya terdiam membisu. Otakku tak mampu berfikir dan hatiku tak mampu merangkai kata.
" Bagus yah. Ok kalo kek gini sesuai janji kamu dulu,dong . Wakil kamu si Lia bakal gantiin kamu sebagai Pradana Putri dan kamu jadi anggota biasa. Kakak paling tidak suka kalau seorang pemimpin tidak mempunyai akhlak dan etika yang baik.Mau jadi apa bangsa ini kalau pemimpin atau generasi penerus bangsa seperti kamu." kata Kak Dian dengan nada marah
"Whatt?? Gak bisa gitulah kak! Kakak Pikir Mudah jadi Pradana! Cuman gara gara aku marahin ni anak kok harus cabut jabatan? Ini gak adil kak!" kataku dengan nada agak membentak karena tak terima.
Kak Dian tersenyum asem
"Dasa dharma ke 3 patriot yang sopan dan kesatria. Kamu ngebentak kakak, yang notabene nya lebih tua dari kamu. Nunjukin banget kalo kamu gak pantes di Pramuka dan gak pantes jadi Pradana. Tunggu surat pemberhentian secara tidak hormat dari kakak." kata Kak Dian mengancam.
Aku menggeram sejenak, mengepalkan tangan lalu memalingkan wajah dan berlari menuju halaman luar sekolah untuk pulang, buat apa aku tetap disini karena secara tidak langsung aku sudah bukan anggota Pramuka lagi. Kak Aldo pun mengejarku dan mencoba menahanku agar tidak pulang.
"Nin, Ayolah minta maaf aja sama si Dian. Kamu jangan gini lah."
Aku berhenti lalu mengusap entah air apa yang ada di pipiku. Mengambil kertas yang terlipat-lipat di saku celanaku, lalu menyobeknya di depan kak Aldo.
"Maaf kak, Aku gak jadi ikut kemah. Bener kata Kak Dian aku gak pantes di Pramuka. Terimakasih atas bimbingan kakak dan angkatan selama ini, maaf Nina berhenti dari Pramuka." kataku sambil menangis
"Jangan gitulah,dek. Kamukan...sstst..." kata Kak aldo tertahan dan karena aku meletakkan jariku di depan mulutnya agar dia tak banyak bicara lagi.
" Udah kak. Biarkan Nina pulang, Nina mau ngelupain hari ini." Kataku sambil agak menangis.
Aku pun berlari dan langsung Naik becak di depan gerbang sekolahku....
"Sungguh Aku menyesal datang hari ini" ucap batinnya.
Selalu ada cobaan bagi sesiapa saja untuk jadi lebih baik.
Jika kau mampu melewatinya kau akan jadi yang terbaik.
Jika tidak kau akan kembali pada siapa kamu di tempo dulu.
Amarah Pembawa Bencana😥
KAMU SEDANG MEMBACA
Buper Cinta
Roman d'amour" Cinta kok maksa sih? Cinta itu gak boleh dipaksakan Dito!" " Bisa karena biasa, biasa karena terpaksa. Semuanya akan biasa saja setelah ini dipaksakan. Jadi,ayolah terima saja cintaku ini." Dito Almehry Putra " Percuma emang ngomong sama pemaksa...
