Duniaku hancur sejak itu

104 18 4
                                        

Kesenangan sepertinya tidak pernah mau bersamaku. Entahlah, sepertinya memang begitu. Aku baru saja merasa bahagia akan hari indah ini. Bersama pria gila yang baik hati, ah tidak dia jahat aku akan tetap membencinya sampai kapanpun juga.

Suara pintu kamar dibuka. Setelah masuk meninggalkan Dito tanpa ucapan terimakasih sedikit pun, Nina memutuskan untuk masuk ke kamarnya. Mandi lalu tidur, tidak belajar karena untuk apa dia melakukan hal itu. Toh, dia juga sudah mengambil formulir pendaftaran ke sekolah lain. Secara tidak langsung berarti ia sudah dikeluarkan dari SMA Rembulan yang  memilukan baginya.

10 menit kemudian,Nina keluar dengan handuk yang melekat di tubuhnya. Ia melihat wanita yang ia benci terduduk di tempat tidurnya, setelah merapikan seragam sekolah kotor yang ia lempar ke kasur saat akan mandi. Wanita itu tak lain adalah Mamanya, ia melihat Nina yang sedang melihatnya pun lantas memberikan senyum. Alih-alih membalas Nina malah langsung menuju lemari pakaian, mengambil baju tidur dan mengenakannya.

Sampai ia selesai, wanita itu tetap setia terduduk di tempat tidurnya.

" Kamu keliatan bahagia hari ini. Gak kaya biasanya, mama suka liat kamu bisa senyum. Meskipun itu bukan karena mama." Kata perempuan itu.

Nina hanya diam
" Hmm, kalo pacaran jangan sampai malem-malem yah. Mama takut terjadi sesuatu sama kamu. Kalo mau jalan mama kasih waktu 3 jam aja. Jangan lebih apalagi gak pulang."

Nina tetap diam tak menanggapi. Lagipula siapa yang pacaran? Ia berdua dengan Dito seharian ini, hanya karena ia takut viral lagi di sekolah karena foto aibnya. Wanita itupun ikut diam, karena lawan bicaranya tak menanggapi apa yang ia katakan.

" Gak cukup yah ngambil semuanya dari gue? Sampe tempat tidur gue pun mau lo rebut." Kata Nina memecah keheningan dengan ekspresi datarnya.

" Sopankan sedikit bicaramu,nak. Aku ini mamamu bukan musuhmu." Jawab wanita itu.

" Oke, jadi nyonya Gresta apa yang Anda inginkan? Apakah anda ingin aku mati? Atau anda ingin menyiksaku habis-habisan seperti dulu, hanya karena aku merusak perlengkapan makeup mu? Geli sumpah gue kalo inget itu, Makeup melebihi segalanya mungkin, derajat makeup dimata Lo kala itu seperti Tuhan, karena Makeup doang Lo mau ngerenggut nyawa gue."

Wanita itu beranjak dan memegang bahu Nina " Aku peringatkan lagi, aku ini Mamamu. Tolong sopan walau sedikit." Kata wanita bernama Gresta itu.

Nina menepis tangan yang menempel dibahunya dengan kasar, mengambil ponsel lalu hendak berjalan keluar. Dengan cepat sebuah tangan menghentikan langkahnya.

" Maafin Mama,Nin. Mama nyesel, beneran Mama nyesel banget ngelakuin hal itu ke kamu dan Nenek. Mama ngelakuin hal itu demi kamu juga, nak. Ayolah mengerti."

Nina menghela nafas, ia berbalik badan mendekati perempuan itu

" Lo ngelakuin itu demi gue? Apa gak salah? Lo nelantarin anak demi bergelimang harta, itu baru bener. Hah! ninggalin anak demi pria berharta melimpah, malu gue lahir dari rahim wanita yang sebelas dua belas ama jalang."

Plak...
Sebuah tamparan mendarat di pipi Nina. Ia menunduk beberapa saat sambil memegang pipinya. Nafasnya tak beraturan dadanya sesak karena, ia sedang menahan emosi agar tidak menyakiti mamanya. Sebenci apapun, ia tak akan mau memukul mamanya.

" Sesalah itukah mama dimatamu? Sehina itukah posisi mama bagimu? Apakah semalu itu Nina lahir dari rahim mama?" Tanya sang mama sambil terisak.

Hati Nina terasa tersayat, tapi bagaimanapun juga. Nina tetaplah Nina, ia tak membenci mamanya karena masa kecilnya yang kelam dan ditutupi kabut hitam, setelah ayahnya meninggal karena pesawat yang ditumpangi ayahnya hilang kontak dan mengalami kecelakaan, ditambah lagi sang mama yang tega pergi jauh hanya untuk mencari materi.

Buper CintaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang