" Cinta kok maksa sih? Cinta itu gak boleh dipaksakan Dito!"
" Bisa karena biasa, biasa karena terpaksa. Semuanya akan biasa saja setelah ini dipaksakan. Jadi,ayolah terima saja cintaku ini." Dito Almehry Putra
" Percuma emang ngomong sama pemaksa...
Nina bangun pagi, tanpa neneknya berkicau seperti burung hanya untuk membangunkannya. Ia sudah mengenakan seragam sekolah. Dia tidak amnesia, ia tahu ia sudah dikeluarkan dari sekolahnya. Tapi, ia tak mau membicarakan pada neneknya. Karena ia takut neneknya akan shok dan masuk rumah sakit seperti kejadian yang dulu-dulu.
Setelah sarapan ia langsung memesan gojek, bukan ke sekolah melainkan ke sebuah taman bermain yang jauh dari rumahnya. Tak lupa ia membawa baju ganti. Sesampainya disana ia mencari toilet umum untuk mengganti baju sekolah yang ia kenakan. Setelah ia memakai setelah jeans dan Hoodie oversize, ia langsung menemui seorang wanita yang berusia 26 tahunan di sebuah pondok kecil yang merupakan rumah belajar.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Hallo Mbk Lili." Sapa Nina.
" Oh hey Nina. Astaga apa kabar? Udah lama kamu gak kesini? Anak-anak pada nanyain kamu loh? Pada rindu diajarin sama Mbak Nina katanya." Kata mbak Lili.
" Sibuk mbk." Jawab Nina.
" Alah, sibuk opo? Sibuk pacaran? Kamu masih inget kata-kata mbk,kan? Pacaran tuh gak guna. Sekarang jangan cint..." Ucap mbk Lili yang di potong oleh Nina.
" Iya mbk Nina masih inget,kok . Lagian aku juga gak pernah pacaran. Mana ada yang mau sama preman pasar kayak aku." Kata Nina.
" Ya kali aja kamu udah pacaran , tapi kamu cantik loh walaupun kayak preman, pinter lagi. Untung mbk cewek, kalo mbak cowok udah mbak lamar kamu dari awal kita ketemu."
" Duh udah mbk jangan bikin aku merinding, jangan jadi LGBT." Kata Nina
Mendengar jawaban Nina, keduanya langsung tertawa. Setelah itu mbak Lili mengajak Nina masuk. Benar saja kata mbk Lili di awal, banyak anak-anak yang senang melihat sosok Nina bisa hadir lagi. Sudah satu tahun Nina tidak menyambangi rumah belajar yang dirikan olehnya dan mbak Lili. Akibat neneknya masuk rumah sakit, urusan organisasi dan tugas sekolahnya yang banyak ia jadi tidak pernah ke tempat itu lagi.
" Halo, adik- adik. Gimana kabarnya? "Baik kak Nina." Jawab anak-anak yang mengetahui Nina.
" Oh iya buat yang belum tau, kenalin dulu nih. Nama kakak Nina Oktaria Indina, Kakak masih kelas 2 SMA. Kakak bersekolah di SMA Negeri Rembulan."
" Oh masih SMA, Kakak cantik banget pasti kakak punya mama su cantik juga toh." Kata seorang anak dengan logat Papua yang khas.
Nina tersenyum "kamu siapa namanya?"
Anak itu berdiri, " Kenalkan kakak, namanya Ghani, panggil saja sa Ghani tapi sa rasa sa ini mirip Al-Ghazali." Kata Ghani dengan percaya dirinya.
"Huuuuu." Sorak semua anak-anak.
"Mimpi aja, kepedean." Kata Bandi
"Sst, Bandi gak boleh gitu. Dia emang mirip Al-Ghazali kalau dia putih." Kata Nina