Pertanyaan nenek yang malah menimbulkan kepanikan di batinku. Aku hanya menjawab
"Nanti aja nanyanya,Nek. Kasian dia kayaknya kakinya terluka. Mending kita obatin dulu didalem." ujarku
Nenekku hanya mengangguk sebagai isyarat "Iya". Aku pun langsung memapah si Dito menuju ke ruang tamu setelah sampai diruang tamu aku membaringkannya di sofa. Aku langsung berlari mengambil kotak P3K. Setelah kudapatkan kotak itu aku langsung mengobati lukanya lalu memberinya perban. Namun selama aku mengobati lukanya, Dito selalu memperhatikanku dan terkadang melirik wajahku. Biasanya aku marah kalau ada orang yang memperhatikanku seperti itu,tapi kali ini tidak aku hanya pura pura tidak tahu saja.
"Ternyata kamu juga bisa lembut yah? Kirain kamu selalu sangar dan galak." ujar dito sambil tersenyum
" Diem lo. Gak usah ngejek." kataku membentak sambil melihat wajahnya
Nenekku pun menggelengkan kepala nya dan berkata
"Nina...Nina. Emosi mulu. Dia muji bukan ngejek. Sekolah udah 11 tahun kok gak pinter pinter. Hadeuh dasar cucuku." ujar nenekku
Aku hanya cemberut sambil membereskan isi kotak P3K itu. Setelah selesai aku berdiri dan memegang kotak itu lalu berkata.
"Udah selesai sekarang lo boleh pergi dari sini" ujarku sambil tanganku menunjuk kearah pintu.
"Gak mau ah. Aku masih mau ngobrol sama nenek." katanya
"Nenek sibuk. Nenek harus istirahat. Jadi sekarang silakan lu pergi sana." ujarku pada Dito
" Eh enggak,kok. Nenek gak capek, nenek juga gak sakit. Kamu mau ngobrol sama nenek? Yaudah ayo, nanti biar Nina yang bikinin makanan sama minumannya." ujar Nenekku.
Dito langsung menatapku seolah dia berkata "skakmat"
" Nenekkkk." ujarku dengan menggeram
" ssttt, Nina jangan ngebantah omongan nenek. Nanti nenek telpon ibu kamu bilang kalo kamu bandel dan gak mau nurut lagi sama nenek. Biar dimarahin abis abisan. " ujar nenekku mengancam.
"Huh, nenek mah gitu, mainnya ancaman mulu, ih!" kataku sambil cemberut.
Nenek dan Dito tersenyum melihat hal itu. Aku sangat tak suka melihat Dito tersenyum, aku benci senyuman busuknya. Akupun berlalu menuju dapur untuk menghidangkan makanan dan minuman untuk mereka berdua. Lima menit kemudian makanan itu selesai aku siapkan lengkap dengan minuman nya.
"Nih,Nek. Udah dibuatin selamat makan." ujarku sambil tersenyum.
"Wah, rumah nenek kayak di restoran yah? Ada yang ngucapin selamat makan, Hehehe." ujar Dito pada Nenekku.
" Hehehe iya bener kamu." ujar Nenek
Mereka rupanya sudah berkenalan. Aku semakin jengkel melihat Dito yang sudah akrab dengan nenekku seperti cucu jauh dari seberang samudra saja. Aku duduk dan berpura-pura membaca novel berjudul "Rain love in Monday", nampak mereka berdua seperti tambah akrab saja dan sesekali keduanya tertawa. Aku yang merasa tidak nyaman dengan suasana itu langsung beranjak untuk masuk kekamar, spontan nenekku langsung melarang dengan berkata.
"Tidak sopan meninggalkan tamu setampan Dito."
Ekspresi wajahku pun berubah seolah berkata "Apa apaan nenekku ini?"
Dito pun terkekeh melihat ekspresiku yang mungkin lucu baginya. Akupun duduk kembali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Buper Cinta
Romance" Cinta kok maksa sih? Cinta itu gak boleh dipaksakan Dito!" " Bisa karena biasa, biasa karena terpaksa. Semuanya akan biasa saja setelah ini dipaksakan. Jadi,ayolah terima saja cintaku ini." Dito Almehry Putra " Percuma emang ngomong sama pemaksa...
