Curahan Hati Shania

1K 175 11
                                        

Satu jam yang lalu, Kinal dan Veranda pamit pulang. Tinggalah kami berempat di rumah.
Aku, Ansel, Shania dan Bi Tini.

Bi Tini di dapur menyelesaikan tugasnya menyiapkan makan malam nanti .
Setelah memandikan Ansel, kami ke ruang tengah karena Shania ingin bercerita. Entah apa, tapi nampaknya dia gelisah.

"Kak,,, ada rencana mau keluar nggak? Kuliner kek, atau nonton gitu? " Shania bertanya.

"Kenapa? Pengen sih. Tapi, Ansel masih terlalu kecil untuk diajak keluar. !" jawabku.

Shania mengangguk.
"Iya sih ya."

"Nanti deh dipikirin. " lanjutku berusaha menghibur Shania. Lagipula aku heran, tiba-tiba wajah Shania makin muram. Sedang ada masalah berat kah?

"Shan,,, kamu kenapa? " tanyaku memberanikan diri.

Shania menghela napas berat.

"Nggak tau nih. Galau banget rasanya." jawab Shania. Tubuhnya makin menyender pada sofa dengan malas seperti orang putus asa.

"Galau masalah cowok lagi? " tanyaku menebak.

Shania menoleh padaku lalu mengangguk.
Kini giliran aku yang menghela napas.
"Cowok yang kemarin? "

Shania menggeleng.
"Dia udah aku buang ke laut. Cowok nggak peka gitu buat apa dipertahanin. Ini cowok yang beda. "

"Syukurlah ." ucapku refleks.

Shania menatapku bingung.
"Heheh,,," aku nyengir. Kelepasan.

"Terus sekarang siapa yang buat kamu jadi galau gini?"  tanyaku berusaha mengalihkan dengan tampang penasaran. Siapa tahu kenal.

"Temen lama sih." jawabnya.

"Temen lama? Kok bisa? "

"Nah itu dia. Udah kayak film deh. Teman Tapi Menikah. Tapi, sumpah aku nggak pernah ngebayangin kalo ternyata temenku itu selama ini punya rasa. "
Kini Shania duduk dengan benar-- tidak menyender-- dan menjelaskan dengan semangat.
"Aku pikir perhatian yang dia Kasih ya sekedar perhatian temen untuk temennya, tapi ternyata. " Shania bicara seolah tak percaya.

"Mending ya kalo yang di film itu akhirnya beneran nikah. Lha kalo aku sama dia? "
Aku mengangguk. Mengerti maksud ucapan Shania.

"Jangan pacaran sama sahabat sendiri, karena jika putus , kalian akan kehilangan pacar sekaligus sahabat. "
Ucapnya.

"Dia bukan cuma bilang suka. Tapi, dia mau serius. " sambung Shania.

"Terus kamunya gimana? " tanyaku.

Shania merengek. "Nggak tau. "

"Dia tuh baik. Udah kayak kakak, tapi bisa jadi temen curhat. Kenal aja dari jaman aku masih ingusan. "

Aku terkekeh.
"Kamu dulu ingusan , Shan? " tanyaku geli.
"Ishh,,, si Kakak, orang aku lagi serius. " komplainnya.

"Iya iya,, "

"Gini, setiap orang yang mau menjalin hubungan itu, didasarkan dengan rasa. Rasa yang nggak mau jauh dari dia, rasa pengen miliki dia, rasa yang nggak akan rela kalo dia bahagia sama orang lain selain kita, dan rasa-rasa lainnya. Kamu ngerasain gitu nggak sama dia? " tanyaku.

Shania diam seolah memikirkan tiap ucapanku.

"Ada sih, tapi kan lucu aja. Dulu dia yang udah aku anggap kakak, terus sekarang jadi calon suami. "

"Shan, apa kamu pikir aku nyangka akan nikah sama Al? "

"Dari segi usia, aku lebih tua. Dari segi kebiasaan, Al itu cuek. Nggak romantis. Hingga satu hari, di hari dia lamar aku, saat itu juga aku yakin Al beneran cinta sama aku. Dan harusnya, kamu juga mikir gitu sama cowok yang mau serius itu. " ucapku menasehati.

Shania menghela napas lelah.

"Bentar, jadi kamu ke sini itu mau hindarin dia? "

Shania nyengir. Matanya bahkan nyaris hilang.
"Bukan menghindar sih, cuma butuh ketenangan buat mikir jawabannya nanti. Aku nggak mau salah pilih jalan. "

"Kalo salah pilih jalan, masih bisa balik arah. Kalo salah pilih pasangan? " tanyaku.

"Balik sama mantan. " jawab Shania sambil tertawa .

"Hahaha,,, "
Dan aku pun ikut tertawa.


Wonderful LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang