7. Vanessha dan Malam Minggu

106 8 0
                                        

Hari ini adalah hari sabtu yang berarti nanti malam adalah malam minggu. Malam minggu, malam yang ditunggu-tunggu oleh para pujangga untuk berburu mesra dengan kekasihnya masing-masing. Lain halnya dengan jomblo, yang menganggap malam itu adalah malam terkutuk sepanjang masa. Sehingga menimbulkan rasa iri dan dengki yang membuat mereka berdo’a tidak lazim. Seperti, meminta hujan di malam minggu.

Saking ngenesnya. Saking pedihnya. Terkadang, Furqon berteriak di sepanjang jalan, “TIDAK ADA YANG NAMANYA MALAM MINGGU! MALAM MINGGU HANYA MITOS!.” Kalau, Furqon lagi kumat gitu. Gue sama Mario Cuma bisa geleng-geleng kepala, sambil ngomong, “Bukan temen gue!”.

Setiap malam minggu, Mario pun selalu ngajak gue sama Furqon buat salat maghrib berjama’ah di rumahnya. Katanya, “Buat do’a bersama, kalau do’anya rame-rame pasti dikabulin.” Gue sama Furqon Cuma iya-iya-in aja kata Mario.

Dari situ lah, Mario menjadi ustadz dadakan.
“YA ALLAH YANG MAHA PENGASIH LAGI MAHA PENYAYANG. TOLONG KASIHANILAH KAMI PARA JOMBLO SYARIAH ANTI PACARAN INI. TURUNKANLAH HUJAN MALAM INI. AGAR KAMI TERHINDAR DARI RASA IRI DAN DENGKI KEPADA MEREKA PARA SETAN YANG TERKUTUK (orang pacaran) .JUGA AGAR TERHINDAR DARI DOSA SERTA JINAH YANG SERING TERJADI DI MALAM MINGGU. KARENA SESUNGGUHNYA BERPACARAN ADALAH HUBUNGAN LAKNAT YANG TIDAK PUNYA HATI, TEGA MEMBUAT KAMI (para jomblo) SIRIK DENGAN HATI TERIRIS. KASIHANILAH KAMI PARA JOMBLO YANG TAK PUNYA PACAR INI YA ALLAH. AMIN.”

“AMIN”

“Al fatihah..”

Mario emang suka gitu, mimpin do’a buat hujan di malam minggu. Walau, gue tau dia salat kalau maghrib aja. Tetapi, do’a bersama dengan kawan senasib memang mujarab. Buktinya setelah beberapa jam kemudian, langsung turun hujan deras. Disaat itulah gue merasa bahagia.

“SIAPA KITA?!” teriak Mario.

“JOM-BLO SYA-RI-AH !” Jawab gue dan Furqon bersamaan.

“YANG KITA MAU?!”

“Hujan...hujan.”

“KAPAANNN?!”

“MALAMMMM MINGGUUUU!”

“YEAYYYYYYYYYYYYY!!”

Tapi, untuk malam minggu ini beda. Gue berharap do’a jomblo gak terkabul saat ini. Gue berdo’a agar malam minggu ini cerah, tentunya untuk mendukung gue menjadi bad boy.

Ya, gue, Furqon, dan Mario memutuskan untuk menepati janji pada Obet untuk ketemuan di Gang Rantang malam ini. Jujur, gue deg-degan banget. Takutnya Obet gak serius sama ucapannya kemarin dan Cuma mau ngerjain kami aja. Tapi, hati kecil gue selalu bilang, “Inget! Vanessha lagi nunggu lo untuk menjadi bad boy yang dia mau.”
Dari situ gue jadi semangat lagi buat jadi bad boy. Terimakasih hati, meskipun lo kecil dan gak keliatan, tapi lo selalu ada buat gue.

----O0O----

Di sekolah gue ini termasuk sekolah yang kalau hari sabtu masuk. Terkadang gue malas buat masuk di hari sabtu yang gabut ini. Guru pun Cuma beberapa aja yang masuk. Ya, begini lah anak TKR sering banget jamkos di kelas.

Mungkin karna kelakuan kami yang luar biasa sehingga membuat guru-guru segan masuk ke kelas kami. Terutama kelas gue, kelas yang dikenal paling horor seantero sekolah, yang terdiri dari sembilan jurusan ini.

Tak terasa waktu pulang sekolah telah tiba. Bel kemenangan siswa sudah berbunyi nyaring. Gue pun bergegas untuk pulang ke rumah tercinta, untuk bobo siang di kasur empuk.

Tetapi, kemudian mata gue terpaku melihat sosok gadis cantik yang sedang duduk di bawah pohon dekat gerbang sekolah. Vanessha! Ya, itu dia!

Gue pun menerobos para segerombolan siswa-siswi yang sedang berlalu-lalang di kawasan sekolah . Untuk menghampiri bidadari gue itu. Gue diem, natap dia lama. Dia nunduk main HP. Kayaknya dia gak sadar kalau udah ada cowok tampan yang duduk di sebelahnya.

“Assalamualikum.” Tegur gue, setelah beberapa menit menatapnya.

“Eh,” ia terkejut, “Wa..laikumsalam.” Ucapnya menjawab salam gue. Tak lama mukanya kembali lagi datar.

“Nessha lagi ngapain?” Tanya gue iseng. Tapi gue agak kecewa sama jawabannya.
“Napas.”

“Lho? Emang ada ya, manusia yang gak napas?” Tanya gue yang bingung sama jawabannya.

“Gak ada.” Jawabnya dengan wajah datar. Iya, gue tau do’i keknya gak tertarik ngobrol sama gue. Jadi, gue harus cari cara agar obrolan ini tetap berlanjut.

“Salah! Ada kok manusia yang gak napas.”

“Manusia mati?” Ia menoleh ke arah gue.

“Bukan!"

Ia mengernyitkan dahi, lalu berkata, “Terus apa?”

“Gue.”

“Lo gak napas?” Herannya lagi.

“Iya, Aku gak bisa napas melihat senyum manis mu. Asekkkk!”

Pipinya bersemu merah, tampak ia sedang menahan tawanya. Gue tau pasti Nessha terpukau sama gombalan gue. Ya, jelas lah ini gue boleh belajar dari Ahok si Raja Gombal yang terkenal seantero Kayangan. Tapi, buru-buru ia tutupi dengan muka datar sambil menjawab,
“Receh lo.”

Suasana hening. Nessha nunduk enggan melihat wajah gue. Mungkin, ia takut kena sawan. Ah, padahal muka ganteng gue gak meracuni.

“Nessha.” Panggil gue, memecahkan keheningan yang melingkupi.

“Apa?”

“Lo cantik!” Puji gue, yang sebetulnya hanya iseng tapi tulus. Dengan muka datar dia hanya menjawab,
“Udah tau.”

“Oh. Udah tau ya? Mau ngasih tau aja.” Kata gue, sambil menggaruk kepala yang sebenarnya tak gatal, “Kirain lupa.” Lanjut gue.

“Lo sendiri ngapain disini gak jelas?”

“Nemenin lo.” Jawab gue sejujurnya.

“Ngapain nemenin gue?”

Gue juga gak tau sih apa maksud tujuan gue. yang jelas gue pengen deket dan ngobrol sama Vanessha. ya, itu aja. wajar, kan? Kalau kita pengen deket sama orang yang kita sayang?
Karna gue gak tau harus bilang apa, dengan asal gue jawab,
“Karna gue suka sama lo.”

Ishh..”Ia mendengus sebal. Mungkin kesal karena jawaban gue yang gak nyambung baginya. Tapi, tulus dalam hati gue.

Gue tersenyum melihat dia yang cemberut gitu. Entah kenapa ada sesuatu dalam diri gue yang mengatakan, kalau dia dua kali lipat lebih imut, kalau lagi cemberut gitu.

Do'i emang jarang senyum. Jadi jangan heran kenapa dia kayak jutek banget. Walau, gue tau dia lebih manis ketika senyum.

“Nes, gue lagi berjuang lho.” Ucap gue lagi, yang dari tadi yang gak ada henti-hentinya buat mancing dia ngomong. Toh, mumpung ada kesempatan ngobrol. Gak ada orang juga yang ganggu disini. Jadi jangan disia-siakan.

“Berjuang ngapain?”

“Untuk menjadi bad boy yang lo mau.”

Nessha gak langsung menjawab. Dia menatap gue lama. Tatapan yang gak gue ngerti apa maksudnya. Tapi, mampu membuat hati gue berdenyut saat itu juga. Gue jadi salah tingkah sendiri ditatap oleh bidadari itu.

Tak lama, datang mobil sedan berwarna putih. Nessha bangkit dari duduknya. Lalu, menoleh ke arah gue untuk pamit.
“Gue duluan.” Ucapnya.

“Eh, Nessha hati-hati.” Jawab gue sedikit gugup.

Ia masuk ke dalam mobilnya dengan kaca mobil sedikit dinaikan.

“Doni.” Panggilnya dari dalam mobil.

“Eh, iya kenapa?” Tanya gue agak kaget.

“Selamat berjuang.” Ujarnya sembari tersenyum seraya menutup kaca mobil.

Lalu, mobil sedan itu berlalu. Meninggalkan gue dengan jantung yang masih dangdutan.

----O0O----

Gue is Bad BoyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang