Jangan lupa tekan tanda bintang sebelum membaca😇 Komentarnya juga kalau mau.
-----O0O----
“Wellcome to The B'BOK. The Bad Boy of Kayangan.”
Pemandangan indah nan metal memasuki Indra penglihatan. Tanah seluas 300 meter yang dipenuhi banyak adrenalin seperti lingkaran api, ada benda yang berbentuk seperti perosotan anak TK. Tapi tak seperti perosotan anak TK, yang dinaiki oleh anak-anak bau kencur. Perosotan itu biasa dipakai untuk arena BMX trick. Bagaimana gue tau? Karna bersamaan dengan kedatangan kami. Ada anak memakai topi hijau yang melakukan double jump diatasnya. Membuat gue yang takut ketinggian melotot dengan mulut yang menganga lebar.
Temboknya juga sangat unik dipenuhi oleh banyak graffiti dan gambar dengan bentuk aneh karya tangan usil. Ada yang bergambar casper yang sedang ngemut dot, anak balita yang sedang merokok, tengkorak yang tertawa dengan gigi ompongnya. Tetapi yang paling mencolok adalah grafitti yang bertuliskan THE BAD BOY OF KAYANGAN PENGUASA GANG RANTANG. Graffiti itu berada di tembok sisi depan, lebih tepatnya di belakang panggung kecil yang berada di tengah-tengah. Dan jangan lupakan api yang berada di atas tong, yang terletak di setiap sudut, sebagai penerang di tempat ini.
Gue benar-benar takjub ternyata ada tempat sekeren ini dibalik gang sempit yang dihimpit oleh dua ruko.
Tempat ini seperti tempat pelepas kepenatan. Cocok untuk anak sekolahan seperti gue yang sudah bosan dengan rutinitas sekolah yang monoton. Semuanya tampak gembira, berjoget- joget dengan musik hip-hop, meminum miras dengan khidmat. Dan tentunya orang-orang yang sibuk dengan sepeda BMX-nya. Semuanya bersenang-senang.
Bebas.
Satu kata yang cocok untuk melambangkan tempat ini.
Ini dia tempatnya. Tempat yang akan mengantar gue ke dunia Bad Boy yang sebenarnya. Dimana gue akan merasakan masa-masa muda yang bergelora. Bebas berekspresi, mengeluarkan pendapat dengan gaya gue sendiri. Melakukan hal-hal konyol tanpa ada yang protes atau mengganggu. Dan tentunya sebagai kapal yang berlayar menuju pelabuhan hati Vanessha.
“Disinilah! Tempat dimana Lo bisa jadi diri sendiri.”Ucap Obet dengan bangganya, sambil merentangkan tangannya ke atas seperti bisa memeluk tempat yang membuat gue takjub ini.
“Woahhh, gilak! Kerennnn banget!” Mario jingkrak-jingkrak dengan norak seperti anak kecil yang baru di ajak ke pasar malem sama emaknya.
Tadi sok-sok parno. Sekarang malah kegirangan kek tuyul dapet tiket umroh. Dasar bule Micin!
Plak!
Gue menepok pantat Mario yang seksi mengundang Rejeki, dengan gerakan agak kencang. Mario mengaduh kesakitan sambil mengusap pantatnya lalu, menembak gue dengan tatapan yang membuat orang ngeri. Tapi, enggak dengan gue.
Gue tak perduli tatapan itu, apalagi terpesona. Gue lebih tertarik menatap Obet.
Jangan salah paham! Maksudnya ingin bertanya apa tujuan ia membawa kami kemari. Bukan tertarik menatap dalam hal lain yang kesannya negatif.
“Terus, abis ini kita ngapain?” Tanya gue yang pura-pura tidak terlalu tertarik, walau dalam hati gue sungguh minat dengan maksudnya.
“Sebentar lagi, permainan akan segera dimulai.” Obet menunjukkan smirknya “Kalian tunggu sini. Jangan kemana-mana! Gue ada urusan sebentar.” Obet and The Gang meninggalkan kami di tengah-tengah kerumunan orang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gue is Bad Boy
UmorismoPernah kah kamu mendengar cerita tentang bad boy yang berubah menjadi good boy untuk orang yang disayanginya? Tetapi bagaimana jika seorang good boy yang rela menjadi bad boy untuk orang yang disayanginya? Doni Irawan, seorang good boy yang konon wa...
