"Kau masih menunggunya kembali?" Tanya seorang pria kepada seorang gadis di depannya yang tengah melamun.
"Eoh. Aku sangat merindukannya." Ucap gadis itu sambil terus melihat kearah depan dengan tatapan kosongnya.
"Apa dia tak pernah memberi kabar padamu. Atau mengajakmu bertemu?" Tanya pria itu lagi.
"Tidak pernah. Setelah kejadian itu dia tak pernah menemuiku bahkan memberi kabar padaku saja tidak. Apa dia pernah berbicara sesuatu padamu Oppa?" Tanya gadis itu. Hani. Gadis itu adalah Hani. Hari ini dia akan menikah seharusnya dia bahagia tapi dia malah seperti ini.
"Tidak. Ku kira dia sudah bertemu denganmu dan meluruskan masalah ini. Ternyata belum yah?" Tanya Taeyong. Yah Taeyonglah yang sedari tadi berbicara dengan Hani adiknya itu.
"Oppa apa yang harus aku lakukan? Apa dia marah padaku? Oppa itu hanya salah paham kenapa dia tak mendengarkan penjelasanku?" Tanya Hani dengan mata berkaca-kaca menahan tangisnya. Jika dia menangis maka make up nya akan luntur.
Taeyong yang melihat Hani akan menangis pun langsung memeluk adiknya. Memberikan ketenangan untuk adiknya itu.
"Hani-ah jangan menangis. Mungkin ini takdir Tuhan. Kau harus merelakannya. Kau akan menikah hari ini. Walaupun ini sebuah perjodohan dan sejujurnya aku tak menginginkan pernikahanmu ini. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Ini keinginan Appa." Ucap Taeyong sembari mengelus pundak Hani.
"Oppa aku merindukannya. Aku mencintainya. Bisakah pernikahan ini di batalkan?" Tanya Hani dalam pelukan Taeyong.
"Tak bisa Hani. Kau tak bisa membatalkan pernikahan ini begitu saja. Appa akan marah padamu jika kau membatalkan pernikahan ini." Ucap Taeyong lalu melepaskan pelukannya dengan perlahan.
"Hani-ah lihat aku." Ucap Taeyong sambil memegang kedua pipi Hani.
"Aku tahu kau masih mencintai dia tapi kau akan menikah Hani-ah. Kau tak boleh egois. Kau harus memikirkan perasaan yang lainnya. Aku tahu kau tak ingin menikah dengan Chanyeol bahkan aku sendiri tak mau Hani-ah. Tapi kita tak bisa apa-apa. Jalani saja ini. Jika kau tersiksa tinggalkan Chanyeol. Kau mengerti?" Ucap Taeyong sambil menatap manik mata Hani.
"Tapi Oppa...." Ucap Hani sambil meneteskan air matanya.
"Ssttt.. jangan menangis eoh. Nanti kau jelek." Ucap Taeyong sambil menghapus air mata adiknya.
"Oppa...." Ucap Hani lalu memeluk kakaknya itu.
"Aigoo.. adik kecilku." Ucap Taeyong.
"Jangan menangis eoh. Eomma akan kesini jika Eomma lihat kau menangis maka aku yang akan dimarahinya." Ucap Taeyong.
"Kenapa kau yang di marahi?" Tanya Hani.
"Karena yang disini cuma kita berdua." Ucap Taeyong.
"Hani-ah." Ucap seorang dibalik pintu. Hani dan Taeyong yang mendengar panggilan itupun langsung melepaskan pelukan mereka.
"Eomma." Ucap Hani lalu berhambur memeluk Eommanya.
"Aigoo.. putri Eomma sudah besar eoh. Eomma rasa baru kemarin Eomma mengajarkanmu jalan. Tapi sekarang kau sudah mau menikah saja." Ucap Eomma Hani sambil meneteskan airmata bahagianya.
"Eomma...." ucap Hani sambil mengeratkan pelukannya.
"Baik-baik dengan Chanyeol ne? Eomma akan berkunjung kerumah kalian jika ada waktu." Ucap Eomma Hani.
"Emm.." ucap Hani sambil melepaskan pelukannya.
***
Di ruangan yang berbeda, seorang lelaki tengah melamun sendirian. Entah apa yang dipikirkannya. Tak lama kemudian terdengar suara pintu yang terbuka. Namun, itu tak mengalihkan atensi pria tersebut. Dia masih betah dalam kegiatannya itu. Sampai sebuah suara membuyarkan lamunannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tender Love (Pcy)
RandomBudayakan Vote dan Comment Aku membutuhkan vote kalian..
