Rumah, 06:00
"Kak April!!!!!" teriak Manda sambil menggedor pintu kamarku
"Apa sih?!" jawabku dengan malas
"Ada yang dateng tuh nyariin kakak, orangnya ganteng pula" ucap Manda
"Emangnya siapa?!" tanyaku
"Mana Manda tau, Manda belum pernah ketemu" ucap Manda
"Kalo cuma temen kakak kan Manda tau semua" jawabku
"Yang ini Manda ngga kenal, buruan keluar, udah ditungguin dari tadi" ucap Manda
Aku pun segera membuka pintu dan melihat ke bawah untuk mencari tau siapa yang datang ke rumah sepagi ini.
Dan betapa terkejutnya aku melihat orang yang berada di bawah bersama mama.
'Astaga, kenapa dia bisa ada disini, apa yang akan dia lakukan' ucapku dalam hati dengan wajah terkejut.
Mama tak sengaja melihatku dan menyuruhku untuk turun menemui orang tersebut, orang itu adalah ketua OSIS di SMA Alexandria.
"Ini seniormu datang, kenapa jam segini kamu belum mandi?" tanya Mama
"Ahh.. Iya nanti aku mandi" ucapku dengan malas dan melihat ke arah orang tersebut
"Maaf ya nak, Apriliana emang pemalas orangya" ucap Mama
"Iya tante tidak apa-apa" ucap orang tersebut dengan seulas senyum
"Ya udah Mama mau lanjutin pekerjaan didapur dulu ya, April nanti mandi sebelum berangkat" ucap Mama
"Iya ma..." ucapku
Mama pun pergi ke dapur dan sekarang hanya ada aku dan seniorku didalam ruang tamu.
"Ngapain kakak kesini?!" tanyaku dengan sinis
"Ngga perlu tau!" ucapnya
"Udah ah! Aku mau mandi!" ucapku sambil melangkah meninggalkan Kak Dimas
"Berangkat bareng aku!" ucap Kak Dimas sambil menarik lenganku
"Lepas! Aku ngga mau bareng kakak! Mending aku naik angkot daripada nebeng kakak!" ucapku
"Aku jauh-jauh kemari untuk jemput kamu! Kenapa kamu nolak?!" tanya Kak Dimas
"Aku ngga mau berangkat bareng kakak, udahlah mending sana berangkat, apa mau aku panggilin mama!" ancamku
"Dasar belagu!" ucap Kak Dimas
"Dasar orang aneh!" balasku
Kak Dimas pun berjalan keluar rumah dan pergi meninggalkan rumah.
Aku pun memilih untuk segera mandi supaya aku tidak terlambat masuk sekolah.
Ruang Makan 6.30
"Tadi itu siapa kak?" tanya Manda memecah keheningan di pagi ini
"Seniorku" jawabku dengan malas
"Alah, pacar kakak kan? Ganteng juga" goda Manda
"Apaan sih, ogah pacaran sama orang kayak dia" jawabku dengan ketus
"Ngga usah terlalu benci sama orang ntar kamu jatuh cinta sama orangnya baru tau rasa" ucap Kak Varel ditambah dengan tawaan
"Tau ah, kakak adik sama aja nyebelin semua" ucapku ketus
"Udah buruan dihabiskan nanti keburu telat" ucap Mama
Suasana kembali hening, aku dan keluargaku segera menghabiskan sarapan masing-masing.
SMA Alexandria
Aku berjalan mengendap-endap bagaikan pencuri yang ingin mengambil barang berharga.
Aku menyelinap masuk ke dalam sekolah supaya tidak ketahuan oleh Kak Dimas.
Baru beberapa langkah aku berjalan, dari arah belakang ada saja yang menarik tanganku. Aku pun langsung memukul orang yang menarik tanganku sambil menutup mataku tanpa melihat wajahnya terlebih dahulu.
"Apriliana" ucap orang itu
Aku pun langsung membuka mata dan betapa terkejutnya aku melihat Kak Egy berada dihadapanku.
"Kak Egy" ucapku
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Kak Egy
"Mau masuk kak" jawabku
"Kenapa harus mengendap-endap begitu kalau mau masuk?" tanya Kak Egy
"Ahh.. Ngga papa kok kak" ucapku dengan seutas senyum
"Yaudah yuk masuk bareng kakak" ucap Kak Egy sambil memegang tanganku
Aku pun terkejut namun juga tidak bisa menolak, dan akhirnya aku masuk ke dalam sekolah bersama Kak Egy. Banyak pasang mata yang melihatku dengan tatapan tak suka, terutama para senior wanita.
Aku tidak memperdulikan tatapan-tatapan aneh itu. Ketika aku dan Kak Egy berjalan melewati kantin, tak sengaja aku dan Kak Egy berpapasan dengan Kak Radhita.
"Wahh, ternyata emang cewek murahan ya!" ucap Kak Radhita
"Iya nih, kemarin sok-sokan ngehindar dari Dimas, eh sekarang malah mau nggait Egy" tambah Clara
"Kalian jangan sembarang bicara ya, Apriliana ngga seperti kalian, aku yang mengajaknya untuk berjalan bersama, mending kalian intropeksi diri kalian aja biar disukai banyak orang!" ucap Kak Egy dengan keras
Seketika semua mata yang berada di kantin langsung tertuju pada Kak Egy dan Kak Radhita.
"Egy! Apa yang kamu maksud?!" ucap Kak Radhita
"Mau tau apa yang aku maksud?! Sana pergi ke toilet lalu bercermin, maka kamu akan tau apa yang aku maksud!" ucap Kak Egy dengan tegas
"Shitt... Sialan kamu Egy!" ucap Kak Radhita
"Sudah, ayo kita ke kelas, ngga usah ladenin wanita murahan kayak dia" ucap Kak Egy
"Emm.. Iya kak" ucapku dengan kepala tertunduk
Aku dan Kak Egy melanjutkan jalan menuju ke kelas.
Sesampainya didepan laboratorium Kak Egy langsung meninggalkanku karena dia harus ke ruang BK.
"Apriliana!!!" ucap seseorang dari arah belakang
'Suara ini sudah tidak asing lagi bagiku, suara seseorang yang selalu menggangguku dan selalu membuatku dalam masalah, sebenarnya apa yang dia inginkan dariku' ucapku dalam hati
Aku pun memutar kepalaku sehingga nampak seorang pria, tinggi, putih namun sikapnya sangat tidak aku sukai dan aku sangat membencinya, ia sedang berdiri tepat di belakangku.
Dia pun menghampiriku.
"Kenapa tadi kamu masuk bareng Egy?!" tanya Kak Dimas
"Lah, emangnya kenapa?" tanyaku
"Ngga usah deket-deket sama Egy ngerti!" ucap Kak Dimas
"Lah, kenapa kakak jadi larang-larang aku? Emang kakak siapaku?" ucapku
"Aku seniormu?" ucap Kak Dimas dengan tegas
"Lalu kalau kakak hanya seniorku, kenapa kakak melarang aku?!" tanyaku denga nada kesal
"Ikuti saja perintahku! Ngga usah banyak tanya!" ucap Kak Dimas dengan judes
"Enak aja, emang aku babu kakak harus nuruti semua maunya kakak?!" tanyaku
Kak Dimas hanya diam dan berlalu meninggalkanku tanpa menoleh sedikitpun padaku. Aku dibuat heran olehnya, aku heran oleh sikapnya selama ini yang suka menguntit dan menggangguku. Namun segera ku tepis semua pikiran-pikiran tentang Kak Dimas.
Aku pun mulai berjalan lagi menuju kelas. Sesampainya di depan perpustakaan tak sengaja salah satu temanku menabrakku sehingga membuat tubuhku lunglai dan terjatuh. Namun aku tidak merasa sakit, aku pun dengan perlahan mulai membuka mata. Dan ya, aku sangat terkejut karena Kak Dimas menopang tubuhku sehingga aku tidak terjatuh.
Mataku dan mata Kak Dimas saling beradu. Dan ternyata Kak Dimas memiliki mata berwarna biru yang membuat siapapun terpana ketika melihatnya, ia terlihat sangat tampan dengan mata birunya.
Setelah terbangun dari lamunanku, aku segera melepaskan tangan Kak Dimas.
"Makanya lain kali hati-hati!" ucap Kak Dimas
"Ya, btw makasih" ucapku
"Ngga usah baper!" ucap Kak Dimas
"Siapa juga yang baper?! Ngga usah gr deh!" ucapku dengan kesal
Aku pun memilih untuk pergi meninggalkan Kak Dimas daripada terkena ulah menyebalkan yang biasa dilakukan Kak Dimas.
'Ahhh... Apa yang aku pikirkan tadi? Kak Dimas ganteng? Ihh ganteng darimana orang nyebelin dan suka bikin ulah gitu! Kok bisa juga dia jadi ketua OSIS? Orang sedingin dan sejahat dia kok dipilih! Tapi tadi, dia terlihat tampan dengan mata birunya' lirihku dalam hati
"Ahhh... Apa yang ku pikirkan! Orang kayak dia kok ganteng!" ucapku sambil memukul pelan kepalaku
Aku kembali berjalan menuju kelas dan melanjutkan aktivitasku seperti biasa.
Sekian maaf jika kurang bagus atau tidak nyambung😁🙏 masih dalam pembelajaran dalam menulis😊
Happy reading😊❤ jangan lupa voment😉
KAMU SEDANG MEMBACA
Senior's (ON GOING)
Dla nastolatkówKatanya cinta di masa SMA itu sangat indah dan menyenangkan. Tapi entah kenapa, aku justru merasa sebaliknya. Cerita ini sama sekali tidak pernah bisa ku bayangkan akan terjadi padaku. # 1 seniors 28 April 2021
