TRAGEDI OUR BUNDA

414 39 6
                                        

Gara-gara kejadian tadi di kantin, gue merasa menjadi manusia paling oon di dunia jagat raya ini. Malu banget seorang perempuan cantik seperti ini membahas 'rambut' terlebih teriak tidak jelas seperti tadi.

Setelah gue membayar bakso seharga tiga ribu poundsterling eh rupiah maksudnya, kemudian gue menyusul Pawina dan kawan-kawan. Gue lihat Pawina duduk di pinggiran masjid bersama Miya.

"Woy! Lo ngapain?"

"Salat lah, gobs," jawab Pawina dengan nada lembut namun kata-katanya tajam setajam belatinya Piper Mclean—yang baca novel karya Rick Riordan ini pasti tau, gue baca yang serial Jason pertama doang sih haha.

Gue nyengir. "Yaudah gue duluan ya, bye!" baru melangkahkan kaki, Pawina berseru.

"Lo nggak salat?"

"Nggak ahh. Gue lagi M."

"Males!!!" teriak Miya di dekat telinga gue. Gue segera menghindar menuju ruang kelas yang tak terlalu jauh dari masjid sekolah. Pawina bukanlah akan salat subuh atau dzuhur, melainkan salat duha. Dan gue lagi males, benar-benar males. Lagian salat duha sunnah kan? Hehe.

"Itu itu di sana. Perpus ya!"

Gue yang sedang berdiri di dekat pintu kelas menoleh ke sumber suara. Bu Afi tampak panik terdengar jelas dari suaranya ketika memberi informasi kepada Bu Caca. Gue yakin ada yang tidak beres di sini. Kemudian para guru sedikit-sedikit menuju ke perpustakaan. Para siswa pun bergegas keluar kelas masing-masing. Ayu, Sinta, Simi dan lainnya juga keluar kelas.

"Bu Emiliya pingsan!"

Bisik-bisik adik kelas yang terdengar sangat jelas di telinga. Gue dan temen-temen shock karena mendengar sang wali kelas kesayangan kami pingsan. Kemudian kami mendekat ke perpustakaan. Di sana bu Emil berjalan didampingi guru lainnya, mengenakan jaket, krudungnya tampak tidak rapih dan tubuhya menggigil hebat.

Semua siswa dari kelas sepuluh sampai dua belas berada di lapangan upacara, sebagian mendekat ke perpustakaan. Mereka hanya menonton wali kelas kami yang tadinya pingsan. Dari wajah mereka bisa dipastikan mereka iba dengan kondisi Bu Emil.

"Kita jenguk bu Emil, ayo!" seru Astor saat kami semya sudah berada di kelas.

"Ya, jenguk aja pas jam pelajaran terakhir jadi nggak usah pelajaran bahasa Jawa," usul Tepon sangat briliant. Semua teman-teman meng-iya-kan usul dari Tepon tersebut.

"Iya woy, males gue pelajaran," ucap Nahdi.

"Lah berarti nanti gue nggak jadi hafalan yang 'pindho kartiko pathet manyuro gumingsir papan' dong!" Rafij tampak kesal, karena batal melengkapi tugas bahasa Jawa materi pernikahan tersebut. "Gue udah hafalin semaleman anjir sampai nggak tidur gue. Ah sial!"

Semua terkekeh mendengar curahan hati seorang Rafij.

"Gue juga belum Fi, santai," Asti berusaha mendiginkan Rafij. Iyalah Astor santai, orang dia belum menghafalkan.

"Salah sendiri kalau hapalan di depan itu nggak usah nyontek. Contoh gue," Aryo memamerkan dirinya yang memang sudah menghapalkan dan maju ke depan dari jauh-jauh minggu yang lalu. Karena Rafij, Ricku, dan Astor yang tidak hapal-hapal—bahkan Rafij jelas-jelas nyontek— ibu yang mengajar bahasa jawa akhirnya murka.

"Bacot lo!"

"Udah ini serius jam pelajaran bahasa Jawa? Kalo iya nanti gue ijin. Lagian bu Titi juga jarang banget yang namanya masuk kelas, kan?" Simi berucap.

"Sidang aja itu sidang guru bahasa Jawanya ganti aja ganti! 2019 ganti guru bahasa jawa!" Miya demo sendirian.

"Brisik lo Miyabi. Keburu kita lulus, bege!" Gue dan Kay menjitak kepala Miya.

"Palingan lo juga seneng pelajaran kosong, kan?!"

Kali ini omongan Bagasa benar adanya.

Kemudian Miya tertawa lalu diam. "Iya, iya ...."

Biarpun gue seneng karena guru bahasa Jawa itu jarang masuk, namun gue juga kesal. Karena tugas beliau di sekolah itu mengajar. Di semester ini hanya mengisi kelas sebanyak dua pertemuan atau empat jam pelajaran. Apakah ini yang dinamakan memakan gaji buta?

🍚🍚🍚

"Ayo Sim, ke sana cepatan!" Silena menarik tangan Simi untuk segera ke gerbang sekolah. Teman-teman sudah ke sana, tinggal gue, Silena, Kay, Simi, Nela, dan Rafij di kelas. Sebenarnya Simi tengah berbincang-bincang dengan Rafij.

"Nanti Sil, mentang-mentang si Deno udah di sana ya, lo narik-narik gue!" Simi melepas genggaman Silena sambil tertawa mengejek teman sebangkunya.

"Kalian duluan aja, gue nyusul sama Aryo dan lainnya, mereka masih pada salat," lanjut Simi.

"Simi gilaaa! Kenapa nggak ngomong dari tadi kalau lo mau nunggu si Aryo sinting?!" gue berseru kemudian pergi ke gerbang bersama Kay. Sedangkan Silena dan Nela masih di sana menemani Simi yang sedang nyengir kuda.

"Nanti gue sama siapa ya?" tanya Kay ke gue, maksudnya nanti dia naik motor bareng siapa ke puskesmasnya.

"Gampanglah nanti," kata gue sok cool.

"Sial, Aryoo!!" teriak gue di depan kelas XII IPS 2, di dekat masjid, lebih tepatnya di bawah masjid. Tadi Aryo, Bagasa, dan gerombolannya yang sedang wudhu menyipratkan air ke gue dan Kay. Membuat baju gue dan Kay basah.

"Arya ih!" teriak Kay cempreng seperti anak kecil. Sumpah kuping gue harus diperiksa habis ini.

Di sana, para curut jantan tengah tertawa puas melihat kami kesal.

"Udah Kay kabuurr!" gue dan Kay lari menjauh sebelum terkena serangan dari mereka.

Kay menggosok-gosok seragamnya berusaha agar kering, namun nihil. Sedangkan gue masa bodo dengan seragam, nanti kering sendiri. Kay terlalu sibuk padahal seragamnya tidak sebasah punya gue.

"Woy itu terong-terongan kenapa boncengan bertiga!" teriak gue kepada Soyan, Deno, dan L yang boncengan bertiga menggunakan motor Deno.

"L, turun nggak? Anak cewek masih ada yang belum dapet boncengan woy!" lanjut gue.

"L! Mana motor lo?! Turun bawa sendiri! Turun nggak?!" Kay ikut teriak, seharusnya ia menggeplak kepala L agar dia turun.

"Motor gue di dalem, susah," L menjawab.

"Woy udah ah! Cepetan woy! Gue duluan!" Lilin mendahului kami, disusul yang lainnya. Gue mencari Umma dan Toyi tapi sayangnya mereka ditelan bumi.

Gue dan Kay saling berpandangan setelah melihat Ahmed—tukang ojek Kay karena Kay sering bonceng dia—kemudian kami berlari menuju tempat di manaAhmed duduk di atas motornya.

"Asek kita bertiga!" seru Kay.

"Lah kampret kita bertiga?!" Ahmed mungkin kaget, mungkin juga tidak.

"Iyalah! Udah ayo Bang, berangkaatt!" seru gue meniru perkataan andalan di salah satu tontonan yang ada di channel swasta Indonesia.

Gue pegangan Kay erat banget kemudian tertawa bertiga. Entah apa yang lucu hanya saja ada sesuatu yang membuat kami tertawa. Jika kalian pikir bahwa boncengan bertiga sesak, kalian salah. Karena kami bertiga kurus semua. Sini yang mau nyumbang lemak hehe.


🍚🍚🍚

Ini part berapa ya? 5 ya? Terima kasih ya yang udah baca cerita absurd gue :"V . Sesungguhnya pengen banget cepet namatin, kayaknya 5 part lagi tamat deh, kalo nggak ada tambahan insya Allah.

Tanggal 6 kemarin sekolah gue wisuda, dimana anak perempuan menggunakan kebaya dan anak laki-laki menggunakan jas. Nggak rela kalo pisah sama mereka, tapi yah mau gimana lagi kan ya :")

Ada yang baca cerita ini? Kalian anak SMA? Cuma mau ngomong, SMA itu indah. Indah nggak selamanya tentang pacar :)

Salam,

xanderstern

My Class My LifeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang