Minggu berikutnya, pelajaran SBD lagi. Kali ini kami sudah mulai menggores-goreskan pola. Gue juga sudah membawa kaleng yang benar, berstandar SSC—Standar Sekolah Coral. Tapi gue bawanya kaleng lasegear yang untuk anak-anak warna pink. Kecil sih, tapi bermaksiat, eh berkhasiat, hehehe.
Gue kalau sudah pelajaran SBD paling nggak suka diam, jadi jalan-jalan gitu. Gue mengerjakan lukisan timbul itu di meja Istin dan Isyu. Telaten banget. Alon-alon asal kelakon—lambat-lambat asal diselesaikan—itu pepatah Jerman. Ketika semua yang ada di kelas membuat lukisan timbul dengan sangat khusuk, bahkan gue juga nggak lepas pandangan dari kaleng lasegear versi mini itu, tiba-tiba ....
"Aaaaaaaaaaaaa!"
Goyang.
Kaget.
Deg-degan.
Diem.
Detik berikutnya guru gue langsung bukain pintu lalu kami para murid keluar kelas. Semua murid Coral on Fire ini berkumpul di lapangan. Pas di kelas gue sempet lihat anak IPA—di lantai dua—pada teriak lalu keluar. Pada saat itu kami sadar dan keluar kelas juga.
Tadi itu gempa. Nggak gede, tapi kami masih bisa merasakan. Wong kayak lagi di kora-kora gitu, tapi cuma sekali ayun doang. Agak pusing juga.
Setelah tidak ada gempa lagi, guru menyuruh murid untuk masuk, tapi sebelum itu murid pada mengeluarkan ponsel mereka. Buat apa? Buat apa lagi kalau bukan story. Kaum milenial.
Karena melihat kaum Hawa update story, kaum Adam komentar.
"Story! Story!"
"Tadi ada gempa, aduh akyu atut dech!"
"Lindu, atau rindu?" Lindu adalah bahasa Jawanya gempa.
Mereka berkomentar seperti itu menggunakan nada ala-ala cewek alay, jadi mereka terkesan letoy.
Ternyata, gempa itu kalau nggak salah berpusat di salah satu desa di kecamatan sebelah. Gempa susulan terus terjadi di desa itu, parah—sampai mengungsi. Bahkan temen gue ada yang sampai mutar jalan agar bisa sampai sekolah.
Minggu depannya lagi, sebelum pelajaran SBD, lebih tepatnya saat istirahat ke dua, anak cowok harusnya salat duluan, dan anak cewek setelahnya. Tapi si Bagasa, Aryo, dan Nahdi masih saja di kelas. Mereka sedang menyelesaikan lukisan timbul dan poster.
Waktu itu, gue sedang menebalkan gambar gue dengan spidol hitam seribuan. Sebenarnya itu adalah gambarnya L, soalnya dia gambar tapi gue yang nyuruh, gambarnya tokoh Eren Jaeger di Attack on Titan. Di meja gue juga ada kaleng seng yang sudah dilukis timbul tulisan KANEKI.
Nahdi dan Bagasa datang dengan tiba-tiba, berjalan seakan kakinya tidak berfungsi dengan normal, seperti tak bertulang. Enek gue lihatnya. Jika mereka sudah datang, tercium bau-bau yang tidak mengenakkan. Benar saja, mereka berdua mendekat hanya akan merecokin gue saja, nanya ini gambar apa, itu gambar apa. Bodoamat, nggak gue hiraukan.
"Haha gambarnya kayak apa, aneh." Nahdi tertawa melihat lukisan timbul gue. Gue diemin, nahan ketawa.
"Ini apa, Sa?" tanya Bagasa sambil mengambil lukisan timbul gue yang omong-omong emang jelek.
"Ka-ne-ki. Nggak lihat, itu tulisan Kaneki?!"
"Kaneki pantat kebo!" tukas Nahdi. Gue cuma mendelik ke arah Nahdi. Kesel? Iya.
Mereka megang-megang lukisan timbul gue bergantian, lalu ketawa bareng-bareng. Ya Tuhan lukisan timbul gue sudah tidak suci lagi. Pulang nanti harus dicuci dengan kembang tujuh rupa di tengah-tengah lapangan.
Mereka masih saja memegang, mengelus, dan menertawai lukisan gue.
Sialan.
"Ini udah nggak digunain kan, Sa?" tanya Bagasa sambil ngerendahin kepalanya agar sejajar dengan gue yang sibuk dengan gambar Eren Jaeger.
Gue nggak jawab, males. Kemudian ....
Srek
Gue mendongak.
Bagasa nyobek lukisan timbul gue!
G
I
L
A
"B*jing*n!"
Iya, gue nge-badword. Kay aja sampai menoleh ke arah gue, dia kaget. Anak cewek yang lain juga gitu. Setelah nge-badword, gue mengejar Bagasa tapi bocah itu lari dengan sangat kencang lalu langsung nyampur dengan teman beda kelas karena mau salat.
Nahdi berdiri sambil ketawa. Aryo duduk menggambar sambil ketawa. Anak-anak lain terharu, ada juga yang menahan tawa.
Tawa.
Tawa.
Ketawa aja terooooss.
Gue yang sudah mengejar Bagasa sampai depan kelas, balik duduk lagi. Meratapi lukisan timbul yang mau gue kumpulkan nanti.
Gue duduk di kursi kesayangan gue dengan hati berdarah-darah. Gue capek buat lukisan timbul itu. Gue juga sudah tidak mempunyai kaleng lagi. Robeknya lukisan timbul gue itu rasanya seperti ada gempa susulan. Mengguncang hati, memporak-porandakan jantung, menghujani ginjal. Sakit Bro, itu gue bikin sendiri dengan sekuat tenaga—gue nggak jago tentang seni kayak gini—itu hasil karya, tapi tak dihargai.
Pernah sakit ... tapi tak pernah sesakit ini ....
"Sabar, Sa. Bagasa stres emang," kata Ayu dengan nada kasihan tapi ingin ketawa.
Gue pasrah.
"Paling bentar lagi nangis nih bocah," kata Aryo.
Bodo.
Gue pengin pulang aja ya Allah. Capek hati, capek pikiran, capek jiwa. Ada yang punya Ichi Ocha? :(
🍚🍚🍚
Masih inget banget sama kejadian ini, sakitnya masih terasa euy :(
Untuk lukisan timbul bisa dilihat di mulmed, tapi jangan diketawain ya
Tresno
Xanderstern💚
KAMU SEDANG MEMBACA
My Class My Life
HumorXII IPS 4 diketuai oleh si Tomboy Pawina, berpenghuni makhluk absurd seperti Mikasa yang bermimpi menjadi istri bias, Aryo yang paling nyebelin di antara yang paling nyebelin, Bagasa manusia benci mandi, Simi yang bercita-cita menjadi istri dari gu...
