Setelah anak-anak pulang seperti biasa Sriti dan shabir merapihkan ruangan.
"Kau kesini dari jam berapa?" Tanha Shabir
"Jam berapa ya, kalau tidak salah ingat jam 2" jawab Sriti sambil mengembalikan buku bacaan ke sebuah rak buku kecil
"Ohh apa tidak ada kelas?"
"Tidak, aku hanya menyerahkan berkas foto tadi"
"Hm foto mana yang kau serahkan?"
"Foto yang ku anggap bagus, misalnya foto lapangan, foto desa ini, foto anak-anak, foto pantai, dan tempat-tempat lain"
"Tempat? Jadi tak ada fotoku?''
"Aku kan sudah bilang ku pilih foto-foto yang terbaik"
"Maksudmu fotoku tidak ada yang baik?" Shabir meletakkan buku diatas meja dan menatap Sriti yang berdiri didepannya
"Ehm bukan tidak ada yang bagus, tapi kalau di kamera tidak ada fotomu bagaimana aku akan memilih?" Sriti kemudian duduk disalah satu kursi
"Benar-benar gadis aneh, apa public figurmu itu pemandangan, tempat atau benda mati?!"
"Kau ini kenapa sih? Sepertinya ingin sekali aku memasang fotomu , kau ingin terkenal? Kenapa tidak daftar jadi artis saja?" Kata Sriti sambil mengunyah permen karet yang baru saja ia makan
"Heh, untuk apa kau membuang-buang waktu mengikutiku kesana kemari jika kau tak akan memasang fotoku?"
"Ck kau ini bicara seolah-olah aku mengikutimu keluar angkasa lalu aku meninggalkanmu sendirian di bulan dengan para alien, sudahlah jangan berlebihan"
"Yasudahlah terserah kau saja" Shabir lalu mengambil jaketnya
'apa dia marah?' pikir Sriti, ia mengamati wajah Shabir yang hanya diam
"Oh ya ampun!!!!" Sriti langsung berlari keluar, 10menit Sriti tak kembali Shabir pun mengikutinya
"Apa lagi yang dia lakukan???" saat Shabir membuka pintu ternyata diluar hujan turun cukup lebat, tetapi ia justru melihat Sriti berdiri dihalaman, tak peduli badannya basah kuyup
"Sriti!!! apa yang kau lakukan??!! Apa kau mati rasa? Badanmu basah kuyup"
Sriti membuka matanya dan melihat Shabir yang hanya diam didepan pintu
Sriti pun lari menghampirinya
"Suniye ayo ikut"
"Mau apa kau ini? Ayo masuk! "
"Akan ku tunjukan sesuatu"
Shabir pun hanya menuruti ucapan Sriti
"Sekarang pejamkan matamu"
"Kau menyuruhku tidur di tengah hujan deras? kau benar-benar tidak waras ya"
"Suniye, ikuti saja, kenapa kau ini banyak bicara sih??!! Tutup matamu" Shabir sempat mendengus kesal sebelum akhirnya memejamkan mata
"Sekarang , rentangkan kedua tanganmu, rasakan tetesan air ini" ucap Sriti, setelah Shabir mengikuti apa yang ia katakan, Sriti kembali melakukan hal yang sama.
"Suniye, hidup kita itu seperti hujan. Meskipun manusia bisa memperkirakan akan datangnya badai ataupun angin yang mengiringi, tetapi Tuhan lah yang menentukan kapan akan berhenti. Begitulah hidup. Kita hanya perlu menjalani dengan apa yang seharusnya kita lakukan" Ucap Sriti, Shabir membuka matanya dan melihat Sriti masih menengadahkan kepalanya.
Shabir menatap Sriti dalam-dalam
'gadis ini benar-benar berbeda, entah dia gila atau tidak waras, tetapi hatinya begitu baik' batin Shabir
#Baarish-Ost Half Girl Friend playing#
Setelah cukup lama, Shabir segera mengajak Sriti masuk, tetapi karena ia terus menolak Shabir pun menggendongnya dengan paksa
"Kau ingin sakit?!!! Itu air hujan bukan tebaran potongan kertas!" bentak Shabir
"Heh football star, aku juga tau itu hujan, aku kan memang ingin menikmatinya"
"Ayolah Sriti jangan seperti anak kecil, cepat mandi dan ganti baju! Ini sudah hampir jam 5 sore, apa kau mau menginap lagi"
"Aku tidak membawa baju ganti, kau membawa jas hujan kan? Lebih baik kita pulang sekarang? Atau kita hujan-hujan saja??"
"Tidak!! Keringkan dulu badanmu"
"Sama saja suniye, aku tidak membawa baju ganti"
"Hhh kau ini, tunggu disini" Shabir keluar rumah singgah, namun tak lama ia kembali membawa 2potong pakaian
"Pakailah ini"
"Baju siapa?"
"Itu milik Mrunal yang dititipkan pada bibi Nilam"
"Hmm baiklah" Sriti pun bergegas mandi
Setelah selesai, gantian Shabir yang mandi, tepat saat Shabir selesai, hujan pun reda lalu keduanya pulang
Seperti yang sudah ia janjikan pada Sriti untuk selalu menjaga dan melindungi Sriti, Shabir selalu mengantarnya sampai rumah tetapi belum pernah sekalipun mampir ke rumah Sriti
"Ingat, segera istirahat, jangan lupa makan" Kata Shabir didepan rumah Sriti
"Suniye, aku ini manusia biasa, tanpa kau ingatkan, aku akan makan saat lapar, seharusnya aku yang mengingatkanmu"
"Maksudmu aku bukan manusia biasa?"
Sriti menggeleng
"Kau itu apa ya, aku tau kau pasti jarang makan tepat waktu"
"Memang kau paranormal? Bisa menebak bagaimana aku"
"Aku ini bukan paranormal tapi aku bisa membaca pikiran orang"
"Oya? Coba tebak apa yang ada dipikiranku!"
"Sangat mudah. Karena yang ada dipikiranmu adalah apa yang terlihat dibola matamu" Sriti menaikkan alisnya
"Yang ada dipikiranku adalah yang dimata... ohoooo maksudmu aku memikirkanmu?"
"Aku tidak mengatakan itu"
"Kemari kau" Shabir menarik Sriti untuk mendekat
"Jika kau tau apa yang ku pikirkan, kenapa kau tak mengatakannya?"
"Em kurasa ditelingamu ada puing-puing besi, tadi aku sudah mengatakan yang kau pikirkan, apa kau tidak mendengar?" Sriti melepaskan tangan Shabir dari lengan kanannya
"Suniye, ini sudah jam 6, kau tidak mau pulang?"
Shabir menunduk dan tertawa geli
''kau benar-benar tidak waras" Shabir menunjuk wajah Sriti sambil tertawa kecil
"Ya aku tidak waras dan kau gila, apa bedanya, sudah sana pulang"
"Baiklah aku akan pulang, salam untuk ibumu" Shabir pun melajukan motornya
"Tetaplah seperti ini suniye" Gumam Sriti, kemudian ia pun masuk rumah
-0-
Matahari baru setengah naik, Shakti menjemput Mrunal. Mereka masih menyelidiki tentang Radhika
"Mrunal, aku tak yakin ini berhasil" Ucap Shakti didalam mobil
"Shak, jika kau sendiri tidak yakin lalu bagaimana aku? Kau bilang kau mencintainya, jadi kau harus memperjuangkan cintamu. Memang kau mau melihatnya dengan orang lain?"
"Tentu saja tidak, tetapi aku..."
"Shakti dengarkan aku, hati manusia tidak ada yang tau kecuali kita dan Tuhan. Ketika kita mencintai seseorang dan kita punya keyakinan kuat dia akan menjadi milik kita, tak ada salahnya kita berjuang. Kecuali jika kita kalah sebelum bertanding" Terdengar kekecewaan dalam kalimat Mrunal
"Yaar, apa kau pernah jatuh cinta?" Tanya Shakti, Mrunal langsung diam seribu bahasa
"Kenapa kau tak menjawab? Dari ucapanmu, sepertinya kau pernah mengalami masa lalu yang tidak baik, apa ada yang menyakitimu? Katakan padaku siapa dia?!"
"E tidak Shakti, aku belum pernah jatuh cinta pada siapapun" Jawab Mrunal
"Oh really?? Tapi aku yakin banyak pria yang mencintaimu, termasuk aku" Mrunal langsung menoleh dan menatap Shakti
"Aku bercanda, tapi tidak juga aku memang mencintaimu, kau seperti adikku sendiri" Shakti mengedipkan sebelah matanya dan kembali fokus pada jalan
'seandainya kau tau Shak, aku pernah berkhayal jika kau adalah pangeran dalam kisah hidupku' batin Mrunal
Shakti melihat Mrunal dari kaca spion
"Kau belum sarapan?"
"Sudah, kenapa?"
"Rasanya kau suntuk sekali" Kata Shakti
"Tidak juga, aku semangat" Mrunal menarik sudut bibirnya
Mereka berdua mendatangi kantor Radhika dan beralasan ingin mengajaknya menemui keluarganya, awalnya Radhika menolak namun setelah dibujuk ia pun setuju
"Kalian mau membawa aku kemana?"
"Nanti kau akan tau Radhu" jawab Shakti
"Ada apa sih kau selalu menemuiku?!" Radhika menatap Shakti sinis
Shakti tak menjawab, ia tetap melajukan mobilnya dengan tenang
Ia menghentikan mobilnya disebuah rumah yang sangat Radhika kenali
"Mau apa kita kesini?" Radhika mulai cemas
"Aku ada urusan sebentar disini, setelah itu kita jalan-jalan" Jawab Mrunal
"Aku tidak mau kesini" Radhika langsung membuka pintu mobil dan turun
"Radhu, kau mau kemana? Tunggu!!" Mrunal dan Shakti bergegas menyusulnya
Shakti yang lebih dulu berhasil menghentikannya
"Lepaskan aku! Kenapa kau membawaku kesini?!!!"
"Radhu jelaskan padaku kenapa kau begini"
"Apa maksudmu?!"
"Kenapa kau tak ingin kemari?!"
"A aku masih banyak pekerjaan, aku harus kembali ke ke kantor!"
"Tunggu!" Shakti menahan tangan Radhu
"Aku mengerti sekarang, sebenarnya kau mengenaliku kan?!"
"Aku tidak mengenalmu! Biarkan aku pergi!"
"Kenapa Radhu?! Apa yang kau sembunyikan? Aku selalu menunggumu kembali, kau tau betapa hidupku terasa sepi tanpamu, kau yang bisa mengembalikan kebahagiaanku Radhu, "
"Stop! Hentikan omong kosongmu, aku tidak mengenalmu!" Radhu melepaskan tangan Shakti lalu pergi meninggalkan Shakti yang masih bingung dengan semua hal yang terjadi
"Kau harus lebih bersabar Shak" Mrunal menenangkan sahabatnya itu dan menuntun Shakti kembali ke mobil, sementara Radhu menangis sepanjang perjalanan
-0-
Sabtu ini, Leena menginap dirumah Sriti, ia merasa kesepian karena ayah ibunya pergi lagi ke Austria
"Sriti, kau telfon Shika, ajak dia kemari"
"Ee kau saja yang mengajaknya" Sriti sebenarnya masih takut jika Shika tak mau bicara padanya
"Tadi aku sudah menghubunginya tapi tidak diangkat"
"Baiklah akan ku telefon"
Ternyata telefon Sriti tak diangkat oleh shika
"Mungkin dia sedang sibuk, kata Sriti
"Hmf apa ayahnya memberikan tugas kantor lagi? Kasian Shika, karena Ranvi sedang ke London, ia harus membantu ayahnya"
"Leena, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Tanya saja" jawab Leena sambil menikmati ice creamnya
"Kau kan lebih lama mengenal Shika, aku setaumu Shika memiliki 2 kakak?"
"2 kakak? Siapa yang bilang?"
"Tidak ada aku hanya bertanya, e maksudku siapa tau dia punya saudara selain Kak Ranvi jadi ada yang membantunya" jawab Leena
"Em sepertinya tidak ada, aku dan Leena memang kenal lebih lama tapi soal kenal dekat baru sekitar 5tahun lalu, bahkan mungkin lebih dulu kau daripada aku" Jawba Leena
"O"
"What? Hanya O?"
"Lalu bagaimana?"
"Hih, kau ini selalu membuatku naik pitam"
"Itu lebih baik daripada kau naik puncak himalaya dan tak bisa kembali"
"Sritiiiiiiiii"
"Sss jangan teriak-teriak! Aku akan membuatkan roti chanai kesukaanmu" kata Sriti sambil keluar kamar
"Wah, kau memang paling mengerti aku" jawab Leena senang
Sriti yang baru saja hendak ke dapur mendengar suara pintu depan diketuk, ia pun cepat membuka pintu itu
"Kau?"
"Hai"
"Ada apa?"
"Hei nak, apa seperti itu caramu menyambut tamu?!" Suara ibunya terdengar dari belakang Shabir
"Ibu? Kau sudah pulang?"
"Iya, hujan turun sangat deras untung saja nak Shabir lewat lalu mengantarku. Ayo ajak dia masuk" ibu pun masuk terlebih dahulu
"Kau mau masuk?" Tanya Sriti dengan 1 tangan ia senderkan di pintu
"Sritiiiiiii" teriak ibunya
"Iya ibu aku akan membawanya padamu, ayo masuk" Shabir pun menuruti Sriti
Setelah Shabir duduk, Sriti lalu membuatkan kopi untuknya
"Wah sepertinya kau sudah hafal apa kesukaannya" goda ibunya
"Tidak ibu, hanya saja.... ya memang dia menyukai kopi, yasudah aku akan ke depan dulu bu" Sriti pun membawa kopi itu ke ruang tamu
"Minumlah"
"Thank you. Oya aku ingin mengembalikan ini" Shabir memberikan kamera yang Sriti kembalikan padanya
"Hai apa ini? Kenap Kau berikan padaku? Ini milikmu"
"Tidak Sriti, kau yang berhak, ini milikmu"
"Suniye, aku sudah sangat banyak kau bantu, jadi ini saatnya untukmu"
"Untuk apa aku? Apa akan ku tendang? Aku pemain sepakbola bukan pengembala gambar" jawab Shabir
"Pengembala gambar katamu?!"
"Whatever dengan namanya tapi kau lebih berhak, kau masih ingat sumpahku?"
Sriti hanya diam melihat Shabir
Ternyata dari samping almari pembatas, Ibu Sriti dan Leena melihat mereka
"Shabir orang yang baik bukan?" tanya ibu Sriti
"Iya bibi, aku suka melihat mereka" Leena memeluk ibunda Sriti seperti ibunya sendiri
Mereka terus memperhatikan Sriti dan Shabir yang berdebat hingga akhirnya Sriti menerima kamera itu kembali.
-0-
Sementara itu, Tuan Mehta dengan sabar merawat istrinya yang kesehatannya semakin menurun, ia sangat ingin membawa ibu Shabir itu ke rumah sakit, namun ia takut jika anak buah Reihan juga berhianat sehingga akan memberatkan keluarga mereka.
"Ji, aku ingin bertemu Mrunal dan ibu" Ucap ibu Shabir lemas
"Iya, aku akan berusaha membawa mereka kemari, yang penting kau selamat dahulu" jawab suaminya sambil menyuapi istrinya itu
-0-
KAMU SEDANG MEMBACA
SUNSET at LAKE PALACE
RomanceKisah Sriti Balwan Pandey. Seorang fotografer dan Shabir Vikash Mehta. Seorang Pemain sepakbola yang romantis,lucu,banyak rahasia
