Ranvi dan Mrunal saling menajamkan pandangan mereka
"Kau berani datang kemari?!"
"Kenapa aku harus takut?! Bahkan aku akan membawamu ke penjara saat ini juga!" Mrunal tak menurunkan pandangannya
"Hahaha kau bilang akan membawaku ke penjara, kalau begitu ayo kita kesana bersama! Kau ini seorang PENCURI!!!"
"Aku bukan pencuri! Itu adalah milik ayahku, dan ayahmu yang telah mengambilnya!"
"Jangan menyalahkan ayahku! Kau tidak mengetahui apapun!"
"Kau yang tidak tahu!!! Kau tinggal di London bertahun-tahun, tahu apa kau masalah dirumah?!"
"Bagaimana denganmu?! Kau tinggal di Bopal! Jangan sok merasa benar!"
"Tuan Khurana! Meskipun aku di Bopal, tapi aku tahu yang terjadi! Kakakku, ayahku tidak bersalah! Kalian yang telah menghancurkan hidup kami!"
"Jaga bicaramu!!!" Ranvi menunjuk wajah Mrunal
"Apa? Ayahmu mengajak kakakku untuk tinggal bersamanya tapi mengekangnya, tak membiarkannya memilih apa yang membuatnya bahagia! Dan kau, kau tega menembak temanku, dengan pura-pura menolongnya! Dasar picik!"
"Kemari kau!!!" Ranvi menarik tangan Mrunal dengan kasar
"Lepaskan akuuuu"
"Ayoooo!!!!"
Mrunal tergopoh-gopoh mengikuti langkah Ranvi
"Kak Ranvi, lepaskan dia!!!" teriak Shika yang melihat kejadian itu, Ranvi pun berhenti dan melepaskan tangan Mrunal
Shika berlari mendekati Ranvi
"Kau benar-benar tidak waras kak! Apa kau tidak takut ayah mengetahui semua ini?!"
"Shika, kau diam saja! Lebih baik kau masuk dan selesaikan pekerjaanmu!"
"Tidak! Aku tak akan membiarkanmu melakukan apapun pada Mrunal!"
"Biar aku urus dia!" Ranvi kembali mencengkeram tangan Mrunal
"Dia tidak tahu berurusan dengan siapa, ayo!!!"
"Kakak!!! Lepaskan!" Shika berusaha melepaskan tangan Mrunal
"Shika, biarlah, lihat saja apa yang ingin dia lakukan!" kata Mrunal
"Ohooo jadi kau menantangku?!"
"aku tidak salah dan aku tak akan takut padamu!" jawab Mrunal
"Mrunal, jangan..."
"Kau tenang saja Shika"
Ranvi akhirnya melepaskan tangan Mrunal
"Kita lihat nanti!" Ia pun meninggalkan Shika dan Mrunal didepan kantor
"Mrunalll, maafkan kamiii"
"Shika sudahlah. Jangan menangis, aku tau sebenarnya kita semua memang bersalah, tapi satu hal yang membuatku benar-benar marah, kenapa dia tega menembak Shakti dan berpura-pura menolongnya? Lalu siapa laki-laki yang bersamanya itu?!"
"Aku sudah memperingatkannya Mrunal, tapi dia tidak mau dengar. Aku tidak tahu apa yang akan ayah lalukan jika mengetahui perbuatannya"
"Tunggu dulu, apa maksudmu paman Reihan sudah tidak membenci kakak?"
Shika menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan
"Mrunal, ayo kita bicara, dan kita bantu keluarga kita"
"Baiklah ayo" Shika dan Mrunal pun pergi mencari tempat untuk berbicara
-0-
Sriti sedang mencari baju yang akan Shabir pakai untuk pertemuan dengan investor yang akan mengunjungi rumah singgah. Sejak tiga bulan lalu, memang Shabir sudah mengajukan kerjasama dengan beberapa investor untuk sama-sama membangun rumah singgah itu, apalagi anak-anak juga semakin bersemangat.
"Apa ini?" Sriti menemukan sebuah map cokelat dibawah tumpukan baju, ia membuka map tersebut dan mengeluarkan isinya
"Fo foto ini???" Sriti terkejut melihat foto Shabir yang ia serahkan untuk pameran ada di almari pakaian suaminya "jadi, foto itu bukan Shika yang membeli? Hmmm suniye..."
Sriti mengambil pakaian Shabir lalu keluar dari ruang ganti
"Jadi, kau masih suka menyembunyikan sesuatu dariku?" kata Sriti sambil menyilangkan kedua tangannya
"Bicara apa kau ini?" kata Shabir yang sedang memakai sepatu
"Bicara apa bicara apa, kau masih bisa mendengarku dengan jelas kan?"
"Aku tidak mengerti maksudmu, aku menyembunyikan apa?"
"Pura-pura tidak tahu. Kapan sih kau ini akan berubah? Aku sudah katakan jangan sembunyikan apapun!"
"Sriti, aku benar-benar tidak mengerti maksudmu"
"O begitu? Sebentar"
Sriti mengambil foto tadi
"Ini, coba jelaskan kenapa foto ini ada di almari pakaianmu sedangkan aku hanya mencetak satu lembar dan menyerahkannya pada pihak panitia, tiba-tiba foto itu tidak dipajang, ternyata kau yang membeli?"
"Jangan mengarang, aku mencetak itu sendiri, waktu itu kau mengembalikan kamera padaku kan?"
"Aku hanya mengembalikan kameranya, tidak dengan memori card nya, jadi bagaimana foto itu bisa kau cetak? Dan bagaimana mungkin kwitansinya ada tulisan Photographer Festival 2014, tolong jelaskan"
"Ee aku itu..."
"Coba jelaskan?" Sriti menaikkan alisnya
"Iya iya baiklah, aku mengaku, aku memang membeli foto itu, rencananya aku ingin memasang dirumah singgah setelah bangunan barunya selesai, aku suka foto itu, dengan senyum anak-anak disana. Kau ini marah-marah saja"
"Bagaimana aku tidak marah, aku kebingungan mencari foto itu, ternyata kau mendapatkannya"
"Bukankah kau tahu jika foto itu sudah dibeli?"
"Iya aku tahu, tapi kan aku juga ingin melihat fo..." Shabir mencium pipi Sriti
"Tenanglah nyonya, relax, kau ini sedang hamil tidak baik marah-marah begitu. Baiklah aku minta maaf" Shabir menjewer telinganya sendiri
"Kau, selalu begitu, maaf maaf maaf tapi mengulangi lagi,lagi,dan lagi"
"Percayalah, apapun yang ku lakukan, itu bukan untuk hal yang salah"
Sriti terdiam, dalam hati ia membenarkan perkataan Shabir, dia sangat sabar menghadapi Sriti dan memang ia tak mau merepotkan orang lain
"Hm oke aku maafkan, tapi tolong, jangan selalu menyimpan rahasia, kita ini satu, berbagilah denganku apapun yang ada dipikiranmu"
"Istriku, aku mengerti kau cemas, kau khawatir, tapi kau juga harus yakin, dengan doa dan dukunganmu, aku pasti bisa menyelesaikan semuanya" Shabir mencium tangan Sriti
"Sekarang aku berangkat dulu, doakan semuanya lancar dan rumah singgah siap berkembang, eeee dan nak..." Shabir membuat Sriti duduk di sofa dan ia berlutut sambil mengusap perut Sriti
"Ayah berangkat, kau tidak boleh nakal, tapi marahi saja ibumu jika dia ngeyel dan tidak mau makan"
"Suniye, aku akan menjaga anakmu"
Shabir mencium kening Sriti dan berangkat
"sampai jumpa nanti"
"Dah, hati-hati"
Sriti merapihkan kamarnya lalu pergi ke bawah
-0-
Mrunal dan Shika sama-sama menangis setelah mengetahui kebenaran bahwa sebenarnya tuan Reihan membenci Shabir, menjatuhkan perusahaan Shabir, itu semua bukan karena rasa sakit hatinya, melainkan karena ancaman dari Tuan Raj.
#Flashback
Sebelum Shabir pulang ke Mumbai, Tuan Raj meminta Tuan Reihan untuk menikahkan Shabir dengan Sonya, kakak Radhika. Tetapi Tuan Reihan tahu, Sonya bukanlah gadis yang baik, maka dari itu ia menolak menjodohkan Shabir dengan Sonya, Tuan Raj tidak terima, namun ia masih tetap bersikap biasa saja, hingga ia mengetahui Tuan Reihan memiliki anak laki-laki lain. Yaitu Ranvi, ia pun ingin Ranvi menikah dengan Radhika. Tuan Reihan tahu, Radhika baik tetapi ia tak ingin memaksakan keinginan anak-anaknya
Tuan Raj sangat marah hingga mengancam akan menghancurkan semua keluarga Tuan Reihan, merasa tertekan, Tuan Reihan pun berpura-pura marah, karena mengetahui Shabir tidak mau bergabung diperusahaannya. Ia sengaja mengambil alih perusahaan ayah kandung Shabir, agar Tuan Raj tidak bisa mengganggunya
Dia berusaha kuat untuk jauh dari Shabir dan menunjukkan kebencian
#Flashback berakhir
KAMU SEDANG MEMBACA
SUNSET at LAKE PALACE
RomanceKisah Sriti Balwan Pandey. Seorang fotografer dan Shabir Vikash Mehta. Seorang Pemain sepakbola yang romantis,lucu,banyak rahasia
