Setelah para tamu pulang, mereka pun beristirahat dikamar masing-masing.
Mrunal yang masih merasa sedih, terus berada didekat ibunya, bahkan ia tak malu untuk tidur bersama ayah dan ibunya, ia juga ingin melepaskan seluruh perasaannya pada kedua orang tuanya
Nenek Shabir tidur bersama ibu Sriti, sementara saudara yang lain ada yang menginap di hotel terdekat dan beberapa di rumah sanak saudara yang ada disekitar rumah Sriti
Sriti sendiri yang merasa sangat lelah langsung membersihkan badan dan pakaiannya, ia pun lebih dulu membaringkan badan di ranjang yang sudah dihias begitu indah untuk malam pernikahan mereka
Tak lama Shabir pun masuk, ia melihat Sriti sudah tertidur
"Sriti, kau sudah tidur?"
"Ahh iya suniye aku sangat lelah, kau tidurlah"
'orang bilang kebahagiaanmu akan dimulai saat malam pertama, tapi ini malam pertamaku?' batin Shabir
Ia kemudian mengganti bajunya dan duduk ditepi ranjang
"Suniye" Panggil Sriti
'yess Shabir, dia memanggilmu'
"Ya?"
"Tolong matikan lampu, kau terbiasa tidur tanpa lampu kan?"
"Apa!? Lampu?"
"Iya lampu" Jawab Sriti tanpa membuka matanya
"Hm oke baiklah" Shabir merasa kecewa tapi ia berusaha biasa saja
'mungkin dia malu' batin Shabir
Setelah beberapa saat membaringkan tubuh, Shabir merasa haus, ia menyalakan lampu
"Suniyeee, matikan lampunya"
Shabir kembali mematikan lampu tidur
"Sriti apa tidak ada air? Aku haus?"
"Oh ya ampun. Aku lupa membawanya, sebentar aku ambilkan" Sriti bangun
"Tidak usah kau tidur saja, biar aku ambil sendiri" kata Shabir
Sriti lalu ingat masih menyimpan susu kotak dikamarnya
"Suniye, aku punya minuman, sebentar" Sriti ke lemari kecil diujung ruangan dan memberikan susu kotak itu pada Shabir
"Ini minumlah"
"Apa ini? Aku tidak bisa melihat"
"Yang pasti itu bukan racun"
"Hm baiklah" Shabir mengambil sedotan yang menempel di kotak itu
"Sriti, nyalakan sebentar ya lampunya. Aku mau mencari lubangnya"
"Ah suniye, kau raba saja dengan tangan, nanti juga kau akan menemukan"
"Bagaimana bisa, lubangnya kan kecil"
"Kau jangan banyak alasan, cari saja pelan-pelan"
Ternyata dari luar, Leena yang menginap dirumah Sriti tak sengaja melewati depan kamar Sriti
"Waw Sriti, dia sangat malu, pasti dia tak mengijinkan Shabir mendapatkannya dengan mudah" Leena menempelkan telinganya dipintu kamar agar semakin jelas mendengar
"Awww suniye, sakit..." rintih Sriti
"Ii ya maafkan aku, aku akan pelan-pelan"
"Makanya aku bilang sabar, kau sih tidak mau dengar"
"Yasudah kau pindah sebelah kiri, aku yang disitu"
Leena semakin terkejut "ooooowww aku tak sanggup mendengarnya lagi" Leena menegakkan badannya
"Nak apa yang kau lakukan disini?"
Nyonya Sarla memergoki Leena
"Eeeh bibi, aku aku mau mengambil air, ayo bi" Leena langung menarik Nyonya Sarla dari tempat itu
Didalam kamar ternyata, Shabir sedang mengurut kaki Sriti, karena Shabir ribut ingin minum tadi, akhirnya Sriti bangun lagi, saat itu tak sengaja kakinya tersandung selimut yang menjuntai ke tanah, ia pun jatuh. Sriti memarahi Shabir karena tak sabar
"Lagipula apa susahnya sih menyalakan lampu sebentar?" Kata Shabir
"Aku tidak terbiasa, nanti aku tak bisa tidur"
"Aku kan hanya butuh beberapa detik"
"Iya baiklah, maaf aku salah" Sriti akhirnya mengalah
"Sekarang aku ambilkan minum dulu"
"Lalu susunya?"
"Taruh saja, aku masih ingin meminumnya" Kata Sriti
Ia pun keluar kamar untuk mengambil air putih
Sementara Shabir kembali merapihkan tempat tidur
Setelah Sriti kembali, mereka berdua pun beranjak tidur, dan malam pertama terlewat begitu saja tanpa sesuatu yang istimewa
-0-
Dua minggu setelah pernikahan, Shabir membawa Sriti dan keluarganya kembali kerumah.
Awalnya mereka sempat ragu akan hal itu, tapi setelah Shabir menjelaskan jika pengacara sedang memproses berkas-berkas mereka, ayah Shabir pun setuju
Setelah merapihkan pakaian ke almari, Sriti lalu membuatkan kopi untuk Shabir yang sudah resmi menjadi suaminya itu
"Suniye, ini kopimu"
"Kau memang paling mengerti, baru saja ku mau meminta"
"Aku sudah tau jadwalmu"
"Benarkah?"
"Tentu saja benar" Jawab Sriti
"Sriti"
"Hmm"
"Apa kau tak rindu memakain jeans dan kaosmu?"
"Emmm ya kadang masih suka ingin memakainya tapi aku harus menyesuaikan bukan? Aku pasti terbiasa"
"Hmmm aku merasakan ada perubahan di dirimu setelah menikah" Shabir memeluk istrinya dari belakang
"Bukankah setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah?"
"Kau benar, tapi ada satu hal yang aku tak ingin itu berubah"
"Apa?"
"Kau akan tetap mencintaiku, apapun yang terjadi"
"Kau ingatkan yang pernah ibu jelaskan tentang arti sindur dan mangalsutra ini? Aku akan memegang sumpah kita'' Jawab Sriti
Shabir mengeratkan pelukannya
Ponselnya berdering
Shabir : Halo Pak Ragav
Ragav : Shabir, minggu depan ada pertandingan di Udaipur. Kau bisa berangkat kan?
Shabir : Udaipur? Kenapa mendadak sekali pak? Pertandingan apa?
Ragav : besok kau datang kestadion dan kita bahas disana
Shabir : Ok pak, aku besok kesana
Shabir menutup telefon
"Siapa suniye?"
"Pelatihku, dia bilang minggu depan ada pertandingan di Udaipur tapi pertandingan apa aku tak mengerti"
"Yasudah, besok kau akan tau. Sekarang habiskan kopimu dan tidurlah"
"Baiklah" Shabir segera meminum kopinya, setelah itu menggosok gigi lalu menyusul Sriti tidur
-0-
KAMU SEDANG MEMBACA
SUNSET at LAKE PALACE
RomanceKisah Sriti Balwan Pandey. Seorang fotografer dan Shabir Vikash Mehta. Seorang Pemain sepakbola yang romantis,lucu,banyak rahasia
