Keesokan paginya ditempat kerja.
"Pagi teman-teman, pagi Tasya, pagi Nyonya Sonya yang camtik." Sapa gue pada semua orang disini.
"Pagi juga Aurelia, tumben kamu datang sepagi ini ?" Tanya Nyonya Sonya.
"Iya dong, kan saya karyawan teladan cocok jadi panutan."
"Terserah lo aja deh Rel." Sahut Tasya.
"Yaudah kalian balik kerja dulu sana." Perintah Nyonya Sonya.
"Siap boss !!" Sahut kami serempak.
Kami mulai melakukan aktifitas, melayani setiap pelanggan dengan ramah dan tak lupa selalu mengulas senyuman untuk mereka.
Disaat gue sedang melayani pelanggan, gue lihat dimeja paling pojok sesosok rainbow girl sedang duduk bercakap cakap dengan seorang pria yang gue sendiri gak jelas wajahnya karena membelakangi gue, dia memakai baju serba hitam, dan topi yang menutupi sebagian wajahnya. Daripada gue kepo mending gue nguping aja pembicaraan mereka. Maafin Irel yalooh.
Gue pura pura membersihkan meja sebelah tempat yang dia duduki. Untung aja dia gak ngenalin gue siapa, jadi gue bisa nguping dengan aman damai dan sentosa.
"Sayang, lo tenang aja. Gue bakal bikin hubungan Lando dan Irel hancur. Lo bisa dapetin Irel lagi, dan gue bisa balik sama Lando lagi."
"Lalu apa rencana lo selanjutnya ?"
"Gue bakal kembali ke kehidupan Lando lagi, karena gue tau dia masih ada perasaan sama gue."
"Baiklah, gue tunggu kabar baik dari lo, Amira."
Kemudian laki laki bertopi itu pergi meninggalkan rainbow girl. Emosi gue meluap seketika, apa maksud dari Amira dan pria yang bersamanya tadi.
Tangan gue gak bisa gue kontrol, gue ambil air yang gue pake buat bersihin meja dan gue siram ke tubuh Amira itu, bau bau deh lo, bodo amat.Byuuuurrrrr .....
"Apa maksud lo ? Apa salah gue hingga lo mau misahin gue sama suami gue ?" Pekik gue.
"Karena lo udah ngrebut Lando dari gue, dan apa apaan lo ? Lo udah bkin baju gue bau dan basah." kata Amira dengan sangat emosi dan mengambil air es didepannya lalu mengguyur ke kepala gue. Njir, dingin.
Tak puas bercekcok mulut, dia menyambar rambut gue lalu menjambak gue. Gue pun balik membalasnya. Dia mencakar cakar gue, dan gue juga melakukan hal yang sama dengan dia. Banyak luka cakar menempel ditubuh gue. Terjadilah perkelahian sesama wanita disini, dan menjadi bahan tontonan pengunjung restoran.
"Kalian berhenti !!!!!" Suara mak lampir meneriaki kita, hingga Tasya pun ikut melerai kami.
"Rel, berhenti pliss. Malu dilihat orang orang !!" tegur Tasya sambil melerai gue.
Akhirnya gue menghentikan perkelahian ini.Plakkkkkk.....
Amira menampar pipi gue sampai sudut bibir gue berdarah dan sedikit membiru.
"Awwwhh.." Gue elus elus pipi gue. Perih yang gue rasa saat ini, orang tua gue gak pernah kasar ke gue, tapi dia ? Awas aja lo, gue gak bakal tinggal diam. Gue bakal bales semua yang lo perbuat ke gue dan gue pastiin rencana lo buat menghancurkan rumah tangga gue gak akan pernah berhasil.
"Awas ya lo, gue akan terus mengganggu kehidupan lo, gue pastiin lo gak akan pernah bahagia !" Ancam Amira.
Gue cuma bisa diem tanpa membalas kata kata Amira.
Sekarang gue dipanggi keruangan Nyonya Sonya, sedangkan Amira sudah pergi setelah menampar pipi gue beserta ancamannya tadi."Kamu tau perbuatan kamu barusan bisa membuat nama restoran ini jatuh." Kata nyonya Sonya dengan dingin.
"Maaf." hanya kata itu yang keluar dari mulut gue.
"Maafkan saya Irel, Dengan berat hati saya tidak bisa mempertahankan kamu disini. Ini gaji kamu dan silahkan kemasi barang kamu." Ucap nyonya Sonya yang bikin gue kaget sangat.
"Tapi bu, saya tidak bersalah. Dia yang memulai duluan, tolong jangan pecat saya." kata gue memelas, emang kesalahan gue besar ya ? sampai gue dipecat segala.
"Maafkan saya Aurelia."
Dengan langkah gontai gue keluar dari ruangan nyonya Sonya lalu menghampiri Tasya. Tangisan gue pecah dipelukan Tasya.
"Ini bukan salah gue, Sya. Ini salah dia yang mau menghancurkan rumah tangga gue, salah ya gue membela rumah tangga gue ? tapi kenapa gue dipecat."
"Lo yang sabar ya Rel, sory gue gak bisa bantu lo." kata Tasya sambil mengelus punggung gue.
"Thanks ya Sya, gue pamit dulu ya."
"Hati hati ya Rel, maaf gak bisa nemenin."
"Tidak apa apa Sya."
Gue keluar dari restoran tersebut dengan berat hati.
Berjalan tertatih dengan penampilan acak acakan dan luka dipipi. Nasib gak bawa sepeda, mau nelfon Lando tapi ntar dia banyak nanya. Gue lagi pengen sendiri dulu.Langkah gue berhenti di halte, dan gue duduk disana. Tak terasa hujan pun turun mengiringi kesedihan gue.
Njir gue lebay amat ya. Terus kalau kayak gini gue pulangnya gimana, handphone gue mati lagi.Terpaksa gue nerjang hujan, sekalian main hujan hujanan. Jarak rumah gue masih jauh banget. Gue capek jalan kaki, mana gak ada kendadaan umum lewat.
Gue lihat ada bangku ditaman yang ada penutup atasnya, hingga tidak terkena air hujan. gue neduh bentar disitu, dan gue ketiduran dibangku tersebut dalam keadaan basah kuyup dan menggigil kedinginan.-----------------
"Emmmhhh ..."
Saat gue buka mata, yang pertama kali gue lihat ruangan bercat abu abu tapi kok kayak gak asing buat gue.Setelah mengerjapkan mata berulangkali, gue inget kalau gue lagi dikamar Lando.
Lah, bukannya gue tadi ditaman, kok sekarang gue ada disini sih.Dengan susah payah gue turun dari ranjang ini buat mengambil minuman diatas nakas karena gue sangat haus.
"Kamu jangan banyak bergerak dulu." Kata Lando mengagetkan gue lalu mengambilkan gelas berisi air tersebut dan memberikannya kepada gue.
"Makasih." jawab gue lirih.
"Apa yang kamu sembunyikan dari saya ?" Tanya Lando.
Gue cuma bisa menggeleng lemah, karena gue gak tau maksud dari perkataannya. Gue gak ngrasa nyembunyiin apa apa dari dia, justru dia yang banyak nyembunyiin sesuatu dari gue.
"Dan bagaimana dengan luka ditubuh dan wajah kamu ?"
Whatttt ?? Gue lupa kalau muka gue sama badan gue babak belur.
Masak iya gue jujur kalau gue abis berantem sama Rainbow Girl. Gak elit banget."Ohh, ini ? Tadi Irel jatuh dijalan." kata gue bohonh dengan cengiran khas gue.
"Irel, jangan bohongi saya. Saya sudah tau semuanya."
"Apa ? abang tau semuanya ? abang tau darimana ?"
"Tadi saya menjemput kamu ditempat kerja, lalu teman kamu Tasya menjelaskan semuanya kepada saya kalau kamu berantem dengan Amira. Saya sudah meminta ijin pada Ibu Sonya untuk mengecek rekaman CCTV direstoran itu." ujar Lando panjang lebar, gue cuma bisa tercengang.
"Maaf." kata gue lirih.
"Kenapa Rel ?"
"Dia kata saya merebut abang dari dia, dan dia mengancam akan menghancurkan rumah tangga kita." jawab gue.
Lando hanya menghela nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar lalu pergi keluar dari kamar. Gue salah ya ngomong gitu ? memang Amira itu siapa Lando sih dimasalalu ? terus kenapa ekspresi Lando seperti itu saat gue jelasin semuanya ?
Sebegitu pentingkah Amira dimasa lalu Lando ?
Kok gue sedih ya.Bersambung....
Mohon kritik dan sarannya ya.
🙏
Maaf kalau ceritanya makin gak jelas alurnya.
Terimakasih sudah menyempatkan mampir membaca.
🙏🙏😇😘🤗

KAMU SEDANG MEMBACA
Partner Hidup
General Fiction"Kamu harus nikah dengan saya sekarang." "Nikah pala lo. Nikah aja sono sama yang mau sama lo. Lo kan ganteng tuh ya, pasti banyak dong yang ngantri." "Dan kamu salah satunya." "Heh kuncup, pede banget lo. Lo tu sebenarnya mau ngajak nikah apa mau n...