Cello berkutat di depan laptopnya, memeriksa hasil pekerjaan Fika yang dikirim melalui email pagi tadi. Ternyata Fika langsung mengerjakan tugas yang ia berikan. Pintu ruangannya diketuk.
"Masuk!" kata Cello.
"Permisi, Pak!"
"Kamu ngapain nemuin saya lagi? Saya enggak panggil kamu, kan?" Cello mengerutkan keningnya heran.
Wanita itu tersenyum tanpa merasa bersalah."Tapi, Bapak udah tau,kan kelakuan Fika ke Bapak?"
"Sudah. Saya sudah baca semua cerita di wattpad Fika. Semuanya tentang saya. Terima kasih atas informasinya."
"Lalu, apa Bapak tidak bertindak tegas atas perilakunya?"
"Untuk apa? Saya rasa...dia tidak melakukan kejahatan yang merugikan."
"Dia sudah menjelek-jelekkan Bapak."
"Menjelek-jelekkan itu seperti yang kamu lakukan. Kamu temen deketnya Fika, kan? Kenapa kamu seperti ini?"
"Saya kasihan aja sama Bapak."
"Kamu enggak kasihan sama Fika kalau seandainya dia saya pecat karena sudah mempermalukan saya?"
"Saya sudah sering memperingatkan Fika, Pak. Mengenai sikap kurang ajarnya ke Bapak. Tapi, dia malah terus-terusan lakuin itu. Kan kurang ajar, Pak."
"Berarti kamu care sama saya?"
"Iya, saya care sama semua orang."
"Tapi tidak dengan Fika. Kamu benci sama dia?"
"Bapak ngebelain dia. Apa Bapak sudah jatuh cinta sama Fika?"
"Apa urusannya sama kamu? Terserah saya dong, mau jatuh cinta sama siapa."
Wanita itu terdiam sambil meremas ujung blazernya."Ba...Bapak jatuh cinta sama Fika?"
"Saya enggak bilang kalau saya jatuh cinta sama Fika. Tapi, sama siapa pun saya jatuh cinta itu bukan urusan kamu. Kecuali...kamu memang jatuh cinta sama saya," balas Cello.
Wanita itu terdiam lagi.
"Sebenarnya apa tujuan kamu ngasih tau masalah Fika ke saya? Sekarang tujuan kamu sudah tercapai, kan. Saya tau...terus...kamu mau apa lagi?"
"Harusnya Bapak marah sama dia. Dia kurang ajar, Pak."
"Ya itu biar menjadi urusan saya ke Fika. Fika sedang saya liburkan beberapa hari. Apa itu cukup membuat kamu puas?"
"Fika dipecat?"
"Katakan saja, saya sedang meliburkan dia. Jadi, beberapa hari ke depan Fika tidak akan masuk kerja. Ya sebut aja saya sedang skors dia," kata Cello berbohong.
"I...iya, Pak."
"Dengar...saya enggak mau di kantor ini ada masalah-masalah seperti itu. Bencinya kamu sama dia, kan karena masalah pribadi. Kamu libatkan saya yang bos kamu, itu sebenarnya tidak etis. Memangnya itu urusan saya? Enggak, kan? So...urus masalah kalian masing-masing. Urusan kita hanyalah masalah pekerjaan."
"Maaf, Pak. Terima kasih atas waktunya. Saya permisi."
"Ya. Pergilah!"
"Fika udah keluar dari kantor ini. Udah puas, Nin?" Kata Dewi dengan lirih usai bertemu dengan Cello di ruangannya.
Nina tertawa."Ya baguslah."
"Kok jahat banget, sih kalian," Zacky.
"Iya, Nina. Kenapa kamu harus laporin masalah Fika ke Pak Cello. Dia itu kan temen kita," ucap Dewi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy Boss
ChickLitCover : Reta Hill Hobi membaca membuat Fika menjadi suka menulis. Tapi, tulisan yang ia buat tak wajar karena ia menjadikan Cello, bos di kantornya menjadi tokoh utama di cerita yang ia buat hanya untuk sekedar lelucon. Setiap hari Cello pun jadi ba...
