Fika memandang hotel mewah itu dengan takjub. Ia bahagia sekali dengan pernikahan Chica ini. Walau terkesan mendadak karena kebetulan Delta Morinho langsung ingin menikahinya setelah pertemuan pertama mereka. Semoga sahabatnya itu segera bangkit dari keterpurukannya.
"Masuk kamar sana. Jangan di sini. Orang masih pada kerja," kata Cello.
Fika merengut mendengar nada perintah seperti itu."Enggak di kantor, enggak di luar Bapak itu kalau ngomong emang suka nyakitin telinga ya."
"Aku cuma ngasih tau."
"Iya, Pak. Kamarnya yang mana?"
"Quin!" panggil Cello pada Quin yang muncul tiba-tiba.
"Kenapa?"
"Anterin Fika ke kamarnya Kak Chica." Cello mengangkat kerah baju Fika ke arah Quin.
"Eh busettt, dipikir ini kucing," kata Quin sambil meraih tangan Fika.
"Tau nih, bos aku jahat banget," curhat Fika.
Quin menepuk lengan Cello."Enggak ada manis-manisnya banget jadi atasan."
"Udah sana, pergi. Hush...hush...hush," usir Cello seakan-akan tidak nyaman.
"Itu kakak kamu?" tanya Fika.
Quin tertawa."Bukan. Dia tukang kebun rumah. Hahaha. Udah Biarin aja deh, Fika. Sabar ya...nanti biar dia kena karma. Jatuh cinta sama kamu."
"Loh, karmanya manis banget," balas Fika.
Keduanya tertawa, lalu pergi ke kamar pengantin. Acara akad nikah berlangsung khidmat. Fika memeluk Chica dengan haru. Sahabatnya itu sudah melepas masa lajangnya sekarang. Saat resepsi mulai berlangsung, Fika memilh duduk menyendiri, perutnya terasa sakit. Sepertinya sedang masuk angin. Perlahan ia memijit perutnya. Ia tersenyum lega saat ia bisa buang angin. Aromanya cukup menusuk. Tapi, karena ia sendirian dan tamu belum banyak yang datang, itu bukan masalah.
"Hei! Ngapain sendirian di sini?"
Mata Fika membulat. Ia bangkit dengan cepat sambil mendorong Cello."Bapak jangan dekat-dekat. Sana pergi."
"Loh, kenapa, sih?" Cello tidak mau pergi dari sana. Percuma saja Fika mendorong tubuhnya. Itu tidak akan berhasil.
"Pokoknya jangan di sini karena..." Ucapan Fika terhenti saat ekspresi wajah Cello berubah.
Pria itu tampak menggerakkan hidungnya seperti sedang mencium aroma tidak sedap."Bau apaan, nih?"
"Saya kentut, Pak," aku Fika dengan polosnya.
"Kamu enggak sopan banget, sih, banyak orang juga."
"Kan tadi saya udah nyuruh Bapak pergi dari sini. Eh, Bapak enggak percaya. Kebauan, kan?" Fika terkekeh.
"Busuk, Fika. Kamu makan apaan, sih!" Cello menutup hidungnya. Tapi, ia justru tidak pergi dari sana.
"Ya kalau bau sana, Pak, pergi," usir Fika.
"Kamu malah ngusir saya. Enggak ada terima kasihnya sudah saya jemput subuh-subuh. Romantis, kan, saya?"
Fika bergidik geli melihat kepedean Cello yang tiba-tiba datang setelah mencium aroma kentutnya."Ih, romantis apanya? Yang ada saya masuk angin tau. Kedinginan. Tuh, hasilnya adalah aroma sedap yang Bapak hirup."
"Kedinginan juga kamu suka satu mobil sama saya. Bilang aja kamu butuh kehangatan!"
Fika terkejut dengan ucapan Cello yang mendadak mengarah ke hal-hal mesum."Iya, Pak. Saya butuh kehangatan."
"Ayo ke kamar!" ajak Cello.
"Saya butuh kehangatan dari kuah bakso! Tuh, saya lapar. Pengen makan bakso." Fika melengos pergi. Tidak peduli dengan ekspresi Cello.
"Sial!"
Fika memang sedang lapar. Butuh makanan hangat untuk mengurangi rasa kembung di perut. Berhubung Chica sedang sibuk dengan tamu-tamu undangan, Fika pun menyibukkan diri dengan makanan. Mumpung gratis. Saat sedang asyik memilih makanan, ia terkejut karena tidak sengaja menabrak seseorang. Untungnya makanan yang ia bawa tidak tumpah.
"Ma...maaf, Pak." Fika terlihat ketakutan.
Alfa menoleh, memerhatikan Fika dari atas ke bawah."Kamu...yang datang sama Cello tadi, kan? Temennya Cello?"
Fika terdiam sejenak. Pria yang ia tabrak sedang menggendong seorang bayi perempuan. Setelah ia perhatikan baik-baik, ternyata Itu adalah Alfa."Saya temennya Chica, Pak. Bukan temennya Pak Cello."
"Tapi, tadi...kamu datang sama Cello, kan?" tanyanya lagi.
Fika mengangguk."Iya, Pak."
"Kebetulan saya mau ke toilet. Saya minta tolong, antarkan anak saya ini ke Mamanya ya. Minta tolong sekali."
Fika meletakkan piringnya begitu saja. Lalu menerima baby Nola dan menggendongnya. Alfa berjalan cepat ke kamar mandi tanpa bicara apa-apa. "loh, Mamanya yang mana."
Fika kebingungan. Ia harus mencari Isteri dari Alfa di antara banyaknya orang yang hadir. Ia berjalan dengan susah payah, menyeimbangkan badannya yang tidak biasa menggendong anak kecil. Ia hanya melihat Cello, mau tidak mau ia bertanya pada bosnya itu.
"Pak!" panggil Fika.
"Apa?" jawab Cello ketus.
"Isterinya Pak Alfa yang mana, ya?"
"Mau ngapain?" tanya Cello tanpa melihat Fika sedang menggendong keponakannya.
"Ini tadi Pak Alfa nitipin baby Nola ke saya. Disuruh anterin ke mamanya. Soalnya Pak Alfa mau ke toilet," balas Fika dengan nada suara sok baik.
Cello melihat keponakannya berada di gendongan Fika. Ia langsung meraihnya."Ya udah sama saya aja."
" Ya udah kalau gitu, Pak. Saya permisi."
"Loh mau kemana?"
"Mau makan, Pak."
"Duduk sini. Biar makanannya aku suruh pelayannya ambilin."
Fika merengut."Iya, Pak."
Mereka berdua duduk berdampingan. Cello menggendong Nola yang tertidur pulas.
"Pak, Habis ini saya mau pulang ya."
'kok cepet banget?"
"Setrikaan numpuk, Pak. Besok saya kerja pakai apa coba," jawab Fika santai.
"Ya pakai baju, lah!"
"Oh!"
"Besok saya enggak masuk," kata Cello tiba-tiba.
"Terus urusannya sama saya apa, Pak? Saya kan ini karyawan. Kalau Bapak enggak masuk, kan...ya enggak perlu izin."
"Ya kali aja besok kamu nyariin," kata Cello asal.
"Ge-er banget," gumam Fika sambil meneruskan makannya.
Acara hari itu cukup melelahkan. Sampai di kost, Fika langsung merebahkan dirinya dan tertidur. Esok ia harus sudah kerja kembali.
****
KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy Boss
ChickLitCover : Reta Hill Hobi membaca membuat Fika menjadi suka menulis. Tapi, tulisan yang ia buat tak wajar karena ia menjadikan Cello, bos di kantornya menjadi tokoh utama di cerita yang ia buat hanya untuk sekedar lelucon. Setiap hari Cello pun jadi ba...
