Setengah jam kemudian Fika mengetuk pintu mobil Cello. Cell sudah sempat ketiduran karena terlalu lama menunggu.
"Udah, Pak."
"Ya udah, masuk!" Cello mengerjapkan matanya perlahan. Ia menjalankan mobilnya ke sebuah mall.
"Kita makan dulu, ya," kata Cello sambil memainkan ponsel.
"Meeting atau makan,Pak?"
"Maksudnya meetingnya di sini sambil makan siang," tunjuk Cello pada tempat makan di depannya. Tempat makan itu menyediakan banyak menu desert dan es krim yang mampu membuat lidah Fika bergoyang.
Mereka dipersilahkan duduk dan memesan makanan.
"Kamu makan yang banyak, ya. Perbaikan gizi," kata Cello tanpa melihat Fika. Matanya terus fokus ke ponselnya.
"Boleh pesen banyak, Pak?"
"Boleh. Tapi, jangan kentut, ya."
Fika terkekeh. Ia memesan makanan dan es krim yang menurutnya lezat. Kebetulan dia pengen makan es krim di siang yang panas ini. Fika seperti sedang makan sendirian karena Cello sibuk sendiri dengan aktivitasnya. Fika bisa maklum karena Cello itu, kan bos. Otomatis dimana pun ia berada harus tetap memantau pekerjaan karyawan.
"Pak, kok temen Bapak itu belum datang juga, sih? Sampai makanan kita udah habis."
"Iya, soalnya...mendadak dia ganti jadwal. Ditunda jadi sore."
Fika tercengang."Serius, Pak? Terus gimana dong? Kita pulang aja!"
Cello menggeleng."Enggak usah, lah. Nanggung juga. Kita cari kegiatan lain aja sambil nunggu dia. Sebentar saya bayar dulu." Cello meminta bill kepada pramu saji.
"Cari kegiatan lain?" Fika berpikir apa yang dimaksud dengan Kegiatan lain tersebut.
"Kamu suka nonton enggak?"
"Suka, Pak. Nonton kartun." Fika terkekeh.
Cello tersenyum tipis. Kemudian mengeluarkan dompet saat pramu saji datang. Lalu membayarnya dengan uang pas."Yuk."
"Kemana, Pak?"
"Kita coba nonton bioskop aja. Lumayan lama kan nungguin temen saya itu. Jadi, kita nonton aja." Cello menarik tangan Fika.
"Ini serius?" Fika mencubit pipinya sendiri.
Mereka berdua sudah di dalam bioskop. Lampu sudah dimatikan. Layar menyala dan film mulai ditayangkan. Tiba-tiba, saat sedang serius-serius ya menonton, Fika merasakan tangannya digenggam. Ia menoleh dan kaget. Tangan Cello menggenggam jemarinya. Ia menatap Cello dalam kegelapan. Ia masih bisa menatap wajah bos gantengnya itu. Sejurus dengan itu, Cello ikut menatap Fika. Tanpa Fika sangka, bibir Cello mendarat di bibirnya.
Mata Fika membulat, nyaris saja ia berteriak karena kaget. Untungnya Cello hanya mengecupnya sekilas. Kalau tidak, bisa-bisa ia pingsan di dalam sini. Fika membuang wajahnya menahan malu walaupun di sana gelap. Pak Cello mengecupnya. Fika menepuk pipinya sendiri.
Tiba-tiba Cello menarik wajah Fika agar melihat ke arahnya."Kamu enggak lagi mimpi. Jangan ditepuk begitu. Sakit."
Tubuh Fika seketika membatu. Ia tak sanggup bergerak padahal wajah Cello begitu dekat dengan wajahnya. Pria itu malah tersenyum sambil mengusap pipinya. Satu kejutan lagi, Cello kembali mengecup bibir Fika. Kali ini dengan sedikit lumatan yang membuat bibir Fika basah.
Setelah melepaskan lumayannya, Cello merapatkan tubuhnya ke Fika. Memeluk pundak gadis itu dengan santai. Jantung Fika berdebar-debar. Ia tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh lelaki mana pun. Dan tadi itu adalah ciuman pertamanya. Cello sudah merebut ciuman pertamanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy Boss
Literatura FemininaCover : Reta Hill Hobi membaca membuat Fika menjadi suka menulis. Tapi, tulisan yang ia buat tak wajar karena ia menjadikan Cello, bos di kantornya menjadi tokoh utama di cerita yang ia buat hanya untuk sekedar lelucon. Setiap hari Cello pun jadi ba...
