Bab.17

128 24 0
                                        

Fika kembali masuk ke ruangannya. Kali ini ia melihat aura yang tidak biasa dari orang-orang di dalamnya.

"Zacky! Ayo makan siang,"kata Nina.

"Oke." Zacky berdiri.

"Mau makan siang dimana kita?" tanya Fika.

Nina menoleh."Kita enggak ngajak kamu, Ka. Sana makan sama Pak Cello."

"Loh, aku mau makan bareng kalian kayak biasa." Fika terlihat bingung.

"Udah deh, enggak usah sok gitu. Jujur aja aku males temenan lagi sama kamu, Fik. Munafik. Di belakang jelek-jelekin Pak Cello. Eh, ternyata kamu demen juga,kan?" kata Nina tanpa memedulikan sekitar. Para karyawan baru Hanya bisa terdiam sambil mendengarkan.

"Nina, lagi rame loh. Jangan gitu ah bikin malu," bisik Zacky.

"Kalian berdua juga malu kan temenan sama Fika. Norak, munafik lagi!"

Air mata Fika mengalir. Ia tidak menyangka akan mendapatkan rasa sakit seperti ini. Nina, Dewi, dan Zacky sudah seperti keluarganya sendiri. Tapi semuanya harus terjadi. Apakah ia benar-benar orang yang munafik. Mungkin saja Nina benar, hanya saja ia tidak menyadarinya.

"Nin, Maaf kalau aku seperti itu. Terima kasih udah ingetin aku. Tapi, aku masih temen kalian, kan?" isak Fika.

"Kalau aku jujur, ya...udah enggak mau. Entah kalau Zacky atau Dewi. Aku enggak peduli. Aku duluan...kalian mau ikut terserah," katanya pada Dewi dan Zacky.

"Ka, kita masih temenan kok. Tenang aja. Tapi, aku makan dulu ya sama Nina. Dah." Zacky pergi.

"Fika, kamu itu baik. Kamu temen aku." Dewi mengusap pundak Fika."Kalian semua temen aku."

"Thanks, Wi. Kamu pergi aja makan siang, Wi. Nanti keburu ditinggal Nina," kata Fika berbesar hati.

Dewi tersenyum."Aku tinggal dulu ya."

Fika mengangguk. Mengikhlaskan Dewi pergi. Ia menangis sedih. Tidak peduli karyawan-karyawan baru itu menontonnya.

"Kalian makan siang sana, jangan sampai telat. Utamakan kesehatan kalian," kata Fika.

Mereka semua mengangguk. Ada yang iba tapi tidak berani mendekati Fika. Fika menangis di dalam ruangan. Tidak ada rasa lapar. Semuanya terasa pedih.

Tepat jam dua. Semua karyawan dikumpulkan di ruangan meeting. Cello mengadakan meeting mendadak. Sepertinya ia akan membahas project yang lumayan besar.  Ia membagi  tugas ke masing-masing karyawan. Terutama untuk karyawan baru agar mereka banyak belajar. Sementara karyawan lama diminta melanjutkan pekerjaan seperti biasanya.

"Oke, meeting kali ini selesai. Yang sudah saya tunjuk sebagai leader harap bisa berkoordinasi dengan timnya ya."

"Baik, Pak."

"Silahkan kembali ke ruangan masing-masing. Kerjakan tugasnya."

Semua bergegas keluar ruangan.

"Fika, kamu tinggal di sini!" Kata Cello.

Fika melirik ke arah teman-temannya. Nina tersenyum sinis dan berbisik pada Zacky. Hati Fika berdenyut, mereka pasti menceritakan dirinya.

"Iya, Pak."

"Duduk."

"Kenapa, Pak? Saya ada salah?"

"Mata kamu kenapa bengkak?"

"Digigit semut, Pak."

"Memangnya di kantor ini banyak semut apa?"

"Ya kayaknya sih gitu, Pak. Bapak cuma mau nanya mata saya kenapa?" tanya Fika.

Cello menggeleng. Iya juga bingung kenapa menahan Fika di sini setelah melihat mata wanita itu bengkak. Seperti habis menangis. Kenapa ia harus peduli."Kamu enggak makan tadi ya?"

"Makan kok, Pak." Jawaban Fika terdengar asal.

"Oke. Tapi, kalau sampai kamu pingsan lagi karena telat makan. Saya hukum kamu, ya," ancam Cello.

"Iya, Pak. Terserah Bapak aja. Saya akan terima."

"Fik, kamu baik-baik aja?"

"Saya boleh cuti enggak, Pak?"

"Loh kenapa?"

"Pengen istirahat aja di kost. Beberapa hari."

"Kamu lagi ada masalah kayaknya."

"Iya, Pak. Hidup saya tuh banyak masalah. Saya boleh cuti, ya, Pak. Please."

"Paling banyak tiga hari ya? Kamu kasih alasan aja kalau kamu cuti datang bulan ke Doni."

"Beneran, Pak?"

"Iya bener. Kasihan juga kamunya. Kayak tersiksa gitu."

"Ah, makasih banyak, Pak."

"Oke. Nikmati waktu kamu, ya, Fika. Saya mau kamu udah enakan lagi kalau udah selesai cuti."

"Pasti, Pak."

Fika menghela napas lega. Sebenarnya masalah ini tidak terlalu besar baginya. Tapi, ia cukup terpukul. Ia butuh waktu untuk menyendiri dan menata hati seperti sedia kala. Selain itu,ia juga rindu pada Ibunya. Tapi, ia belum punya uang yang cukup untuk pulang. Tiketnya cukup mahal.

Sore itu, Fika keluar kantor dengan senyuman keihklasan. Ia pasrah dengan apapun masalah yang saat ini sedang menghampirinya. Jalanan sangat ramai dan macet. Fika mengulur waktunya untuk pulang sampai kemacetan berkurang. Lagi pula ia tidak perlu terburu-buru sampai di rumah karena besok ia cuti. Masih bisa santai.

"Fika!" Cello menghampirinya dengan tergesa-gesa.

Fika memutar bola matanya."Bisa enggak, sih sebentar aja enggak berurusan sama dia."

"Bawa nih!" Cello menyodorkan tas ransel.

"Apa ini, Pak?"

"Laptop. Kamu kerjakan Rab yang tadi di rumah, ya."

"Loh, saya kan cuti, Pak. Masa dikasih kerjaan?" Wajah Fika berubah menjadi sedih.

"Ya sambil kerja, kan enggak apa-apa, Fika. Kan kalau di rumah ngerjainnya bisa sambil tiduran, goyang dumang, atau kayang."

"Iya, bisa stres saya kalau gitu. Ya udah enggak jadi cuti deh saya, Pak."

"Loh, cuti lah. Kasihan nanti kamu stres."

"Lah, kalau dikasih kerjaan juga bukan cuti, dan malah makin stres saya, Pak, balas Fika.

"Ya udah saya, kan minta tolong, Fika. Kamu kerjakan. Itu, kan cuma dikit. Lagipula...kalau nanti kamu merasa waktu cuti kamu kurang. Ya boleh nambah kok."

Mendengar itu, Fika tertawa bahagia."Terima kasih, Pak. Bapak memang the best."

"Enggak usah dipuji begitu, lah. Akunya enggak suka."

"Hah? Aku? Pakai kata 'Aku'?" ucap Fika dalam hati. Ia pun terkekeh.

"Kamu enggak pulang? Nunggu angkot?"

"Nunggu sepi, Pak. Macet banget tuh. Saya, sih jalan kaki aja. Deket ini."

"Kan kalau jalan kaki di trotoar, Fika. Hubungannya sama macet apa?"

"Ya enggak apa-apa, Pak. Pengen aja nunggu sepi."

"Ya udah deh, saya pulang dulu. Mau ikut bareng saya enggak? Saya anterin?"

"Terima kasih, Pak. Saya jalan kaki aja."

"Beneran?"

"Bener."

"Oke. Saya duluan." Cello pergi ke parkiran.

Fika berjalan ke kostannya dengan hati riang. Ia tidak menyangka akan mendapatkan cuti padahal belum ada setahun ia bekerja di sana. Sesampai di kost, ia langsung membuka ponsel, lalu update cerita.

Teruntuk Bapak yang sekarang sedang dalam perjalanan ke rumah...
Terima kasih.

Kecup hangat,
Dari Agen Rinso yang selalu nyusahin.

***
Uda

Crazy BossTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang