Pintu kamar Fika diketuk berkali-kali. Fika menggeliat, melirik jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ia bergegas membuka pintu.
Cello tersenyum."Hai?"
"Loh, Bapak? Kok ke sini malam-malam gini?" tanya Fika khawatir.
"Aku udah izin kok sama yang punya. Sorry, aku baru pulang. Hari ini banyak kerjaan." Cello menghempaskan tubuhnya ke kasur.
Fika mengangguk. Ia pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukanya.
Cello mengubah posisinya."Tadi...kamu ke kantor ngapain? Ketemu saya?"
Fika mengangguk, kemudian ia mengambil parfum kiriman Cello."Ini dari Bapak?"
"Iya."
"Kok...Bapak bisa tau saya pengen parfum ini?" tanya Fika ragu.
"Wattpad kamu!" Cello menunjukkan layar ponselnya."Hai, Agen Rinso."
"Wattpad? Bapak punya akunnya? Sejak kapan?" Fika memekik tak percaya.
"Sejak...ada yang kasih tau kamu jadikan saya bahan cerita. Ya saya baca semuanya." Cello terkekeh.
Wajah Fika merah seperti kepiting rebus."Sejak kapan itu, Pak? Jadi..."
"Sejak...kamu update pakaian buat nikahan Delta sama Chica," jawab Cello.
Fika terperangah."Jadi...maksudnya, baju itu dari Bapak bukan?"
Cello mengangguk, ia tersenyum geli melihat ekspresi panik di wajah Fika."Iya. Saya yang kirim atas nama Chica. Saya juga yang inisiatif jemput kamu, sih. Enggak disuruh Chica."
Fika memegang kedua pipinya tak percaya."Bapak...maafkan saya. Saya enggak bermaksud bikin malu Bapak."
Cello melipat kedua tangannya di dada."Ah, enggak mau! Kamu kejam, Ka. Masa...gosipin saya."
Fika mengatupkan kedua telapak tangannya."Maaf, Pak. Saya cuma becanda, Pak."
"Kenapa kamu harus seperti itu? Saya punya salah sama kamu, ya?" Cello menatap Fika dengan serius.
"Jujur, sih...saya memang suka kesal sama Bapak. Disapa enggak dijawab, dilirik juga enggak. Padahal kita yang nyapa juga enggak maksud apa-apa kok. Namanya karyawan biasa, ya pengen juga gitu bertegur sapa sama atasan," jelas Fika sedikit tercekat.
Cello tersenyum."Maaf, ya. Saya enggak tau harus bersikap bagaimana dengan karyawan. Karena jujur saja, waktu saya diangkat jadi direktur...saya belum siap. Tapi, Papa saya mengharuskan saya menjadi pemimpin. Seperti yang lainnya. Saya cukup tertekan pada saat itu."
"Tapi, Bapak harus menuruti keinginan orangtua Bapak itu. Mereka pasti sangat menyayangi Bapak. Selagi masih bersama mereka...kita harus memaksimalkan waktu kita hanya untuk mereka."Fika tersenyum kecut.
"Bagaimana dengan orangtua kamu? Kamu bijak sekali, bicara seperti barusan. Kamu sayang banget sama orangtua kamu, ya?"
"Orangtua saya udah cerai, Pak. Masing-masing udah nikah lagi dan punya anak. Mereka hidup bahagia. Saya ikut siapa dong? Ya makanya saya hidup sendiri," kata Fika lirih.
Cello memeluk pundak Fika."Duh, jangan sedih...saya tau kamu kuat."
Fika terkekeh."iya dong, Pak. Saya kuat. Makanya saya bisa berdiri di sini sekarang. Bisa kerja di kantor Bapak. Cari duit sendiri."
"Kuliah dibiayain sama mereka, kan?" tanya Cello.
Fika mengangguk."Iya, Pak. Uang kuliahnya dari Mama bagi dua sama Papa. Tapi, untuk uang harian aku cari sendiri. Soalnya kan mereka harus mikirin keluarga mereka."
"Ya udah, saya tahu kamu kuat kayak manusia baja.
"Bapak masih marah sama saya?"
"Saya enggak marah sama kamu, Fika. Cuma nanya, kenapa kamu suka banget nulis tentang saya di wattpad kamu itu."
"Bapak lucu."
"Masa?"
"Bodo!"
Cello melirik sebal."Fika...jangan mulai deh. Makan."
"Bapak tau darimana, sih kalau saya nulis tentang Bapak di wattpad."
"Temen kamu."
"Nina?" tebak Fika cepat. Karena selama ini Ninalah yang paling benci padanya.
Cello menggeleng."Bukan. Tapi, Dewi."
"Masa sih, Pak."
"Iya saya serius."
"Kok Dewi gitu ya." Wajah Fika berubah menjadi sedih. Ia pikir selama ini Dewi lah menjadi teman satu-satunya yang masih mau bertahan menjadi temannya. Tapi, ternyata Dewi yang memberi tahu rahasianya pada Cello.
"Kamu pikirkan lagi deh pertemanan kalian itu. Masa iya sahabat menjelekkan sesamanya. Mereka enggak baik buat kamu."
"Aku enggak punya teman, Pak selain mereka. Ada, sih...Chica. tapi, dia kan udah nikah."
"Ya kalau gitu saya mau kok jadi temen kamu," balas Cello.
Fika tersenyum kecut."Terima kasih, Pak. Saya memang menyedihkan."
"Kamu enggak menyedihkan kok. Saya mau jadikan kamu teman...hidup saya."
"Hah?"
Cello tersenyum."Iya. Kamu mau jadi teman hidup saya?"
"Bapak bercandanya begini banget ya. Saya tau kok...saya bercandanya juga kebangetan. Bikin malu Bapak di depan teman-teman saya. Tapi, jangan begini, Pak. Saya ini cewek...agak baperan. Kalau Bapak ngomong begitu hati saya meleleh, Pak."
Cello membiarkan Fika bicara terus. Ia merogoh kantong celananya. Mengeluarkan cincin yang siapkan tadi. "Apa aku masih terlihat becanda, Fika?"
Fika cukup syok melihat cincin bermata berlian itu. Tentu saja ia tidak akan percaya. Karena Cello adalah bosnya.
"Kamu jangan anggap aku bos. Karena ya...aku juga enggak ada apa-apanya di kantor. Itu punya keluarga. Sesungguhnya aku belum punya apa-apa. Anggaplah aku seorang teman."
"Bapak...melamar saya begitu? Eh...atau gimana?"
"Iya. Saya lamar kamu kalau memang itu mau kamu. Saya malah senang."
"Sejak kapan Bapak jadi tertarik sama saya?"
"Entahlah. Tau-tau udah jatuh cinta aja sama kamu. Jadi, enggak diterima nih?" Cello menutup kotak cincin itu.
"Eh, iya mau...mau."
"Mau cincinnya aja?"
"Sama orangnya dong!" Fika mencolek hidung Cello.
Cello menarik Fika dan memeluk gadis itu."Maaf udah bikin kamu takut selama ini. Sikapku memang begini dari dulu."
"Enggak apa-apa. Yang penting akhirnya bahagia." Fika terkekeh.
Cello melepaskan pelukannya."Eh tunggu. Kalau kamu Nerima saya berarti kamu juga suka sama saya dong?"
Fika tersenyum."Iya lah, Saya suka sama Bapak. Sayang...cinta dan ehem...ehem."
"Sini peluk." Cello merentangkan tangannya.
"Belum halal, Pak?"
"Besok dihalalin di MUI."
Fika mencubit perut Cello."Jahat banget."
"Iya dihalalin di KUA. Besok kita daftar ya." Cello mengecup kening Fika. Lalu keduanya tertawa bersamaan.
****
TAMAT
KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy Boss
ChickLitCover : Reta Hill Hobi membaca membuat Fika menjadi suka menulis. Tapi, tulisan yang ia buat tak wajar karena ia menjadikan Cello, bos di kantornya menjadi tokoh utama di cerita yang ia buat hanya untuk sekedar lelucon. Setiap hari Cello pun jadi ba...
