10

1.1K 217 14
                                        

Kai melingkarkan kedua tangannya di tubuh krystal dari belakang, menempatkan dagunya pada cekungan leher krystal yang nampak terkejut oleh kehadiran dan perilaku kai yang tiba-tiba.

buru-buru ia mengusap dengan kasar air mata yang barangkali masih ada di wajahnya, menoleh sedikit kearah dimana wajah Kai berada sembari memaksakan sebuah senyuman.

"Kai?" pertanyaan retoris milik Krystal yang dihadiahi sebuah anggukan mantab milik Kai dengan senyum yang semakin mengembang serta jangan lupa pelukan di perut krystal yang semakin mengerat.

"Gak tidur?"

"Kamu ngapain disini?"

"Cari angin."

Kai membalik tubuh krystal perlahan, ditangkupnya pipi krystal dengan sedikit mendongak, "saya mau pulang aja, disini gak enak, krys."

"Kenapa?"

"kamu bisa nemuin jawabannya setelah kamu nurutin saya."

"Oke kai, oke." senyum kemenangan milik kai terbit, membuat krystal memutar bola matanya tak ayal juga ikut tersenyum dan jauh di lubuk hatinya terbesit rasa bersalah.

"kenapa bibir pucat itu terus-terusan tersenyum? sedangkan disini gue menguatkan diri agar tetap pada pendirian untuk mengeruk semua hartanya."

"Krystal?"

"ya?"

"kenapa bengong? mau saya gendong?"

"ha? eng–enggak. Kai!" yasudah lah, toh sudah terlanjur dan kai tidak akan mendengarkan omongan krystal.

krystal cukup salut kai masih bisa mengangkat tubuhnya dengan sempurna, membiarkan kedua tangan krystal melingkar pada leher miliknya.

"berat ya?"

"enggak."

•••

"kenapa kita harus ketemu?"

"dan, kenapa lo dateng saat gue ajakin lo ketemuan?" krystal bungkam, memincingkan sebelah matanya menatap chanyeol yang tersenyum seolah tengah mengejeknya.

"karena itu chanyeol."

"karena lo masih sayang sama gue."

kali ini krystal benar-benar menghadap chanyeol dengan sempurna, "Kalo gue masih sayang sama elo urusannya apa? Chanyeol, gue ingetin sekali lagi, emang rasa sayang bisa secepet itu hilang setelah apa yang kita lalui bertahun-tahun bersama? kalo gue bisa menghapus rasa itu secepat yang ada di otak lo, udah dari dulu gue lakuin, brengsek."

krystal benar, omongan krystal ada benarnya. chanyeol bahkan seolah ditampar oleh pernyataan yang baru saja krystal lontarkan.

"krystal, I mean.."

dirinya salah menilai krystal tanpa tahu apa yang gadisnya inginkan.

"sebejat apapun lo di mata gue, lo gak tau sesayang apa gue sama elo. sesakit apa rasanya saat lo terus-terusan nyakitin gue tapi gue gak bisa ninggalin elo. sesederhana dan semenyakitan itu berada di dekat lo, anjing."

"krys.."

"stop nyebut nama gue brengsek!"

Bahkan tangan chanyeol yang sudah diatas udara, bersiap merengkuh tubuhnya yang nampak kuat dari luar tapi chanyeol yakin krystal begitu rapuh di dalam buru-buru ia urungkan.

rasanya sangat tak pantas hanya untuk menyentuh krystal.

"tapi mau gimana lagi, setiap orang pasti punya batas kesabaran chanyeol. dan gue salah satunya." Chanyeol mendongak menatap krystal intens, krystal juga tengah menatap chanyeol tepat di iris matanya.

pandangan mereka sama-sama terkunci dengan perasaan yang berbeda.

"Sekarang gue sadar, gue emang sayang sama elo, tapi gue udah gak cinta lagi sama lo."

•••

Eunwoo menaruh nampan yang sudah berisi obat-obatan dengan berbagai warna dan ukuran serta air putih membuat kai menoleh sekilas dengan senyum miringnya.

begitu muak dengan semua ini.

juga dengan chanyeol yang lagi dan lagi menguji kesabarannya.

"ada kabar gembira yang gue yakin bisa ilangin wajah murung lo itu kai. selain rokok, alkohol dan wanita."

"apa?"

"hari jumat kita akan ketemu dokter suho untuk nge-schedule operasi transplantasi ginjal."

"sebentar.. maksud lo, gue...?"

"Iya, kai. sudah ada ginjal yang cocok buat elo dan dokter suho tadi ngehubungin gue."

"Ya Tuhan.. Thanks Lord." Eunwoo menepuk pundak kai beberapa kali sebelum pergi meninggalkan kamar kai, tapi langkahnya berhenti saat Kai menanyakan krystal padanya.

"Krystal–"

"Udah. dia ada di ruang tamu sekarang."

"thanks Eunwoo. without you, im nothing."

"geli gue asu."

Someone to stay; KaistalCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang