12

1.9K 215 15
                                    

"Astagaaa....ternyata sangat membosankan liburan tanpa teman. Mending aku kerja saja. Di sana aku banyak teman, bisa berhaha hihi." Omel Ana sepanjang jalan. Dia bosan hanya menunggu di hotel. Arsenio sangat keterlaluan, dia tidak dikasih guide lagi semenjak menghabiskan uang Arsenio. Tapi Ana nekat keluar walau hanya di seputaran hotel supaya dia tidak tersesat saat kembali ke hotel.

Tanpa Ana sadari, Ana berjalan agak ke tengah karena sedang banyak pikiran. Tiba-tiba sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke arahnya, suara teriakan orang-orang sama sekali tidak di dengarnya karena pikirannya mengembara jauh. Saat dia mendongak karena mendengar decitan suara ban mobil yang sangat kuat dia terpaku karena mobil itu melaju ke arahnya. Ana berhenti di jalan dengan mata membelalak lebar. Dia merasa hidupnya akan berakhir. Kakinya sama sekali tak bisa digerakkan untuk menghindar dari maut yang seakan datang menjemputnya. Ana memejamkan mata, pasrah dengan apa yang akan terjadi, toh jika dia mati tak ada yang akan menangisinya atau kehilangannya.

Aku akan bertemu ibu, aku gak akan kesepian lagi. Hanya ibu yang menyayangiku.

Tiba-tiba dia merasa tubuhnya terhempas dan merasakan sakit. Ana masih memejamkan mata, mengira dia sudah mati, saat sebuah suara memanggil-manggil namanya.

"Ana....Ana....bangun...."

Perlahan Ana membuka matanya. Matanya tak percaya melihat orang yang ada di depannya dengan jarak begitu dekat.

Apakah dia sampai berhalusinasi mengira orang yang menatapnya dengan tatapan panik itu adalah Azka? Tidak! Tidak mungkin Azka ada di sini. Di Paris. Dia pasti sedang bermimpi. Apa orang mati bisa bermimpi?

"Ana...syukurlah Ya Allah...Alhamdulillah....kamu tidak apa-apa, kan?" Ucap pria itu dengan sorot mata khawatir melihat keadaan Ana. Tanpa menunggu jawaban Ana, pria itu membopong Ana menuju rumah sakit yang tak jauh dari sana.

Setelah Ana dibawa ke emergency room, Azka mengurus administrasi dan meminta agar Ana dirawat dengan baik dan meminta tolong seorang suster yang bisa berbahasa Inggris agar mencarikan taksi untuk Ana dan mengantarkannya ke hotelnya jika dia keluar nanti.

Pria yang menolong Ana memang Azka. Tapi dia juga tidak ingin Ana menyadari keberadaannya di sini. Dia tahu kalau dia sudah bertindak bodoh dengan menyusul Ana dan Arsenio ke Perancis. Tapi dia tidak dapat mengendalikan dirinya setelah acara lamarannya kepada Hanim beberapa hari yang lalu, dia merasa gelisah karena beberapa hari tidak melihat Ana. Bodoh! Dia memang bodoh! Ngapain coba dia mengikuti suami istri yang sedang honeymoon. Itu hanya akan menambah luka hatinya saja. Dia baru saja sampai di Paris hari ini, dan saat baru saja keluar dari hotel tempatnya akan menginap, dia melihat Ana berjalan sambil melamun hingga hampir saja ditabrak mobil. Rasanya jantungnya seakan berhenti melihat Ana yang terdiam seakan dia memang sedang menyambut kematiannya. Dengan berlari kencang Azka mengejar Ana dan sempat menghindarkannya dari kematian. Hufff...rasanya lega sekali. Ana nya selamat.

Azka menggelengkan kepalanya. Dia pasti sudah gila mengatakan Ana adalah Ana nya. Padahal sudah jelas kalau Ana adalah iparnya. Tapi, kenapa sejak bertemu Ana kembali perasaan cintanya malah semakin dalam kepada Ana? Ini sungguh tidak wajar. Ana bukan wanita yang bisa diraihnya lagi. Bahkan saat ini dirinya juga sudah melamar wanita lain. Lupakan Ana....lupakan Ana.....lupakan Ana. Rapal Azka dalam hati.

Azka menunggu dari jauh hingga Ana diperbolehkan pulang setelah mengobati luka di tangannya yang berdarah karena terkena aspal dan sudah tidak syok lagi. Suster yang dipesani tadi mengantar Ana menaiki taksi. Azka lega karena Ana tidak apa-apa. Setelah taksi Ana menjauh, Azka pun keluar dari rumah sakit.

Sementara Ana masih bingung dengan kejadian yang baru saja menimpanya.

Ahh...ternyata dia memang hanya berhalusinasi saja saat mengira melihat Azka, batin Ana.

Saat Ana keluar dari lift dan menuju ke kamarnya, dia melihat dua orang sedang berpagutan di lorong dekat kamarnya, kemudian kedua orang yang sedang mabuk gairah itu masuk ke kamar dan menghilang. Namun yang membuat Ana syok, pria yang sedang bermesraan dengan seorang wanita itu adalah suaminya.

Jantung Ana berdentam dengan cepat. Walaupun dia tidak mencintai suaminya, rasanya tetap menyakitkan ketika melihat suaminya selingkuh. Dia sungguh merasa terhina. Jika memang suaminya mencintai wanita lain, kenapa harus melamarnya?Bahkan wanita selingkuhan suaminya tidur di kamar yang bersebelahan dengan kamarnya. Ana merasa lemas dan menyandarkan tubuhnya di dinding karena takut jatuh. Banyak sekali kejadian hari ini yang mengguncangkan jiwanya.

Dengan menguatkan hatinya, Ana berjalan tertatih masuk ke kamarnya.

Sementara sepasang mata yang sedari tadi mengikutinya menatap iba kepada Ana.

***

"Aku mau pulang."

Arsenio yang baru saja kembali ke hotel melirik Ana yang duduk di sofa. Arsenio mengacuhkan Ana dan berjalan ke kamar mandi.

Ana kesal sekali karena diacuhkan. Gimanapun caranya dia harus tetap pulang duluan walaupun masih dua hari lagi seharusnya mereka kembali ke Jakarta.

Ketika Arsenio keluar dari kamar mandi dan sudah mengenakan kaos dan celana pendek, Ana kembali mengatakan keinginannya.

"Kak Arsen, Ana mau pulang! Untuk apa Ana di sini. Gak ada yang bisa Ana lakukan di sini. Sangat membosankan."

"Terserah. Besok akan kuatur kepulanganmu. Tapi ingat! Kau harus berlagak bahagia seolah kita baru saja berbulan madu. Katakan aku belum selesai syuting di sini."

Iya, syuting adegan porno dengan kekasihmu.

Ana tidak peduli bahkan jika Arsenio tidak kembali lagi ke Jakarta.

Keesokan harinya Ana kembali ke Jakarta. Tapi saat di pesawat tadi, dia merasa diikuti oleh seseorang. Tapi saat dia menoleh ke belakang, dia tidak melihat orang yang mencurigakan. Tapi anehnya dia merasa aman, bukan takut.

***

Ana memasuki rumah mertuanya. Dan disambut oleh ibu mertuanya.

"Hai, sayang. Gimana bulan madunya?"

Ana tersenyum lebar, menampilkan wajah pura-pura bahagia seperti perintah Arsenio. "Luar biasa, Ma."

"Mudah-mudahan setelah ini kamu bisa cepat hamil ya, Sayang." Ucap Mama sambil memeluk Ana.

"Iya, inshaallah Ma." Ana tersenyum pahit mendengar ucapan mama mertuanya. Tiba-tiba saja mata Ana tertumbuk pada wajah yang menatapnya dengan sinis dan senyum mengejek. Azka.

"Loh, Arsen kenapa gak ikut pulang sama kamu?"

"Kak Arsen belum selesai syuting, Ma."

"Oohh...ya sudah kamu istirahat sana. Mama mau pergi arisan dulu."

"Iya, Ma."

Ana berjalan ke lantai atas melewati Azka yang menatapnya dengan tajam. Entah kenapa melihat Azka hatinya berdenyut sakit, apalagi menyadari jika Azka sekarang sudah menjadi milik wanita lain. Dia benci. Sangat benci dengan keadaan itu.

Hahh...siapalah aku kenapa seolah tidak rela Azka akan menikah dengan gadis lain.

================

13082018

FORBIDDEN LOVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang