Ternyata Azka membawa Ana ke Pulau Putri. Mereka tiba sore hari di pulau itu. Azka melupakan kalau dia sudah meninggalkan Hanim di ruangannya.
Bagaikan anak remaja sedang kasmaran, Azka dan Ana melupakan siapa mereka, apa status mereka saat ini. Azka hanya ingin menghibur Ana. Ingin mengusir sejenak kepedihan Ana, wanita yang sangat dicintainya sejak dulu, tapi tak bisa diraihnya.
"Azka, kamu gila ya. Gimana kita pulang sudah sore gini." Ucap Ana namun pandangannya sangat menikmati apa yang terhampar di hadapannya. Pasir putih dan laut yang biru. Suasana sangat tenang dan tidak ramai, karena ini bukan hari libur atau akhir minggu.
"Lupakan semua untuk sejenak, Ana. Hari ini kita bersenang-senang. Kita pulang besok." Ujar Azka dengan senyum manisnya. Senyum yang dulu saat mereka SMA selalu diberikan Azka kepadanya, senyum yang menenangkan, senyum yang mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
"Terima kasih, Azka." Ana balas tersenyum.
Mereka mengikuti wisatawan lain memasuki sebuah kapal. Kapal akan bergerak menuju ke lepas pantai. Mereka akan dibawa untuk melihat sunset.
Ana dan Azka duduk berdampingan di kapal dan menyaksikan keindahan alam ciptaan Tuhan dengan senyum bahagia. Ana menoleh menatap Azka. Bahkan dari sampingpun Azka terlihat tampan.
Tiba-tiba dada Ana bergetar saat memandang wajah Azka dari dekat. Rasanya dia ingin membelai wajah tampan Azka, ingin berada dalam pelukkannya saat ini. Pasti sangat menyenangkan berada dalam pelukkan Azka sambil menyaksikan matahari tenggelam.
Dan Ana terkejut saat tiba-tiba saja Azka merangkul bahunya dan menariknya mendekat. Ana pun dengan senyum malu-malu menyandarkan kepalanya di bahu Azka. Dan semua impian yang sedang dilamunkannya barusan langsung terwujud. Darah Ana berdesir-desir merasakan tangan hangat Azka dibahunya. Rasanya dia ingin waktu berhenti agar bisa menikmati moment seperti ini lebih lama lagi.
Tapi sepertinya waktu tidak berpihak kepadanya. Setelah usai melihat sunset, kapal membawa mereka kembali ke pantai.
Azka terus menggandeng tangan Ana hingga mereka berhenti di sebuah kamar terapung. Azka mengajaknya masuk ke dalam. Ana memindai seluruh ruangan, dan terkejut melihat ada dua single bed di sana.
Apa mereka akan tidur dalam satu kamar malam ini?
"Kamu tenang saja, aku gak akan macam-macam sama kamu."
"Eh, mmmm...aku percaya kok. Aku cuma masih gak enak karena aku gak pulang ke rumah. Gimana nanti kalau mama nyariin aku."
"Kamu telepon saja mama sekarang. Katakan kamu lagi nginap di rumah teman kamu."
"Idiihhh...kamu ngajarin aku berbohong sama mama kamu, Azka." Ucap Ana tak percaya sambil membelalakkan matanya menatap Azka. Karena Azka yang dikenalnya adalah orang yang selalu jujur.
Azka jadi salah tingkah dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia merasa jadi orang bodoh yang tidak memakai otaknya jika berhadapan dengan Ana.
"Ya sudah. Aku telepon mama dulu." Ana pun menelepon mama mertuanya dan mengatakan persis seperti yang disarankan Azka agar mama mertuanya tak curiga.
Ana meletakkan ponsel dan tasnya di tempat tidur. "Sekarang gimana nih, aku gak bawa baju ganti. Masa aku tidur pakai baju kerja gini. Lagian gka nyaman sudah dipakai seharian."
"Kita beli baju saja sekalian cari makanan." Saran Azka.
Untung saja aku selalu bawa baju pakaian dalam cadangan di tasku. Jadi gak bingung cari ganti pakaian dalam, batin Ana.
Tadi kamu bawa tas waktu turun dari mobil. Apa isinya?" Tanya Ana.
"Oh, itu--aku selalu bawa baju cadangan di dalam mobil. Jadi ya kubawa saja ke sini."

KAMU SEDANG MEMBACA
FORBIDDEN LOVE
Художественная прозаJANGAN LUPA FOLLOW DULU (PRIVAT ACAK) Iriana Balqis, gadis muda yang rapuh tapi angkuh. Hidup sebatangkara tanpa kerabat dan miskin membuat Ana, nama panggilannya, yang semula adalah gadis baik-baik dan pendiam, banting setir menjadi gadis genit da...