[8] Hypocrite

2K 238 16
                                        

Aku fikir, aku akan selamanya berlari mengejarmu yang berada jauh di depanku.

Tapi nyatanya, saat ku lelah dengan semua dan memilih untuk berhenti dan pergi, kau malah berbalik arah dan menarikku untuk kembali.

Apa yang harus ku lakukan sekarang?

***

Lisa fikir ia adalah salah satu dari semua orang munafik di dunia ini.

Bagaimana ia bisa melepaskan Hanbin dan menyuruh lelaki bangir itu pergi, padahal dalam hati ia tidak rela?

Bagaimana ia bisa merelakan Hanbin padahal dalam hati ia merintih memohon untuk jangan pergi?

Lalu, apa yang harus ia perbuat sekarang? Kata 'pergilah' sudah terlanjur ia ucapkan pada sang terkasih.

Mau tak mau---bisa tak bisa---ia harus melihat punggung kokoh yang selama ini ia idamkan akan terdiam dipelukannya kini berbalik, memunggunginya.

Ia bodoh, karena sudah membiarkan air matanya jatuh disaat semua ini adalah keputusan yang ia pilih.

Jangan pergi!

Andai ia bisa mengucapkan itu dengan lebih cepat, ya andai. Karena, kini ia telah sendiri.

Hanbin telah pergi. Meninggalkannya---pergi tanpa berniat untuk membawanya.

Lisa terduduk kaku di lantai marmer putih itu. Ia tutup kedua matanya yang basah dengan tangannya.

Ia bohong jika ia bisa hidup tanpa Hanbin.

Lalu, bagaimana nanti hidupnya setelah ini terjadi?

Ah, Lisa tahu.

Bahkan, setelah satu detik kaki lelaki bangir itu melangkah pergi, dunianya telah hancur berkeping-keping.

Rapuh, kering, dan tak bisa untuk direkatkan lagi.

***

Hanbin merenung di depan balkon kamarnya. Beberapa helai rambutnya tertiup angin yang berhembus kencang malam ini. Membelai pipinya lembut.

Remuk

Entah kenapa, ia merasa hatinya remuk. Padahal, ini yang selama ini ia inginkan.

Ia dan Lisa---mereka akan segera berpisah. Status mereka akan menghilang bagai ditelan waktu ketika mereka bubuhkan tanda tangan di atas secarik kertas berisi surat perceraian nanti.

Tapi---kenapa? Kenapa rasanya sakit?

Hanbin mengelus bagian dadanya pelan. "Kumohon, jangan begini." Gumamnya.

Ia tidak ingin jatuh ke dalam pesona seseorang yang bukan Hayi. Ia bukan tipe lelaki yang akan mudah tergoyahkan.

Lisa---tapi wanita cantik berponi itu seakan punya cara tersendiri untuk membuatnya goyah.

Untuk itu, kini Hanbin akan menulikan pendengarannya. Ia tidak ingin lagi mendengar tentang Lisa lagi.

Tapi, Hanbin ragu.

"Ayolah, Kim!" Serunya frustasi.

Hanbin mendesis kesal kala  mengingat bayangan sendu wajah Lisa beberapa saat yang lalu.

Mungkin ia memang sudah gila, karena ia sangat ingin menghapus jejak air mata di pipi mulus itu.

***

"Lisa, kau sakit?"

Waktu itu, Lisa ketahuan sedang melamun saat bekerja. Dan hal itu, membuat Chaeyong tergugah untuk bertanya. Apalagi ketika melihat wajah sahabatnya itu pucat pasi.

IGNORAMUS - HANLIS / HANLICECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang