[2] I Was Married

2.4K 285 22
                                        

Aku layaknya orang tolol yang mencintaimu tanpa bisa kau cintai.

***

Lisa tersenyum miris ketika mengetahui satu fakta bahwa---Hanbin mengabaikannya.

Sehina itukah dirinya?

Puk

"Eh?" Lisa menoleh kepada orang yang menepuk pundaknya.

"Ada apa, Chaeyong-ah?" Tanyanya pada seorang wanita cantik berambut coklat bernama Chaeyong, sahabatnya sekaligus teman kerjanya.

"Lisa, entah kenapa aku merasa kau harus segera mencari seorang kekasih." Ujar Chaeyong membuat Lisa terkekeh.

"Yaaa, aku serius, Lisa. Di sini, hanya kau manager yang single."

Lisa tersenyum kecil. "Kata siapa? Chaeyong-ah, sebenarnya aku sudah menikah."

Chaeyong melotot. "Dengan siapa?"

Lisa mengibaskan tangannya. "Sudahlah, lupakan. Ayo bekerja lagi, nanti bisa-bisa kita dimarahi---"

"Lisa, apa dia tampan?"

"Chaeyong---"

"Apa dia tampan?"

Lisa menghela nafas. "Iya"

"Kaya?"

Dahi Lisa mengerenyit. Chaeyong matre?

"Hm. Iya."

"Dia single? Maksudku, saat kau menikah dengannya, apa dia masih single?"

Lisa terdiam. "Kenapa kau bertanya seperti itu?"

Chaeyong terkekeh. "Ya, siapa tahu kau menikahi suami orang. Kan lagi marak-maraknya tuh sekarang." Jawabnya.

"Tapi, jangan kau anggap serius, Lisa. Ohya, kau menyayanginya? Apa dia juga menyayangimu?"

Lisa terlihat mendunduk. "Aku menyayanginya. Tapi, dia---entahlah. Hei, ayo bekerja lagi!"

Chaeyong mengerenyit. "Kenapa enta---"

"Chaeyong?"

Wanita berambut coklat itu menghela nafas. "Eum, baiklah."

***

Hanbin selesai menandatangani berkas-berkasnya. Kemudian, ia membuka laci untuk mengambil sebuah stempel. Tapi, matanya menangkap sesuatu di dalam laci itu.

Setangkai mawar.

Lelaki bangir itu berdecak. "Dia berkata akan menghentikannya, tapi apa ini? Ck."

Dan dengan enteng, Hanbin membuang setangkai mawar itu ke dalam tong sampah.

Tanpa menyadari tatapan terluka seseorang terhadap apa yang telah dilakukannya.

***

Lisa menghentikan langkahnya ketika melewati ruangan Direkturnya. Ia mengintip sedikit ke celah pintu yang sedikit terbuka.

Senyumnya melengkung ketika mendapati Hanbin tengah serius bekerja.

Tapi, senyumnya seketika memudar ketika melihat bunga yang ia taruh di laci meja lelaki bangir setiap pagi itu baru saja dibuang.

Lisa membalikan tubuhnya dan berjalan menjauh. Hatinya ngilu luar biasa.

Drrt... drrt... drrt...

Direktur Kim's Calling

Lisa menatap handphone nya sendu.

Pip

IGNORAMUS - HANLIS / HANLICECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang