Bila memang berakhir, akhiri saja.
Bila memang kau pergi, lupakanlah aku.
Kenapa kau terus tarik ulur hatiku?
Bagaimana aku bisa pergi jika kau bersikap begini. :')
***
Lisa menatap Hanbin yang berjalan masuk mendekati ranjang pesakitan yang ia tiduri.
"Kenapa kau disini?" Tanyanya heran.
Apa Hanbin yang membawanya ke rumah sakit?
Tapi---kenapa? Apa lelaki itu tidak takut orang lain akan berfikiran yang tidak-tidak tentang mereka?
"Sudah baikan?" Tanya Hanbin tanpa menjawab pertanyaan Lisa. Ia duduk di kursi yang telah disediakan di samping ranjang wanita yang masih menjadi isterinya itu.
Lisa mengangguk. "Sudah lebih baik sekarang." Jawabnya.
Kepalanya juga sudah tidak berdenyut sakit seperti tadi. Hanya saja, lengannya kebas. Maksudnya---jarum infus itu membuat tangannya mati rasa.
"Ada yang sakit?" Tanya Hanbin ketika melihat Lisa mendesis kecil.
"Ah, tidak-tidak. Aku sudah mend---" Lisa terlonjak kaget ketika Hanbin memijit pelan area tangannya yang ditancapi jarum infus.
"Baru pertama kali diinfus, ya?" Tanya Hanbin.
Lisa hanya tersenyum malu. Memang benar, ini baru pertama kali baginya. Karena, setiap sakit Lisa hanya akan berdiam diri di rumah tanpa melakukan apa-apa dan tidak ingin memeriksakan keadaannya ke Dokter.
Tapi, kemudian ia menggeleng.
"Ini bukan pertama kalinya." Ujarnya.
Benar. Dulu, saat menyelamatkan Hanbin, ia juga terluka dan tangannya juga di infus.
"Eoh?" Tanya Hanbin tak mengerti.
"Dulu, saat aku menyelamatkanmu aku juga diinfus. Jadi, ini bukan pertama kalinya." Ujar Lisa disertai senyuman manisnya.
Hanbin memalingkan wajahnya dan berhenti memijat area tangan Lisa. Jantungnya berpacu cepat ketika melihat senyuman itu.
"Istirahatlah, Dokter bilang besok kau sudah boleh pulang." Ujarnya sembari berdiri.
Lisa mengangguk saja pertanda mengerti.
***
Chaeyong menatap Lisa khawatir. "Bagaimana keadaanmu? Lisa, kau membuatku khawatir." Ujarnya dengan nada merajuk.
Mendengarnya, Lisa tertawa pelan. "Aku sudah tidak papa, Chaeyong-ah. Sudah pulang kerja?"
Chaeyong menganggukkan kepalanya. "Sudah minum obat?"
"Sudah."
Lalu, Chaeyong duduk di samping Lisa. "Lisa, sebenarnya ada hal mengganjal yang ingin ku tahu darimu."
Dahi Lisa mengerenyit. "Maksudnya?"
Chaeyong memandang sahabatnya itu dengan penasaran. "Kau memiliki hubungan apa dengan Direktur Kim?"
Deg
Chaeyong meneliti raut wajah Lisa yang terlihat kaget.
"M-maksudmu apa, Chaeyong-ah? Kami teman SMA."
"Jujur." Ujar Chaeyong dengan penuh penekanan.
"Kami teman---"
"Lisa, kumohon jujur."
Lisa menghela nafas. Apa ia harus menceritakan ini pada Chaeyong?
Apa sahabatnya itu bisa menyimpan rahasia ini?
KAMU SEDANG MEMBACA
IGNORAMUS - HANLIS / HANLICE
FanfictionAku layaknya orang bodoh yang mengharapkan hadirmu untukku The only things that I want is you But, we are like dominoes. I fall for you, you fall for another. *** Cast: Kim Hanbin X Lalisa Manoban STORY BY ANITADESI11 *** DONT COPY AND PASTE! DONT B...
