pagi ini seungmin kembali lolos dari bully geng blackpink, dan sebagai gantinya dia menemukan chan yang sudah basah kuyup, entahlah mungkin dia disiram seperti yang terjadi padanya waktu lalu.
“astaga chaaan!” seungmin berlari menghampiri lelaki itu dengan panik. “apa yang terjadi? kau tidak apa-apa kan? apa kau kedinginan?” seungmin nampak khawatir dan itu malah membuat chan tertawa karna gemas.
“kau lucu saat sedang khawatir,” dia menatap seungmin sebelum kembali memasang benda bulat tersebut, membuat seungmin menggumam dalam hati, dia bersumpah jika sepasang mata coklat itu seperti memiliki ‘sesuatu’ yang tersembunyi.
“kau ini apa-apaan, aku hanya khawatir.” seungmin memukul bahu chan untuk menutupi rasa gugupnya. “bagaimana ini seragammu basah.”
“tenang, aku sudah menyiapkan seragam baru, hal seperti ini sudah kuduga akan terjadi.” seungmin menatap chan lamat dengan pandangan bersalah.
“maafkan aku,” lelaki yang lebih kecil akhirnya menunduk dengan helaan nafas, “semenjak kau pindah kesini, geng blackpink jadi mengganggu mu, padahal seharusnya aku yang di posisi itu.”
“jadi kau mau terus-terusan di ganggu oleh mereka?”
“bukan begitu–”
“dengar seungmin,” chan mengangkat dagu yang lebih pendek agar mendongak menatapnya, “jika kedatanganku membuatmu bebas dari mereka, aku merasa senang melakukannya. well anggap saja aku sedang menggantikanmu.”
“tapi chan–”
“jangan khawatir.” kali ini chan beralih mengacak rambutnya dengan senyuman lebar, membuat seungmin diam-diam merona malu.
“aku kedinginan,”
“uh..eh ayo kita ganti baju.”
“kita?” chan menaikkan sebelah alis, menggoda seungmin yang kikuk.
“maksudku kau! kau yang harus mengganti seragammu, ish ayo!” seru seungmin gugup kemudian mendorong-dorong bahu chan agar segera ke kamar mandi.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
kehidupan seungmin belakangan ini berjalan dengan cukup baik, di sekolah geng blackpink tidak lagi mengganggu. tentu saja karna chan yang selalu mereka jadikan target, walau seungmin merasa sangat bersalah, namun lelaki tampan itu selalu mengatakan bahwa dia baik-baik saja.
terhitung sudah satu bulan lamanya seungmin berteman dengan chan, dia tidak lagi kesepian atau sendiri, karna dia memiliki itu sebagai teman sebangku. mereka sering menghabiskan waktu untuk mengobrol, memakan bekal makan siang di atap atau pun pulang bersama.
seungmin jadi mengetahui bagaimana sifat chan, dia adalah lelaki baik yang bersikap dewasa. iya, hanya sebatas itu saja karna chan sedikit tertutup tentang keluarganya. seungmin tentu menghargai privasinya.
dan entah sejak kapan perasaan itu muncul, dia mulai menaruh perasaan pada lelaki ber kacamata itu. seungmin merasa begitu nyaman bersamanya, seperti ingin berada di sisinya, selalu.
sayangnya seungmin tidak berani mengungkapkannya, dia tidak mau merusak pertemanan mereka. nemiliki chan sebagai teman saja sudah membuatnya bersyukur.
“besok adalah sepuluh tahun kematian kakek dan nenekku, kau mau ikut pergi menjenguk mereka?”
chan yang sedang meneguk sodanya itu menatap seungmin dan tersenyum.
“tentu, jam berapa kita akan berangkat?”
“delapan pagi.”
dan sesuai perjanjian mereka, tepat pukul delapan pagi chan sudah berdiri didepan rumah seungmin dengan pakaian rapi, rambut tersisir dan jangan lupakan kaca mata bulat yang selalu bertengger di hidung mancungnya.
“maaf, apakah kau menunggu lama?”
“tidak.” chan memperhatikan raut wajah seungmin yang terlihat murung.
“ada apa?”
seungmin menggeleng, “ibuku,” bisiknya kecil.
chan terdiam sejenak, dia lantas menggenggam jemari seungmin dengan erat, membuat empunya terkejut.
“tidak apa, aku bersamamu. ayo kita pergi,” mereka berjalan menuju halte bus sembari bergandengan, tidak menyadari bahwa wajah seungmin sudah memerah dengan sempurna.