eighteen

1K 167 16
                                        

Irene terbelalak marah menatap Mino sambil mengibaskan kuas yang sedari tadi dipegangnya. Malam itu mereka sedang menghabiskan waktu berdua dirumah pohon Irene.

"Mino!"

"Duh, apaan sih?" Mino mendongak kesal.

"Kamu ngapain sih?!" Irene berkacak pinggang setengah emosi.

"Ngg......... "

"Are you trying to draw me?" Irene menarik kertas yang dipegang Mino dan berisi coretan coretannya.

Mino membuang muka dengan kesal dan malu.

Irene memperhatikan gambar Mino sejenak. Sejak kapan gambar Mino sebagus ini, batin Irene. Padahal Mino bilang dia ngga bisa gambar. Tapi tiba tiba Irene tersenyum jail.

"Aku ngga sejelek ini ya! Apaan nih"

"Bawel banget sih, yang penting aku usaha" seru Mino kesal. "Lagian aku kan bukan seniman, kalo pengin digambar bagus sama pacarnya, yaudah cari aja sana" Mino menghela napas pasrah sambil merebut kembali kertasnya.

Irene yang rencana awal cuma iseng, malah ikutan emosi.

"Oh gitu, aku cari di pinggir jalan aja gitu? Fine!"

Irene menggigit bibir kesal, mau turun meninggalkan Mino yang masih asik sama kertasnya. Udah sebulan semenjak dia pulang dari rumah sakit, dan kakinya masih dalam proses pemulihan.

Udah sebulan juga kira kira Irene dan Mino akhirnya pacaran. Mino kadang masih nyebelin kaya dulu, tapi lebih romantis dan blak blakan sekarang sih.

Saat Irene bersiap turun, tangan Mino udah melingkar dipinggangnya.

"Jangan dong sayang, aku kan cuma bercanda" Mino berbisik ditelinga Irene. Kalo udah gitu, Irene lemah dong ngga jadi marah.

"Abisnya kamu suka gitu deh"

"Maaf yaa, kan aku ngga bisa gambar, aku bisanya motret. Nanti deh aku belajar melukis dulu, abis itu aku gambar kamu yang bagus, sekalian aku bikin pameran"

Irene tersenyum, lalu berbalik menghadap Mino. Tangannya meraih pipi Mino, menatapnya lekat, mengaguminya. Selama ini Mino berusaha yang terbaik untuknya, ngga pernah ngeluh meski Irene ngambek dan ngomel. Berusaha membuktikan dan menepati janji ke Dad dan Momnya buat jagain Irene. Bahkan malam itu, Mino rela meninggalkan segala jenis gadget dan pekerjaannya demi quality time bersamanya.

"Kamu tau kan, kamu prioritasku. Apa perlu nanti aku kolaborasi sama seniman favoritnya Dad mu?" Mino menyibak poni Irene yang sedikit menutupi matanya.

Irene tertawa kecil.
"Haha, supaya apa?"

"Eum....." Mino berpikir sebentar, memasang ekspresi menggemaskan.
"Supaya Dad kamu bangga sama calon mantunya"

"Haha apaan sih. Selama kamu anaknya Kwon Jiyong, Dad bakal merasa bangga karena dia bisa besanan sama sahabatnya"

"Aku pengin Dad kamu liat aku sebagai Mino, orang yang mau bahagiain anaknya sepanjang hidupnya, bukan aku sebagai anaknya Kwon Jiyong"

Irene menatap Mino lembut. Akhir akhir ini Mino selalu sukses bikin Irene jatuh berkali kali pada sisi lain Mino yang bikin Irene kagum.

Kadang mereka berantem karena hal hal kecil, tapi kemudian salah satu diantara mereka minta maaf karena ngga sanggup marahan lama lama. Kadang mereka menghabiskan waktu berdua cuma saling diam. Mino memandang Irene lekat lekat, lama banget, seolah Mino mau pergi jauh. Tapi kemudian esoknya dia udah berdiri didepan rumah Irene, membawa keceriaan lagi.

Bersama Mino, membuat Irene merasa nyaman. Kalo dipikir lagi, mereka dipertemukan dengan cara yang aneh dan unik. Mungkin itu yang membuat Mino begitu istimewa di mata Irene, begitupun sebaliknya.

"Good Night Mr. Song, aku mau kebawah, udah ngantuk" kata Irene lalu mengecup pipi Mino sekilas.

"Yaudah, kamu duluan aku disini dulu. Have a nice dream princess" kata Mino sambil mengecup kening Irene pelan.

Setelahnya Irene turun dari rumah pohonnya dan berjalan menuju kamarnya. Sesampainya dikamar, Irene menatap Mino dari balik jendela yang sedang memandang langit malam. Irene tersenyum mendapati Mino yang mungkin sedang bicara sama langit sendirian.

Irene merasa bersyukur sekarang. Orang tuanya akhirnya bisa memaafkan Mino dan ngga lagi mempermasalahkan kecelakaan itu. Dua bulan yang lalu Irene mungkin menyalahkan mereka karena perjodohan bodoh itu, tapi malam ini Irene merasa berterima kasih sekali sama orangtuanya karena telah meminta Mino untuk menjaganya.

Irene menikmati setiap waktu yang dia habiskan bersama Mino.

Setelahnya Irene beranjak menuju ranjangnya. Sebelum tidur tak lupa Irene berdoa seperti rutinitasnya tiap malam.

"Tuhan, seandainya aku tahu dari awal Kau punya rencana yang sangat indah untukku, aku tak akan sekalipun meragukanMu" kata Irene sambil melipat tangannya dan menutup mata. Setelahnya wajah Mino terlintas dikepalanya dan membuatnya tersenyum lebar.

"Terimakasih telah memberikan hal terindah. Terimakasih telah memberiku kebahagiaan dengan adanya Mino disampingku. Maafkan aku yang pernah menuduh Mu meninggalkanku. Dan Tuhan yang baik, terima kasih telah menjawab semua doa doa ku. Berkati aku dan Mino. Amiin"

Dan malam itu Irene tertidur pulas, tersenyum.





♡tbc♡










sorry updatenya singkat, soon update lagi deh. Doain mood aku baik terus :(

Enjoy ya jangan lupa komen :)











better than cashmere - endCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang