nineteen

1K 159 15
                                        

"Irene sayaang apakabar? Kamu udah sehat kan?" Suara riang Sandara disambut pelukan hangat oleh Irene. Sandara mengecup pipi Irene ringan.

"Ya Tante, aku baik baik aja kok" Irene tersenyum ramah

"Irene maaf yaa, Mino pasti sering bikin kesel"  Sandara mengelus pelan lengan Irene.

Irene tersenyum canggung lalu berbisik pelan kearah Mino yang berdiri disampingnya "iya kamu emang ngeselin banget sih"

Bukannya merasa bersalah, tangan kiri Mino meraih pinggang Irene dari samping dan menggelitik kecil saat Ibunya berlalu menuju ruang tengah.

"Sayang ih!" Irene melotot kesal dan mendorong tubuh Mino menjauh lalu menyusul Tante Sandara kedalam.

Orangtua Mino datang saat Irene bangun dari koma, lalu dua hari kemudian mereka berangkat ke Aussie. Tiba tiba kemarin Tante Sandara menelpon Mom Tiffany, bilang kalo mereka mau ke Seoul hari ini. Mom dan Dadnya Irene pun dengan senang hati menawarkan diri buat menjemput mereka di bandara.

"Dad dimana sih Mom?" tanya Irene mencari cari sosok Dadnya.

"Masih di mobil, nurunin barang sama Om Jiyong"

Irene cuma mengangguk lalu mengalihkan pandangannya ke Tante Sandara yang duduk di sofa.

"Mau teh Tante?" Tawar Irene sopan, yang dibalas anggukan dan senyum sumringah. "Bentar ya Tante" Irene pamit kebelakang

"Aku mau kopi dong yang" Mino mengedipkan sebelah matanya.

"Yeu bikin sendiri. Americano apa latte" jawab Irene judes, tapi nawarin juga.

Mino menahan tawanya, sedangkan dua wanita disebelahnya cuma saling senyum.

"Americano deh" Irene berjalan kearah dapur.

"Aduh, Mino beruntung banget deh jeng dapet yang kaya Irene. Udah cantik, baik, sopan, berbakat lagi" puji Sandara.

Mom Tiffany tersipu bangga, "Apa sih jeng, beruntung juga Irene dapet yang kaya Mino. Ganteng, mandiri, intelek, udah mapan lagi"

Lalu mereka cekikikan sendiri. Ibu ibu arisan rempong ceu.

Karena Mino ngga tahan dengan obrolan emak emak rempong di depannya, dia pamit kebelakang bilang mau bantu Irene.

"Anak muda biasa deh malu malu gitu"

"Iya hmm, seru kali ya jeng kalo mereka nikah, bla bla bla..."

Sayup sayup percakapan mereka terdengar nyampe dapur.

"Udah selese mbak bikin teh nya?" sindir Mino sesaatnya tiba didapur.

Irene masih berdiri didepan pantry pura pura sibuk mengaduk teh, lalu menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya.

"Udah.."

"Kamu sengaja ya lama lama disini" tuduh Mino.

Irene membalikan badan, bersiap membantah statement Mino. "Nggak"

"Ngaku aja deh, ngumpet gitu"

"Apaan sih aku kan lagi bikin teh. Ngajak ribut deh"

Mino menghela napasnya, tiba tiba ceweknya jadi galak lagi gini

"Siapa yang ngajak ribut sih by, kan aku cuma tanya"

Irene mendengus kesal, lalu bersiap membawa nampannya.

"Kamu denger kan mereka lagi bahas tentang per-ni-kah-an" Mino sengaja menekankan kata terakhirnya. Mau dihindari sampai kapanpun, pembahasan itu udah tiba waktunya.

better than cashmere - endCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang