Tempat tujuan pertama kami untuk meminjam mobil tidak berhasil karena si peminjam mengatakan bahwa mobilnya sudah dipesan oleh seseorang, jadi kami melanjutkan perjalanan kami menuju tempat yang lainnya. Butuh waktu sekitar sepulu menit untuk sampai di tempat kedua.
Sesampai disana Bi Teti mengetuk pintu sipemilik rumah dan muncul sosok pria berkumis dengan banyak batu cincin dijemarinya. "Punteun pa, boleh pinjem mobil gak buat besok? Sehari aja." Ucap Bi Teti menyampaikan tujuan kami.
"Oh saya mah udah gak minjemin mobil lagi, sekarang saya rentalin mobil." Jawab bapak itu. "Yaudah saya sewa buat besok. Berapa seharinya?" Aku langsung menjawab.
"Seharinya lima ratus ribu, neng."
Hah?! Gasalah?! Ini wilayah kampung dan dia ngasih harga setinggi itu?! Duit dari mana gue?!
"Gasalah pak? Ini kan wilayah kampung, yakali bapak rentalin mobil dengan harga segitu. Kemahalan kali." Aku tak bisa menahan mulutku untuk mengatakan hal itu. "Gabisa dimurahin dikit pak?" Bi Teti menambahkan.
"Gak bisa bu." Jawab bapak itu. "Heh, nih ya pak, saya tuh mau rental mobil bapak buat berobat om saya. Jadi turunin harganya dikit dongg!"
Luke tiba-tiba menarik bahuku pelan dan bertanya "What's wrong? You look upset."
"He wont lend the car, he rent it for five hundred thousand for a day." Jawabku dengan masih memasang wajah yang kesal. Luke tidak berkata apapun, dia justru menurunkan Ara dari gendongannya dan meraih ponselnya di kantung celananya. Dia mengotak-atik ponselnya sebelum mengeluarkan dompetnya.
"I'll pay it." Ucap Luke sembari mengeluarkan beberapa lembar dollar dari dompetnya. "Luke? What? No!" Aku mencegahnya. "No! We need this car. It's okay, i care about your family so much. Let me help you." Ucapnya sembari kembali mengeluarkan lembar dollar. "Okay, how much is that?" Aku bertanya.
"It's forty seven dollars." Jawab Luke dan aku mengangguk. Luke pun memberikan lembaran dollar itu kepada pria berkumis itu. "Im gonna pay for this, is that enough?" Ucap Luke pada si bapak menyebalkan itu. "Tuh pak, kapan lagi kan dibayar pake dollar. Udah tuh simpen, pajang kalo perlu. Itu kalo di tuker ke rupiah lumayan loh. Lima ratus tujuh ribu lima ratus dua puluh tujuh perak lebih lima belas sen. Lebih dari lima ratus ribu tuh, untung kan?" Aku tak bisa berceloteh saat dongkol seperti ini.
"Wah makasih ya. Sebentar, saya ambilkan kunci sama STNK nya dulu." Ucapnya sebelum berlalu kedalam rumah dan beberapa saat setelah itu dia kembali dengan membawa STNK dan juga kunci mobilnya. Luke menerima STNK dan kunci itu dan berkata "I'll test drive first." Ucapnya padaku dan aku hanya mengangguk.
Luke melangkahkan kakinya menuju satu-satunya mobil yang terparkir di garasi rumah ini. Memasuki mobil dan diikuti oleh Ara yang berlari kecil dibelakangnya sembari memanggil Luke. Luke menoleh ke arah Ara dan menyadari apa yang diinginkan anak itu, Luke mengangkat tubuh mungil ara dan memangkunya sebelum melakukan test drive. Aku dan Bi Teti? Kami hanya menunggu sampai Luke selesai melakukan test drive.
Aku tidak begitu khawatir jika Luke tersesat nanti karena jalur di daerah ini hanya memutar, tak perduli arah mana yang akan Luke ambil,, jalan itu akan membawa Luke kembali kesini.
Setelah sepuluh menit menunggu, akhirnya Luke kembali dan mengatakan bahwa mobil ini lulus test drive. Mendengar itu aku lega karena aku dan Luke bisa mengantar A Mamat berobat. Aku dan Bi Teti memasuki mobil dan kami pun pulang. Luke mengantar kami sampai kerumah Abah, sedangkan Luke kembali membawa mobil sewaan ke rumah mbah. Well, halaman rumah abah tidak cukup untuk mobil ini.
🔥🔥🔥
Malamnya aku membantu Bi Teti menyetrika pakaian dan aku juga merasa terhibur dengan ocehan abah saat beliau meminta Ara agar memijatnya. Tapi apa boleh buat? Tenaga Ara masih sangatlah kecil sehingga wajar jika abah tidak merasakan apapun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lukman 2020
Fanfiction"Im going to Bandung to meet my girl's fam. Im so exited!" -Luke Hemmings. "SAHA MANEH?!" -Abel's daddy. "What were you doing? You're sweating." Ucapku saat merasakan tubuhnya yang lengket. "Why are you sweating?" Luke kembali bertanya. "I was ironi...
