Bibir ranum itu mengulaskan lengkung kecil dengan binar kebahagiaan yang tergambar jelas dari sepasang manik bulatnya. Dengan langkah tertatih dibantu Xingyi, Jaejoong mendekati sosok wanita yang tengah berbincang dengan wanita lainnya.
Senyum lembut yang terukir indah, seolah menjadi daya tarik sang wanita hingga membuat siapapun merasa nyaman di dekatnya. Perlakuan penuh kasih terus berulang dan menghampiri setiap orang di sana. Layaknya idola, wanita itu terlihat begitu diidamkan dan dihormati.
"Mama..."
Zhao Jae menoleh cepat dan keterkejutan menyerangnya dalam sekejap. Air matanya tanpa bisa dicegah mengalir begitu saja ketika sosok rupawan itu memenuhi pandangannya. Kaki rapuhnya mulai melangkah perlahan hingga akhirnya tanpa sadar berlari untuk mendekap sosok yang paling dikasihinya. Sang putra yang begitu dirindukannya.
"Jaejoongie." bisiknya haru tak kuasa menahan senyuman bahagianya. Mata indahnya menatap Faxian yang ikut tersenyum di hadapannya sebelum salah satu tangannya terulur untuk menyambut tangan Faxian. Mengucapkan beribu rasa terima kasih yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Lengan Jaejoong bergetar sebelum akhirnya membalas pelukan Zhao Jae, mengeratkan dekapan keduanya dengan perasaan yang tidak dapat terjabarkan. Kebahagian dan rasa tak menyangka terus melambung tinggi seolah hendak menelannya.
Manik bulatnya terpejam dengan setetes air mata yang mengalir lembut. Merasakan kehangatan yang sempat hilang dari kehidupannya. Menyisakan kepedihan dan nestapa yang mengiringi kehidupannya, bahkan setitik kebahagiaan oleh sebuah perjuangan panjang dan tiada akhir.
'Mama Jae masih hidup? Bagaimana bisa?'
'Ketakutan. Ketakutan terbesar Yang Mulia Kaisar Yi adalah dibenci oleh dirimu, mengingat bagaimana selama ini beliau berulang kali mengorbankan apapun untuk kehidupanmu. Bahkan untuk kehormatan dan harga diri, beliau rela tanggalkan hanya untuk dirimu, Jaejoongie.'
'Mama Ji...'
'Beliau bahkan sempat memohon kepadaku untuk membawa pergi ibumu dari istana, untuk menyakinkan rakyat yang telah termakan oleh buah bibir yang belum pasti kebenarannya itu. Meski pada kenyataannya aku sendiri yang menyebar luaskan, namun aku sama sekali tidak menambahkan kebohongan menyakitkan di sana.'
'Bukankah itu sama saja dengan kau yang telah menciptakan nestapa dalam kehidupan Permaisuri- ibuku?!'
'Benar. Aku memang membenci Permaisuri, namun aku lebih membenci wanita yang menjadikan ibumu sebagai penggantinya, Jaejoong.'
'Bukankah kau telah mengetahuinya, Jaejoong? Ibumu sendiri telah menjadi korban dari keegoisan sosok Permaisuri sebenarnya, dan bukankah sudah sepantasnya bagiku untuk mengembalikannya pada kehidupan impiannya? Zhao Jae tidak pernah bahagia dengan kedudukannya di Zhou, karena pada kenyataannya dirinya hanyalah seorang pengganti meski Yang Mulia Kaisar Yi sendiri telah memberikan banyak cinta kepada ibumu.'
.
Zhao Jae sama sekali tidak melepaskan Jaejoog dari pandangannya sejak mereka tiba di kediaman sederhananya ini. Bertahun-tahun dirinya berdoa dan berharap kepada Dewa agar kembali dipertemukan dengan sang putra.
Bertahun-tahun Zhao Jae bersekutu oleh ketidakadilan hidup yang diterimanya, menerima jika dirinya terasing seorang diri, kembali pada kisah hidupnya yang sempat terhenti. Rela meninggalkan putra kecilnya seorang diri ditengah kerasnya kehidupan istana.
"Apakah selama ini mama baik-baik saja?"
Zhao Jae menyentuh lembut tangan berisi Jaejoong dan mengusapnya perlahan "Mama sangat baik, begitu baik terlebih setelah melihat dirimu." dua pasang mata indah itu saling bertatapan "Melihatmu kian menawan, membuat mama yakin jika hidupmu begitu diberkahi. Mereka sangat menjaga dan melindungimu, bukan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Beginning of Qin
Historical Fiction[Kingdom series 1] Harga dirinya sebagai seorang Putra Mahkota seolah diinjak secara paksa, ketika tahta yang memang seharusnya menjadi miliknya dialihkan kepada orang lain bertepatan dengan terbongkar identitas dirinya serta hukuman untuk sang Perm...
