Lisa mengerjapkan matanya ketika dirasa sinar matahari yang menusuk indera penglihatannya. Masuk mewati celah ventilasi, menyapa paginya. Ia segera bangkit dan berjalan menuju kamar mandi dengan wajah yang lesu.
Setelah selesai ritual membersihkan diri, lisa mulai memoles wajahnya dengan sentuhan make up yang tipis serta rambut yang dibiarkan tergerai indah, menambah kesan cantik dan manis dalam dirinya.
Ia mulai menuruni anak tangga satu per satu, berniat untuk sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat ke sekolahnya.
"apakah ibu dan ayah sudah pergi lagi?" lisa bertanya pada pelayan wanita dirumahnya yang sedang menghidangkan beberapa makanan untuknya.
"iya non, tadi pagi sekitar pukul setengah lima dini hari" pelayan tersebut kembali ke dapur dan meninggalkan lisa yang tengah menatap kosong ke arah makanan yang ada didepannya.
Lisa menghela nafasnya sebelum menuangkan air putih ke dalam gelasnya, "selalu saja begini! Apakah mereka tidak memperdulikanku?! Berpamitan saja tidak!"
Lisa memang sering ditinggal ke luar negeri oleh orangtuanya dengan alasan pekerjaan, lisa mengerti bahkan sangat mengerti, tapi dia tidak butuh uang hasil kerja orangtuanya, yang lisa butuhkan adalah kasih sayang, hanya kasih sayang, tidak lebih.
Melewati hari harinya yang ditemani dengan pelayan pelayan rumahnya, mungkin bisa menghilangkan sedikit rasa kesepiannya, tidak sepenuhnya. Andaikan dia memiliki saudara yang bisa menemaninya, mungkin tidak akan seperti ini.
Lisa memasuki mobilnya dengan tidak bersemangat, mulai menyalakan mesinnya, berjalan meninggalkan kediamannya dengan perasaan yang kacau.
Ia mengendarai mobilnya pelan, karena masih pagi dan kemungkinan di sekolahnya masih sepi, jadi lisa memutuskan untuk pergi ke taman kota terlebih dahulu, sambil menghilangkan rasa sedihnya.
Duduk diatas kursi yang berukuran dua meter dengan kaki yang ditekuk kebawah dengan tangan yang berada di kedua sisi kakinya, menatap rumput hijau di bawahnya sampai liquid bening berhasil lolos dari matanya yang kemudian mengalir melewati pipinya.
"hikss, mengapa? Mengapa mereka tidak memikirkanku? Hiks, apakah pekerjaan lebih penting daripada anaknya yang malang ini?! Hikss." lisa terisak cukup keras.
sampai seseorang datang dan menepuk pundaknya lalu duduk disampingnya tanpa permisi dengan menyodorkan sapu tangan berwarna biru muda dengan motif kotak kotak, "berhentilah menangis."
Lantas lisa menengok kearah sampingnya, "kau? kenapa disini?" sambil menerima sapu tangan yang sedari tadi disiapkan oleh pemuda disampingnya ini.
Jungkook menatap lisa intens, "bukankah aku yang harus bertanya, Kenapa kau bisa disini, sendirian lagi?"
"hanya menghilangkan sedikit rasa sedihku" ucapnya dengan menghampus sisa airmatanya.
Jungkook berdiri dengan menarik tangan lisa yang berhasil membuatnya ikut berdiri juga, "ya sudah, daripada berlarut larut dalam kesedihan, lebih baik kita bersenang senang!"
Lisa menatap jungkook seolah bertanya, "bagaimana caranya?", seakan tahu pertanyaan yang ada dalam benak lisa, jungkook menjawabnya, "mari ikut aku!"
Lisa berlari mengikuti jungkook yang masih setia menggandeng tangannya sejak beberapa menit yang lalu, menyusuri hamparan bunga mawar merah yang sangat banyak membuatnya lebih merasa tenang.
Jungkook berhenti tiba tiba dan membuat lisa menabrak punggung tegapnya, "hei ada apa?!"
"kau mau es krim?" bukannya menjawab pertanyaan lisa, jungkook malah bertanya balik, tapi lisa segera membalasnya dengan anggukan yang sangat antusias.
Lisa menikmati es krim nya, jungkook tahu jika lisa suka es krim, maka ia segera membawanya ke kedai es krim yang tidak jauh dari area taman.
Setelah menikmati es krim bersama, mereka pergi ke tempat rekreasi, jadi ceritanya mereka itu bolos bareng. Jungkook yang mengajaknya, merelakan satu hari tanpa pelajaran favoritnya demi membuat lisa tersenyum kembali.
Memasuki rumah hantu yang terdapat di tempat tersebut, menyeramkan bagi Lisa tapi tidak bagi jungkook, menyusuri setiap ruangan tanpa cahaya, dengan posisi lisa yang berada dibelakang jungkook dengan tangan yang setia meremas baju bagian belakang milik pria itu.
Lisa membelalakan matanya ketika melihat hantu dengan rambut panjang yang berada didepan wajahnya dan jangan lupakan baju putih yang melekat pada tubunnya, "HEI PERGI KAU! YAKK!! INI SANGAT MENAKUTKAN JUNGKOOK! AKU INGIN KELUAR SEKARANG!!?"
°°
Lisa masih mengatur nafasnya, berusaha menyatukan serpihan jantungnya yang sempat hilang karena ulah dari penunggu rumah hantu menyebalkan itu.
Jungkook tidak bisa menahan tawanya Ketika melihat lisa sedang ketakutan seperti saat ini, "hhahahahaaha, kau sangat lucu, lihatlah wajahmu seperti kepiting rebus, hahahahha"
Lisa memukul lengan jungkook berulang kali, menyalurkan rasa kesalnya, "dasar sialan!" teriaknya yang membuat jungkook menutup telinganya rapat rapat.
"apakah masih takut?" jungkook mendekatkan wajah keduanya, hanya berjarak beberapa sentimeter, lisa menahan detak jantungnya yang tidak stabil untuk saat ini, entah mengapa bisa begini?
"mmm, tidak!" lisa memalingkan wajahnya untuk menghindari kontak mata dengan jungkook yang akan membuat jantungnya tidak stabil.
Jungkook berdiri dan berjongkok sambil menarik tangan lisa lalu berucap, "lis.." Ia berusaha menetralkan nafasnya, "aku ingin kau menjawab sekarang" lanjutnya yang membuat lisa menarik nafasnya kaget.
Jika boleh jujur sebenarnya ia juga memiliki perasaan yang sama dengan jungkook, tapi lebih banyak perasaan jungkook kepadanya daripada perasaannya terhadap Jungkook.
Lantas lisa berdiri sambil menarik tangan jungkook untuk ikut berdiri dengannya, kemudian ia berjalan dengan tangan yang masih menyatu sambil berucap, "iya, aku mau jadi kekasihmu"
Jungkook menghentikan langkahnya ketika mendengar ucapan gadis didekatnya ini, rasa bahagianya muncul seketika, bagaimana tidak? Jika gadis yang ia cintai menerimanya menjadi kekasihnya.
Tapi ia memutuskan untuk menjahili lisa, dengan meletakkan tangannya di telinganya sendiri, "apa? Aku tidak mendengarnya, coba sekali lagi!"
Lisa mendengus kesal dengan lelaki yang sekarang sudah menjadi kekasihnya ini, lantas ia menjijitkan kakinya agar bisa membisikan sesuatu tepat ditelinga jungkook, "AKU MAU JADI KEKASIHMU, JEON JUNGKOOK!"
Teriakan lisa membuat jungkook tersenyum penuh kemenangan dan jangan lupakan orang orang yang ada di sekitar mereka yang tengah menatap bingung dengan apa yang terjadi antara dua remaja yang sedang jatuh cinta tersebut.
Lalu didetik berikutnya, jungkook menarik tubuh lisa kedekapannya, menyalurkan rasa bahagianya, lisa membalasnya.
°°
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.