Sebuah cerita ketika aku berangkat mempelajari kopi di Sulasi, Solok Selatan. Kabupaten terluar dari Sumbar. Keramahan, kesederhanaan, dan ketentraman dapat begitu kental dirasakan bagi siapa siapa yang menginjakkan kaki di sini. Daerah ini mempunyai cerita dan kenangan tersendiri bagi kami. Setelah letih dengan hingar bingar perkotaan, aku dan dua temanku memutuskan untuk menepi sejenak, mencari ketentraman. Sulasi-lah langkah membawa kami. Berniat untuk mempelajari kopi dan marquisa dari petani-petani setempat.
.
Kami bertemu dengan keluarga Pak Parman, sebuah keluarga sederhana yang masih asri merawat ladang dan sawah mereka. Ibu dan istri pak Parman dengan hati terbuka meminta kami untuk tinggal di rumah mereka. Hangat keluarga, Tulusnya cinta di perlihatkan jelas oleh mereka.
.
Mereka mengajarkanku tentang sebuah ketaatan, kesabaran, dan keteguhan dalam merawat kopi. Ada begitu banyak hal yang di ajarkan oleh mereka. Kadang, mereka mengeluh dengan tidak lakunya kopi buatan rumahan yang sudah diinjak-injak oleh kopi pabrikan besar yang mengambil pasar mereka. Ini membuat hatiku tersentak sekaligus iba dengan keadaan yang menimpa Pak Parman. Namun, mereka tetap teguh merawat kopi. Meski sudah tahu bahwa berjudi dengan para raksasa itu sama saja mencari kalah.
.
Terima kasih atas cintanya. Salam hormat, jangan ada lupa di antara kita.
.
Nyatanya, negeri ini masih terlalu luas untuk di telusuri. Negeri ini terlalu kerdil bila yang dilihat hanya kota-kota besarnya saja. Sebab, harta karun sesungguhnya ada di sini; dihati. Di desa-desa, tempat dimana ada banyak cinta dan kehangatan.
.
Negeri ini terlalu sibuk, yang tua sibuk debat politik, yang muda sibuk debat idealis. Yang alim sibuk debat halal dan haram, yang aktivis sibuk analisis dan koar-koar tentang teori dan isme-isme yang menurut mereka keren. Sementara tingkat kebaikan sedang terjun bebas menuju dasar.
