Di sebuah November,
Dua ribu Tiga Belas.
Lima tahun dari detik ini.
Kau menangis,
Langit?
Titik-titik air meleleh di awanmu,
Menghujam tanah sepagi ini,
Seolah menyalahkan bumi.
Petirmu membelah jantung,
Menampar kesombonganku sendiri.
Langit,
Supaya penghuni di balikmu mendengar.
Bahwa aku meronta.
Tersakiti menunduki manusia terbaikku.
Sendiri bersama senyap, Aku tak setangguh yang ku kira.
Bergetar menahan kecamuk dan deru,
Sekelibat kegelapan memelukku dari belakang,
Mencekik sanubariku.
Tegakku gontai,
Ada semacam amarah yang tertahan di ubun.
Kepalanku kian kuat.
Aku berjudi.
Berjudi dengan Tuhan.
Ia terbaring bisu.
Ialah kesemogaan yang selalu
kupaksakan dalam ketidak setujuan takdir.
Kau merenung,
Langit?
Kau berhembus begitu pelan dan lembut
Seolah mengusap mataku yang menangis,
Mengasihi diriku,
Lembutmu menusuk tulangku,
Sunyimu menyayat relung.
Membungkam amarahku.
Aku ingin ikut bersamanya pergi.
Sudi, kau tuntun kemanapun kau mau.
Tuhan;
Saat itu,
Ketika engkau memanggilnya pulang,
Aku berada disampingnya.
Tersisih di deru tangis keluarga.
Aku kosong,
Merasa tak ada siapa, atau apa, atau mengapa.
Aku ingin saling berebut denganmu, dan lupa bahwa nyatanya dia milikmu.
Kasih;
Saat itu,
Aku terlalu muda untuk sebuah kepergianmu.
Rupanya, ia datang tanpa permisi
Pulangpun tanpa pamit.
Rupanya, Aku juga akan di datanginya
Esok,
Atau mungkin lusa.
Kita disambarnya seperti elang memburu ikan.
Ia adalah Maha Perencana,
segala kebaikan dan penolong.
Saat itu,
Aku patah sepatah-patahnya.
Pergimu, Mengguncangku.
Aku bisa apa?
Selain menunduk dalam cenung?
Pergimu, terlalu berat untuk orang semudaku.
Aku bisa apa?
Selain marah dan mengiba?
Ikhlas itu “teori”
“Rela” itu seperti berhati batu.
Namun perjalanan adalah perjalanan,
Meski aku harus melolong.
Mungkin kau terlambat menghadiri kedatanganku di bumi,
Tapi aku berada di sana tepat ketika kau meninggalkan bumi,
Aku benar-benar berada di sana dan menangis,
Aku berada di sana sendiri,
Menyaksikan nafas terakhirmu,
Tanpa pamit, tidak seperti sebelum aku bertualang,
Tanpa melambaikan tangan, tidak seperti sebelum aku menyusuri perjalananku,
Kasih, Kita tak pernah berjarak.
Kasih, tapi kali ini mungkin kita berpisah. Tanpa jarak, juga tanpa waktu.
Kasih, titip salam untuk Tuhan.
Tuhan, Aku mohon titip kasih.
Untukmu yang tanpa jeda,
(Kekasihmu.)
Kerinci, November 2013.
Sayap-Sayap Patah.
