Sinar matahari seakan tak bisa bertoleransi. Sinarnya yang menyengat, seakan membakar siswa-siswi kelas 12 IPA3 yang saat ini sedang berlari memutari lapangan.
Gadis dengan kuncir kuda terduduk, ia lalu mengambil botol air yang dibawanya dari rumah. Diikuti tiga gadis yang langsung merebahkan tubuh mereka diatas semen lapangan.
"Gila.. Pak Muslih kalo nyuruh pemanas suka kelewatan." ucap gadis yang saat ini sedang mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan kanan miliknya.
"Ye.. Mending dikasih olahraga, biasanya kan sih pak Muslih jarang noh ngajak ke lapangan." tutur gadis satunya lagi.
"Iya juga sih.. Woy Dir, bagi minum dong. Gue aus nih." lanjut gadis yang tak lain adalah Naya. Dira lalu menyodorkan botol airnya ke arah Naya. Naya lalu mengambil botol air milik Dira, dan meneguk isinya hingga habis setengah.
"Gue mau.. Ish jangan di abisin." protes Frida saat botol air milik dira sudah hampir habis diminum Naya dan Irene.
"Beli napa. Gak modal banget." ejek Irene.
"Kaya lo modal aja." balas Frida sengit, gadis itu lalu menyambar botol air Dira dari tangan Irene.
"Waw.. Sans mbak." celetuk Bara yang tiba-tiba sudah duduk di samping Dira.
"Apa sih lo, dateng-dateng juga. Minggir sana, gue gak level deket-deket kaos kakinya doraemon." sarkas Frida. Bara melotot, pemuda itu lalu melemparkan batu kecil ke arah Frida, hingga gadis itu terbatuk karena minuman nya meleset.
"Bangsat.. Lo mau buat gue mati." bentak Frida tak terima. Gadis itu lalu bangkit dan menjambak rambut Bara dengan keras.
"Babi, lepasin sakit anjing." teriak Bara, namun tak dihiraukan oleh Frida.
"Rasain lo.. Makan nih jambakan maut gue." ucap Frida. Bukannya melepaskan, gadis itu malah mengencangkan jambakannya, membuat Naya langsung menarik Frida agar menjauh dari Bara.
"Udah Fri.. Lo mau rambut Bara botak." lerai Naya. Namun tak juga dihiraukan oleh Frida.
"Bodo amat.. Salah dia sendiri, pake buat gue keselek, kalo gue mati gimana? Mau tanggung jawab lo pada?." bentak Frida. Mereka semua diam, tak menyangka Frida akan benar-benar marah seperti ini.
"Gue kan becanda, lagian sih lo pake ngegas segala." bela Bara yang masih tak mau kalah.
"LO KAK JADI COWOK NGESELIN SIH BAR? LO PIKIR TINDAKAN LO TADI LUCU? LO BISA BUAT ANAK ORANG MATI TAU GAK." bentak Frida yang langsung membuat Bara bungkam. Ini pertama kalinya untuk mereka melihat Frida yang marah. Biasanya gadis di depan mereka ini selalu bisa membuat suasa menyenangkan karna tingkah polosnya, tapi kenapa dengan Frida saat ini?.
"Fri." panggil Dira lembut, ia ingin meraih tangan Frida. Namun langsung ditepis kasar oleh Frida. Frida lalu bangkit dari duduknya, dan pergi meninggalkan Dira, Irene, Bara, Naya, dan Arka yang hanya diam membisu.
"Frida kenapa sih? Kok dia beda ya hari ini?." tanya Irene pada teman-temannya itu. Namun tak ada satu pun yang menjawab, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
#
"Fri, lo kenapa sih?." tanya Naya yang saat ini sedang berada di kelas. Hanya ada mereka berdua didalam kelas yang saat ini sedang sepi, Frida masih bungkam, bahkan gadis tomboy itu tak melihat kearah Naya.
Naya menghela napasnya lelah, gadis itu lalu menepuk bahu Frida. Mau tak mau, Frida pun menoleh ke arah Naya, tatapan Frida berbeda. Naya bisa merasakan itu, mata yang biasa memancarkan kebahagian itu, seakan meredup. Dengan lembut, Naya mengelus punggung Frida, bermaksud menenangkan gadis tomboy yang ada di sampingnya itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Terjebak FRIENDSZONE
Teen FictionApa jadinya jika sebuah persahabatan berubah menjadi sebuah perasaan? Apa kalian ingin mengungkapkan? Atau hanya diam dalam cinta dan kesakitan yang mendalam?